Staycation With Boss

Staycation With Boss
Ajakan Raline



Sementara itu di salah satu mini market di kota Paris, Raline bersama Eiffel dan Rayyan tampak memilih-milih mana yang hendak dibeli. Selain itu, esok mereka juga akan bersiap untuk meninggalkan Paris menuju ke London. Sehingga, Raline berpikir membeli roti untuk sarapan esok pagi sekaligus.


"Eif, beli roti sekaligus untuk besok pagi," kata Raline.


"Aku malas, Line. Lagipula, di London nanti aku akan kembali berlatih balet. Harus ke berat idealku," kata Eiffel.


Menjadi balerina memang tidak mudah. Selama kondisi Paris tidak kondusif, Eiffel juga mengalami kenaikan berat badan. Oleh karena itu, ketika di London nanti dia berkeinginan untuk mengembalikan berat idealnya dan kembali menjadi balerina. Diam-diam Rayyan yang mendengarkan menjadi heran, apakah hanya untuk menari seseorang harus menahan lapar dan mendapatkan bentuk badan terbaiknya? Walau begitu, Rayyan tidak berbicara apa pun. Pemuda itu memilih diam.


"Ray, ayo kita kuliah sama-sama di London. Kamu sudah sehat bukan?" ajak Raline sekarang kepada Adiknya.


Secara fisik memang Rayyan sangat sehat. Pemuda itu tidak lemah dan sebagainya. Terlihat sangat sehat dan juga sakitnya tak terlihat. Semua itu karena yang bermasalah adalah ingatan Rayyan. False memori yang dideritanya membuat pemuda itu seolah masih menginginkan masa lalu.


"Kamu sakit?" tanya Eiffel kemudian kepada Rayyan.


Rayyan tampak diam. Namun, Raline yang kemudian memberikan jawaban. "Badannya sehat, pikirannya yang sakit," balas Raline.


Sekarang Eiffel tampak membelalakkan matanya. Apa sebenarnya yang dikatakan Raline? Kenapa Rayyan bisa memiliki badan yang sehat, tapi pikirannya yang sakit?


"Ha, kamu tidak gila kan?" tanya Eiffel.


Dengan cepat Rayyan menggelengkan kepalanya, sementara Raline malahan tertawa ketika sahabatnya itu mengira bahwa Rayyan gila.


"Iya, gila kok." Raline menjawab demikian.


"Kakak, enggak yah," sahut Rayyan.


"Lalu, kamu sakit apa?" tanya Eiffel setelahnya.


"Jawab, Ray."


Raline meminta Rayyan untuk menjawab. Sebab, Rayyan juga harus jujur dengan kondisinya. Apalagi Raline sendiri berharap bahwa Rayyan dan Eiffel bisa memiliki hubungan yang baik. Walau terpaut dua tahun, tidak masalah.


"False memori. Ada ingatan di masa lalu yang kembali datang. Rasanya kadang hidup sudah di masa kini, tapi ingatan itu kembali ke masa lalu," balas Rayyan.


Eiffel mendengarkan ucapan Rayyan. Sekaligus baru tahu ada sakit yang berkenaan dengan pikiran seseorang. Eiffel tentu berharap bahwa sakitnya Rayyan itu juga semakin membaik.


"Ikhlaskan masa lalumu itu. Kalau memang tidak bisa kamu gapai, biarkan saja di belakangmu. Jangan mencoba menggapainya di masa kini. Sebab, momennya sudah berlalu. Bisa saja hal itu sudah dipunyai, sudah dimiliki orang lain sekarang."


Eiffel mengatakan semua itu dengan pemikirannya yang logis. Menurut Eiffel tidak ada cara lain, selain ikhlas. Kalau sudah ikhlas, tidak akan ada lagi ingatan yang tertukar dan bisa menerima masa lalu dengan pahit dan manisnya. Hanya dengan itu saja diri kita di masa kini juga semakin didewasakan.


"Nah, yang dikatakan Eiffel benar itu, Ray. Kakak ipar sudah menjadi milik Kakak Raka juga. Dia sedang mengandung sekarang. Biarkan Kakak ipar bahagia," balas Raline.


Eiffel mendengarkan hal itu. Mungkin saja yang terjadi adalah Rayyan menyukai istri kakaknya sendiri. Sehingga sekarang Raline mengatakan demikian. Walau begitu karena bersangkutan dengan masalah pribadi dan tentunya masalah keluarga, Eiffel tidak akan berkomentar terlalu banyak.


Sementara Rayyan terdiam ketika Raline berbicara. Bukannya Rayyan tidak mencoba ikhlas, tapi Rayyan sudah berusaha ikhlas. Namun, semakin dia mengikhlaskan Adista, hatinya justru semakin sakit. Perasaan memang aneh, Rayyan sendiri juga merasa tidak ada lagi kesempatan lagi untuknya.


"Aku sedang cuti, Kak. Sudah tertinggal beberapa bulan juga," balas Rayyan.


"Tidak masalah. Kan bisa mengikutinya. Melanjutkan saja. Perkuliahan di luar negeri jauh lebih fleksibel. Kamu kan cowok, bisa melindungi kami berdua," balas Raline lagi.


Eiffel tersenyum. Yang dikatakan Raline ada benarnya. Cowok, sekali pun dia adalah adik, tapi cowok tetap bisa melindungi. Sama seperti yang Raline pinta. Eiffel juga merasa lebih aman di Jakarta dulu kalau bersama dengan Kakak-kakaknya.


"Kalau tidak mau jangan dipaksa, Line. Kita bisa memaksakan kehendak orang, sekalipun dia adalah saudara kandung kita sendiri," balas Eiffel.


"Aku hanya mencoba mengajaknya sih. Walau keputusan terakhir tetap di tangan Rayyan. Siapa tahu, London menjadi tempat yang tepat untuk menyembuhkan lara hati," balas Raline.


Eiffel tersenyum lagi dengan pemikiran dari sahabatnya itu. Semoga saja benar bahwa tempat dan suasana yang baru bisa untuk menyembuhkan rasa sakit hati yang tertinggal di dada. Memang membutuhkan waktu, tidak serta-merta sembuh begitu saja.


"Apa pun, ajakan dari Raline ada benarnya. Semangatlah untuk melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Masa depan dengan kisahnya yang lebih menarik sudah menunggumu," balas Eiffel.


Usai itu, ketiganya kembali ke unit mereka. Raline dan Eiffel melanjutkan nonton bersama, sementara Rayyan kembali ke unit kakaknya.


"Kok sendirian, Ray?" tanya Mama Erina kepada putra bungsunya itu.


"Kak Raline lanjut nonton sama Kak Eiffel, Ma. Rayyan pulang aja. Malu ngikutin cewek-cewek," balas Rayyan.


Mendengar jawaban Rayyan, Mama Erina malahan tertawa. Setelah itu, Mama Erina mengambil tempat duduk di sisi putranya itu.


"Ya, kalau main tidak apa-apa. Raline kan Kakakmu, Eiffel juga berarti kakakmu kan. Seusianya seperti Raline. Kamu sendiri bagaimana Ray? Sudah membaik setelah melakukan terapi?" tanya Mama Erina.


"Sudah membaik, Ma. Kepala Rayyan juga tidak terlalu pening."


"Syukurlah, Ray. Kalau begitu rencana apa yang ingin kamu ambil ke depannya?" tanya Mama Erina.


Sekarang Mama Erina memposisikan dirinya sebagai seorang teman, seorang sahabat untuk putranya itu. Sering mengajak Rayyan berdiskusi untuk mengetahui pikiran putranya. Selain itu, Mama Erina juga tidak pernah memaksa Rayyan, Mama Erina tahu harus melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda.


"Ma, apa Mama setuju kalau Rayyan sebaiknya memang mengikhlaskan masa lalu?" tanyanya.


"Sebaiknya memang begitu, Ray. Hanya dengan keikhlasan di dalam hati, memperingan langkah kaki kita di masa kini dan masa yang akan datang," kata Mama Erina.


Rayyan kemudian menatap Mamanya sebentar. "Jadi, Rayyan harus mengikhlaskan Tata yah, Ma?"


"Iya, Ray. Ikhlaskan. Adista sudah bahagia bersama Kak Raka. Tak lama lagi anak mereka juga akan lahir. Biarkan keduanya bahagia bersama. Ada sosok lain yang bisa mengisi hatimu dan memberikanmu kebahagiaan yang baru," kata Mama Erina.


Rayyan terdiam. Sekarang, pemuda itu sekarang mengusap perlahan wajahnya."Ma, Rayyan ingin mengikhlaskan Tata."


Akhirnya ucapan itu terlontar juga dari bibir Rayyan. Mama Erina tentu sangat senang. Dengan demikian, hubungan Rayyan dan Raka juga akan dipulihkan. Mama Erina menyambut baik keinginan putra bungsunya itu.