
Jujur Adista merasa tidak enak hati ketika Raka mengatakan hatinya terasa sakit ketika Adista berbicara dengan Rayyan. Bukan maunya juga, tapi memang ketika berada di rumah sudah pasti Rayyan akan berusaha mencarinya dan mengajaknya berbicara. Selain itu, beberapa kali terjadi perbincangan yang tidak nyaman untuk Raka dan Rayyan.
"Kita turun, ini apartemenku," kata Raka.
Akhirnya Adista mengekori suaminya itu berjalan dari parkiran basement dan menaiki lift menuju lantai di mana unit milik Raka berada. Sebenarnya Raka ingin Adista lebih kenal dan dekat dengan keluarganya dulu, sembari menunggu rumah baru yang Raka siapkan sudah selesai dan bisa ditinggali. Akan tetapi, semua rencana harus berubah karena Rayyan yang terlihat masih berusaha keras mendapatkan Adista.
Beberapa kali Raka bisa menyadari dia memang menjadi orang ketiga di antara Rayyan dan Adista. Akan tetapi, Raka menyadari bahwa dia adalah suami yang sah. Oleh karena itu, Raka berusaha untuk mempertahankan Adista.
Pernikahan tanpa cinta sebenarnya bukan masalah besar asalkan tidak ada orang ketiga. Namun, semua cerita bisa berubah dan rumah tangga akan hancur karena orang ketiga. Sementara, Raka ingin pernikahan dengan Adista ini berlangsung serius, walau dia masih harus menunggu tidak apa-apa.
Akhirnya lift terhenti di lantai 9. Terbilang tinggi, dan Adista kemudian mengikut Raka lagi memasuki sebuah unit di lantai itu. Sebagaimana apartemen, terlihat layaknya kamar hotel. Selain itu, ukurannya tak terlalu luas karena itu memang apartemen untuk single. Luas ruangannya juga tak terlalu besar.
"Ini apartemenku. Kita akan tinggal di sini dulu," kata Raka.
Adista menganggukkan kepalanya. Sementara Raka melepas jas dan dasinya terlebih dahulu. Kemudian, pria itu mencuci tangan dan kaki ke kamar mandi. Raka ingin hanya menggulung lengan kemejanya dan duduk di sofa yang jaraknya tak begitu jauh dari ranjang.
"Tidak ada pakaian ganti untukku di sini, Pak?" tanya Adista.
Raka kemudian menatap Adista, seakan ada saliva yang dia teguk sendiri. Tidak memungkiri semua itu karena sesungguhnya Adista memiliki bentuk badan yang bagus. Walau tak terlalu tinggi, tapi ada lekuk-lekuk feminitas yang terlihat indah.
"Kamu tidak mengenakan pakaian ganti sebenarnya aku tidak masalah," kata Raka.
Bukan bermaksud nakal, tapi setiap kali bersama istrinya di ruangan tertutup iman Raka seperti goyah. Hasrat hati begitu mendamba, apa daya Raka masih harus menahan.
"Duduklah di sini dulu," pinta Raka.
Adista menuruti permintaan suaminya. Kemudian dia mengambil tempat duduk di sisi Raka. Dengan beberapa centimeter jarak di antara mereka.
"Kamu sudah lama mengenal Rayyan?" tanya Raka.
"Sudah," jawab Adista.
"Waktu apa?"
"Pertemuan tidak sengaja di pameran La Plazza Hotel. Hingga akhirnya, aku mendaftar di La Plazza, hanya beberapa kali bertemu, dan Rayyan berpamitan ke London," balas Adista.
Raka menganggukkan kepalanya. Dia bisa menerka kapan waktu itu terjadi. Saat itu, Raka memang masih tinggal di Amerika, menyelesaikan S2 Bisnis Perhotelan di sana.
"Lalu, jadian dengan Rayyan?" tanya Raka lagi.
"Iya, jarak jauh."
"Pacaran kalian seperti apa?" tanya Raka lagi.
"Tidak kenapa-napa, kan jarak jauh. Jakarta dan London. Tidak pernah bertemu lagi setelah itu," balas Adista.
Raka menganggukkan kepalanya. Kalau pacaran jarak jauh, pacaran virtual seharusnya memang gaya pacaran keduanya tidak terlihat aneh-aneh. Namun, terus membangun komunikasi supaya hubungan itu tidak putus.
"Sepulang dari Lombok," jawabnya.
Sekarang air mata berlinang dengan sendirinya di sudut mata Adista. Teringat waktu dia memutuskan Rayyan secara sepihak. Selain itu, Adista juga mengatakan bahwa dia akan menikah untuk pria lain. Sakit itu kadang masih terasa.
"Jadi, aku yang menjadi orang ketiga di antara kamu dan Rayyan?" tanya Raka.
Adista diam, dia tidak memberikan jawaban sama sekali. Menjadi orang ketiga atau tidak, sebenarnya sekarang tidak masalah. Sebab, semua hubungan juga pada akhirnya akan berubah.
"Sudah Pak, wawancaranya?" tanya Adista dengan menyeka sendiri air matanya.
Lucu memang, tapi perbincangan itu justru terdengar seperti wawancara atasan kepada bawahannya. Belum bisa berbicara hati ke hati atau sharing layaknya seseorang yang memiliki hubungan yang baik.
Raka menggelengkan kepalanya, dia mendekat dengan Adista, sementara Adista tampak canggung ketika didekati oleh suaminya. Namun, ketika ingin pergi rasanya juga sangat tidak sopan.
"Bolehkah aku menganggap hubunganmu dan Rayyan telah usai? Selanjutnya aku akan masih menunggu, Dista. Jangan pernah berharap bahwa aku akan memutuskan pernikahan ini," kata Raka.
"Kalau menunggu, dan aku belum membereskan perasaanku?" tanya Adista.
"Ambil waktu yang kamu mau. Jangan terlalu lama. Sebagai pria, kamu tentu juga tahu kalau aku mendambakan istriku sendiri," kata Raka dengan jujur.
Adista kemudian melirik Raka yang duduk di sampingnya. "Pak Raka emang gak terbiasa main-main di luar sana?"
"Gak semua pemuda yang tinggal di luar negeri seperti itu. Kamu saja terlalu berpikiran kalau aku ini orang yang jelek dan jahat," balas Raka.
Adista diam. Sebenarnya juga Bossnya itu tidak jahat. Buktinya operasi Desta semuanya dibiayai Raka. Selain itu, Raka juga tanggung jawab untuk semalam di Lombok dulu. Hanya saja Adista yang memang menata hatinya.
"Kalau perasaanmu dengan Rayyan sudah beres, beritahu aku," kata Raka.
"Semoga lebih cepat beres," balas Adista.
Raka kemudian membawa satu tangannya merangkul Adista dengan tiba-tiba. Raka memang tidak meminta izin tiap kali menyentuh istrinya. Dia berpatokan bahwa keduanya sudah menikah, jadi tidak perlu meminta izin.
"Mungkin bagimu, aku ini arogan. Kamu saja yang belum mengenalku. Semoga saja tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan. Aku bisa tak tahan."
Tiba-tiba Adista merasakan dadanya berdebar-debar mana kala mendengar perubahan suara suaminya itu. Itu adalah suara yang parau dan dalam. Bukan hanya rangkulan, Raka sengaja juga mengecupi puncak kepala Adista. Sementara, Adista tak bergerak sama sekali. Dia membeku di tempatnya. Hanya sesekali memejamkan matanya ketika mendapatkan kecupan dari suaminya itu.
"Apa aku harus puas seperti ini saja?" tanya Raka.
Adista diam dan tak memberikan jawaban. Aneh rasanya dan Adista belum membiasakan diri. Setiap kali Raka menyentuhnya seperti ini, bak terjadi hantaran arus listrik di tubuhnya. Adista sampai bingung dengan reaksi tubuhnya sekarang.
"Kalau melakukan hubungan suami istri, ketika perasaanmu belum beres bagaimana?" tanya Raka sekarang.
Sedikit menelisipkan rambut Adista ke belakang telinga, Raka lantas membelai sisi wajah, turun hingga ke dagu. Bahkan sekarang ibu jari dan jari telunjuk Raka mencapit ujung dagu Adista. Ibu jarinya bergerak mengusap perlahan lipatan bibir Adista di sana.
Raka begitu mendamba sebenarnya, tapi dia bertanya mungkinkah melakukan hubungan suami istri ketika perasaan Adista masih belum beres? Apakah itu akan menyakiti hati Adista? Namun, di ruangan tertutup seperti ini membangkitkan hasrat di dalam diri Raka.