
Rajka dengan mantap menggandeng tangan Adista. Pria itu segera melajukan mobilnya. Bahkan sekarang mobil yang Raka kemudikan melewati Natasha begitu saja. Raka tak menyapa, begitu juga dengan Adista.
Jujur, jika kesal tentu saja Adista merasa kesal. Akan tetapi, Adista tak ingin memasukkan itu ke dalam hati. Terlebih dia sedang hamil, menjaga moodnya tetap baik akan Adista lakukan.
"Kamu terusik, Yang?" tanya Raka perlahan sembari terus mengemudikan mobilnya.
"Sejujurnya iya. Namun, pada kenyataannya aku memang Upik Abu kan, Mas? Faktanya begitu," balas Adista.
"Jangan dimasukkan ke dalam hati yah. Bagaimana pun, aku tidak pernah melihatmu dari latar belakang keluargamu."
Raka mengatakan semuanya itu. Sejak pertama mengenal Adista memang Raka tidak menghiraukan latar belakang keluarga Adista. Ketika membantu Desta untuk operasi pun, Raka melakukannya dengan tulus.
"Apa benar, Mas? Apa benar Mas tidak melihatku sebagai wanita yang menyedihkan?" tanya Adista pelan.
"Tidak pernah sama sekali. Aku tertarik kepadamu. Sampai aku gila dan menawarkan Staycation. Gila kan?" tanya Raka.
Adista melirik suaminya itu. Kadang memang begitulah Raka. Sekarang, Raka sendiri merasakan bagaimana dirinya yang gila karena menawarkan Staycation dengan Adista. Mobil yang dikemudikan Raka sekarang sudah tiba di apartemen. Keduanya kemudian berjalan bersama dan menaiki lift untuk menuju ke unit mereka.
Raka memilih mengganti pakaiannya terlebih dahulu, sementara Adista memilih untuk bersantai sejenak dan meminum segelas air putih. Dalam diam, Adista memikirkan sendiri kadang hidupnya memang seperti Cinderella. Dia yang gadis biasa saja, latar belakang keluarga yang juga biasa saja, sampai akhirnya dipinang pria kaya raya dan dari latar belakang kaya raya seperti Raka. Namun, Adista tidak jatuh cinta karena kekayaan suaminya. Melainkan, Raka yang memiliki kepribadian yang unik, tulus dengan keluarganya, selain itu Raka juga kelihatan menyayangi Desta, adiknya.
Jika cinta tumbuh membutuhkan alasan, memang karakter dan perilaku Rakalah yang membuat Adista jatuh cinta. Dalam tiga bulan menjadi istri Raka, Adista juga nyaris tidak tahu berapa uang bulanan yang diberikan suaminya. Adista juga tidak mempermasalahkannya.
"Kepikiran apa sih?" tanya Raka yang sekarang menyusul Adista yang duduk di sofa.
"Enggak kok," balas Adista.
"Kepikiran ucapannya Natasha tadi? Kan aku sudah bilang jangan dimasukkan ke dalam hati. Kalau dia macam-macam, aku bakalan meminta sekuriti untuk mencekalnya masuk ke La Plazza Hotel," kata Raka sekarang.
"Bukan, bukan karena itu. Aku hanya memikirkan jalan hidupku aja. Ya, benar kayak Cinderella. Aku Upik Abu, dan kamu pangerannya," balas Dista.
Raka terdiam. Dia menatap kedua bola mata Adista dengan kelopak mata yang berkedip beberapa kali. Raka lantas merangkul istrinya itu. Entah, rasanya ucapan Adista itu membuat Raka tidak nyaman.
"Aku bukan pangeran. Aku hanya Raka, tidak memiliki keistimewaan layaknya Pangeran," balasnya.
"Apa cinta cukup untuk menjadikan alasan kenapa Mas Raka selama ini berjuang untukku?" tanya Adista sekarang.
"Sangat cukup. Cinta cukup untuk menjadi alasan utama kenapa aku memperjuangkan kamu. Bahkan cinta itu juga yang menjadi alasan utama bagiku untuk menunggumu, membereskan perasaanmu dengan Rayyan. Kamu ragu?" tanya Raka.
Adista terdiam untuk beberapa saat lamanya. Hingga akhirnya, wanita itu menanyai suaminya lagi.
"Kira-kira di dongeng Cinderella, pangeran itu iba enggak dengan Upik Abu?" tanya Adista.
Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. "Menurut perspektifku, Pangeran tidak iba atau kasihan dengan Ella kok. Justru itu cinta pada pandangan pertama. Cinta itu juga yang membuat Pangeran menemukan Ella dan juga menikahi si gadis malang. Menghapus semua dukanya dan hidup bahagia bersama. Happily after ever."
"Begitu ya, Mas?"
"Iyalah. Aku gak iba sama kamu. Cinta itu menebus dan memberi kebahagiaan. Itu yang coba aku lakukan," kata Raka sekarang.
Mendengarkan Raka mengatakan itu dengan tulus, Adista meneteskan air matanya begitu saja. Kalimat yang Raka ucapkan itu sederhana, tapi penuh dengan makna. Adista bisa merasakan sendiri bagaimana besarnya cinta yang terselip dalam untaian itu.
Raka menunduk, dia seka perlahan buliran air mata yang keluar dari pelupuk mata istrinya itu.
"Hei, jangan menangis," katanya.
"Terharu."
Raka tersenyum sekarang. Masa hanya kata-kata sederhana dan mewakili perasaannya yang sesungguhnya saja sukses membuat Adista menangis.
"Katamu aku nyebelin, terus sekarang malahan terharu," balas Raka.
Adista menganggukkan kepalanya. "Ya, kadang cara kamu berbicara itu nyebelin. Ditambah ekspresi wajah kamu yang ketus dan jutek gitu, tapi kalau berdua sama aku, kamu itu beda," balas Adista.
"Udah jangan sedih. Bumil harus bahagia. Cinderella gak pernah memanfaatkan harta kekayaan sang pangeran. Pun demikian juga dengan kamu yang gak pernah memanfaatkan aku. Itu gaji bulanan dariku sampai enggak kamu pergunakan. Habiskan saja. Kalau habis, tinggal minta dan aku beri lagi," kata Raka.
Adista menggelengkan kepalanya."Enggak, kan semua udah operasional dari Mas Raka. Dosa menghamburkan uang begitu saja."
"Menyenangkan diri sendiri tidak ada salahnya kok. Sekarang kan aku bekerja juga buat kamu, buat baby kita."
"Kalau pas aku minta tolong untuk mengcover operasi Desta itu aku memanfaatkan Mas Raka enggak? Saat itu, yang ada di pikiranku hanya Mas Raka yang bisa membantuku," kata Dista.
"Enggak, itu kamu meminta bantuan. Walau caramu ya gak pinter. Kamu mau aku ajak Staycation. Ya sudah. Walau yang terjadi di Lombok itu benar - benar kendaliku. Yang pasti, anak kita lahir di dalam pernikahan, Sayang. Itu yang terutama," kata Raka.
"Lucu kalau mengingat masa lalu ya, Mas. Astaga, prank tergila ... Sampai sebegitunya yah," balas Adista.
"Ya, andai kamu enggak nangis itu, hm, ya bisa aja. Udah sama-sama polos, Yang. Tinggal menyarangkan bola ke dalam gawang aja," balas Raka.
Sekarang Adista menjadi kesal dengan ucapan suaminya. Hingga diam-diam Adista menggigit dada suaminya itu. Kalau ucapan Raka sudah frontal begitu terdengar menjengkelkan.
"Aw, sakit, Yang ... jangan menggigit to," kata Raka dengan mengusap dadanya.
"Beberapa menit tadi ucapan Mas Raka bikin aku terharu. Sekarang, ucapan Mas Raka bikin nyebelin. Sebel deh," kata Adista.
Setelah itu, Raka malahan tertawa. Dia memeluk Adista sekarang dengan begitu erat. Hingga akhirnya, Adista menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Kalau kaget tentu saja tidak. Memang begitulah suaminya itu. Sehingga, Adista bisa beradaptasi dan menerima suaminya juga dengan seluruh karakternya. Hidup bersama dalam pernikahan tidak mengharuskan seseorang mengubah karakternya. Akan tetapi, mencari jalan tengah untuk menjadi pribadi diri sendiri, beradaptasi, dan saling melengkapi.