
Jika semula Raka mengagendakan untuk pulang ke Jakarta pada akhir pekan, akhirnya Raka baru bisa pulang ke Jakarta setelah hampir tiga pekan berada di London. Bukan sendiri, melainkan Rayyan turut pulang ke Jakarta. Hanya Raline yang tetap berada di London karena Raline menyelesaikan kuliahnya.
Di dalam pesawat udara sekarang Raka terlihat risau. Bagaimana nanti jika di Jakarta muncul konflik baru, sementara Rayyan belum stabil. Rayyan masih menganggap Adista adalah pacarnya.
"Nanti di Jakarta, Kakak tinggal dengan Mama dan Papa kan?" tanya Rayyan.
"Kakak sudah mandiri sekarang, Ray. Kakak tinggal di apartemen," balas Rayyan.
"Wah, Rayyan boleh tidak tinggal dengan Kakak?"
"Sorry, Ray. Kamu harus selalu diawasi Mama dan Papa, sampai kesehatanmu stabil."
Raka mengatakan demikian karena Raka sendiri sudah menikah dan memiliki privasi yang belum bisa Raka bagi dengan Rayyan. Raka memiliki pertimbangan tersendiri karena kondisi adiknya yang belum stabil.
"Jadi, aku hanya di rumah dengan Mama dan Papa?" tanya Rayyan.
"Kadang-kadang Kakak akan ke sana," balas Raka.
Mungkin lebih baik begini dulu. Selain itu, Raka juga berpikir sebaiknya dia dan Adista tinggal di apartemen terlebih dahulu. Satu ruangan persegi bersama. Dengan begitu bisa mengawasi Adista dan mengantisipasi hal-hal lain yang bisa saja terjadi.
...🍀🍀🍀...
Beberapa jam kemudian ....
Pesawat udara yang ditumpangi Raka dan keluarganya telah tiba di Jakarta. Mereka tentu berpisah sekarang. Mama Erina, Papa Zaid, dan Rayyan akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara Raka memilih kembali ke apartemennya. Walau dia harus memberikan pengertian berkali-kali kepada Rayyan.
"Janji, sering main ke rumah yah, Kak," kata Rayyan.
"Iya, kalau Kakak tidak banyak kerjaan."
Raka bahkan memilih memesan taksi, dia hanya tak mau apartemennya juga diketahui tempatnya oleh Rayyan. Walau adik sendiri, berjaga-jaga dirasa Raka jauh lebih baik. Dengan begitu privasi kehidupan pernikahannya juga bisa terjaga.
Hampir satu jam menempuh perjalanan dari bandara menuju ke apartemennya, Raka bahkan menekan bel di pintunya. Sementara Adista yang berada di dalam pun segera menuju ke pintu dan membukakan pintu untuk yang baru saja datang.
"Aku pulang, Sayang," kata Raka dengan mendorong koper miliknya masuk.
Sementara melihat suaminya sekarang berada di depan matanya sendiri, Adista justru menangis. Tiga pekan, tapi rasanya sudah begitu lama. Sampai melihat Raka lagi membuat Adista terisak-isak.
"Aku pulang, malahan menangis seperti ini. Aku usai perjalanan jauh, jadi aku mandi dulu yah. Usai ini, aku akan memelukmu," kata Raka.
Pria itu segera menanggalkan sepatu yang dia kenakan, kemudian mulai masuk ke dalam kamar mandi. Walau capek dan jettlag, Raka memilih mandi dan menyegarkan dirinya. Setelah itu, Raka akan menghabiskan waktu dengan Adista yang sudah menahan rindu dengannya.
Masih berurai air mata, Adista memilih membuatkan Lemon Tea hangat untuk suaminya. Di kitchen saja, Adista masih tersedu-sedan. Antara tak percaya ketika suaminya sekarang sudah kembali lagi dan berada di sisinya.
Hampir lima belas menit berlalu, barulah Raka keluar dari kamar mandi. Pria itu kini lebih segar dengan mengenakan kaos dan celana pendek saja. Dia segera mendekap sang istri yang sudah begitu lama dia rindukan.
"I really miss you, Sayang," kata Raka.
"Aku pergi tiga pekan, tapi setiap hari kerinduan menghujam jantungku," kata Raka.
Adista masih menunduk dan terisak-isak. Dia juga sangat rindu. Terlebih dua pekan terakhir, dirinya justru sakit. Itu membuat Adista sangat sedih, dia berada di fase membutuhkan suaminya.
Kini, Raka membalik posisi Adista untuk berhadapan dengannya. Dia seka jejak-jejak air mata di wajah Adista, lalu Raka sematkan kecupan hangat di keningnya. Cup.
"Aku sudah kembali ke sisimu. Jangan nangis lagi. Maaf, membuatmu menunggu lama," kata Raka.
Tak membalas, tapi Adista memeluk tubuh suaminya. Wajahnya dia benamkan di dada bidang suaminya. Semua air mata tumpah dan Adista memejamkan matanya. Ada kalanya dia merindukan saat seperti ini, ada Raka yang memeluknya. Semerbak aroma parfum suaminya yang begitu maskulin, dan juga dengan ucapan blak-blakan suaminya. Suaminya itu memang bermulut ceplas-ceplos.
Raka membiarkan istrinya yang menangis di dadanya. Dia tak menolak sama sekali. Raka sendiri juga sangat rindu, rasanya memeluk Adista saja memberikan ketenangan untuknya.
"Kamu rindu padaku?" tanya Raka lirih.
"Tidak," jawab Adista dengan masih menangis.
Raka tersenyum tipis, dan mengusap perlahan puncak kepala istrinya. "Aku sudah kembali. Niat hatiku ingin mengajakmu pindah ke rumah baru kita. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, aku harus menundanya. Aku berpikir apartemen lebih cocok untuk kita sekarang."
"Terserah Mas Raka aja," balas Adista.
"Kamu tidak kecewa kan?"
"Aku lebih kecewa ditinggal tiga pekan ke luar negeri," balas Adista.
Adista hanya berusaha untuk berbicara jujur bahwa dia kecewa ketika ditinggal Raka ke luar negeri. Walau bisa menunggu, untuk Adista rasanya tiga pekan itu rasanya begitu lama. Sementara Raka menganggukkan kepalanya perlahan, dia berusaha memahami perasaan Adista.
"Mas tidak akan pergi lagi kan?" tanya Adista.
"Tidak. Hanya saja ada hari di mana aku harus menginap di rumah Mama dan Papa. Sepekan sekali mungkin," kata Raka.
Tentu saja apa yang dikatakan Raka membuat Adista menangis lagi. Apa yang sebenarnya terjadi hingga suaminya sepekan sekali harus menginap di rumah orang tuanya? Sementara, Raka memang belum bisa bercerita.
"Sudah, jangan nangis. Kamu pasti makin cinta kan sama aku?" tanya Raka.
"Enggak, benci," balas Adista cepat.
Rakq tersenyum lagi. "Tidak apa-apa kalau kamu membenciku. Nanti aku yang akan lebih berusaha membuatmu kembali cinta kepadaku. Walau begitu, aku tidak percaya kamu memelukku seerat ini, tak mungkin kamu membenciku."
Adista terdiam lagi. Yang pasti memeluk Raka seperti ini sangat dinantikan oleh Adista. Pelukan yang hangat, aroma parfum yang segar, dan juga suaminya yang membuatnya jatuh cinta. Sosok Raka yang sukses mengalihkan dunianya, sosok Raka yang membuat Adista membereskan perasaannya sebelumnya dan menerima Raka sepenuhnya.
"Aku bela-belain naik taksi dari bandara ke mari. Aku memilih berpisah dengan Mama dan Papa di bandara. Semua itu karena aku kangen kamu. Sayang ...."
Raka juga tak mengada-ada, dia berbicara dengan jujur sekarang. Bisa bertemu dan memeluk Adista adalah hal yang paling Raka nantikan. Sekarang bisa bertemu, Raka sangat senang. Walau begitu masih ada kisah dan cerita yang harus Raka sampaikan kepada Adista dengan jujur.