Staycation With Boss

Staycation With Boss
Pindah dari Apartemen



Siang hari itu, Adista mendampingi Raka bekerja. Memang sekaligus Raka ingin memberikan bukti bahwa dia tidak macam-macam selama bekerja. Raka juga menjaga hatinya, hanya Adista saja pemilik hatinya.


Akan tetapi, karena Adista sedang hamil ada beberapa saat dia merasa mengantuk. Hormon kehamilan membuat mata Adista terasa berat dan begitu mengantuk. Bahkan Adista bisa tidur di sofa saja. Raka yang sebelumnya serius bekerja, merasa kasihan melihat Adista yang sudah tertidur di sofa yang berada di ruangan kerjanya.


Raka kemudian beranjak dari kursi kerjanya. Pria itu sengaja melepaskan jas yang semula dia kenakan dan menyelimutkannya untuk Adista. Lantas Raka berjongkok sebentar di hadapan Adista, dia belai perlahan kening hingga helai rambut istrinya itu.


"Aku tahu di sini kamu tidak nyaman beristirahat. Terlebih kamu juga tengah mengandung anak kita. Namun, aku juga tidak mau kalau kamu curiga kepadaku. Cintaku memberikan bukti, maka itu yang akan aku berikan kepadamu yaitu memberikan bukti."


Raka bergumam sangat lirih. Pria itu lantas mengecup kening Adista sesaat dan kembali ke tempat bekerjanya. Walau bekerja, tapi sesekali arah pandangnya tampak mengamati istrinya yang masih tertidur. Ibarat kata, tidak apa-apa kalau Adista beristirahat siang di ruangannya.


Menit demi menit berlalu, barulah satu setengah jam kemudian Adista terbangun. Wanita itu bingung kala mendapati jas suaminya yang sekarang dia kenakan sebagai selimut. Mengucek matanya sesaat, kemudian Adista terbangun. Raka segera beranjak lagi dan menghampiri Adista yang berusaha untuk duduk di sofa.


"Ngantuk banget tadi?" tanya Raka.


"Iya, setiap hari kayak gini. Enggak banyak kerjaan rumah yang aku kerjakan, tapi rasanya ngantuk banget," keluh Adista.


Raka tersenyum, dia lantas merangkul istrinya itu. "Mau minum sesuatu? Biar aku mintakan," tawar Raka.


"Enggak usah, aku membawa tumbler berisi air putih kok, Mas."


Raka akhirnya mengambilkan tumbler itu dan membantu Adista untuk minum terlebih dahulu. Usai itu Raka tersenyum lagi. "Mungkin efek hamil baby, jadi lebih mengantuk yah?"


"Hm, iya ... mungkin saja. Padahal sih sebelumnya biasa aja, setelah resign bekerja itu, aku menjadi lebih mengantuk."


Raka mendengarkan cerita istrinya itu. Sembari mengetahui bahwa kondisi tubuh hingga sistem hormonal wanita bisa benar-benar berubah ketika hamil. Sama seperti Adista yang merasa kecapekan setiap hari walau sebenarnya tidak banyak hal yang dia kerjakan.


"Setiap siang istirahat di sini aja, di ruanganku," kata Raka lagi.


"Kenapa aku enggak di apartemen saja?"


"Enggak, aku mau memberikan bukti setiap hari kepadamu kalau aku ini tidak aneh-aneh. Dampingi aku ketika aku kerja."


Seolah terdengar lucu. Dulu, Papa Zaid memilih bekerja dari rumah supaya bisa memberikan perhatian lebih untuk Mama Erina. Sekarang, Raka memilih mengajak Adista untuk terus mendampinginya supaya Adista bisa selalu percaya kepadanya. Ketika cinta dan komitmen membutuhkan bukti, maka inilah jalan yang diambil Raka.


"Kan tidak harus. Enggak enak sama staff kamu loh, Mas. Aku di apartemen saja tidak apa-apa," balas Adista.


"Enggak, pokoknya kamu ikut aku saja. Misal aku ada tugas ke luar negeri atau ke luar kota juga dampingi aku. Aku gak mau kehilangan kepercayaan dari kamu," ucap Raka sekarang dengan sungguh-sungguh.


Adista merasa tidak enak hati mendengarkannya. Sebegitunya suaminya yang tetap berusaha untuk memberikan bukti, supaya kepercayaannya tidak hilang. Adista seolah disadarkan dengan satu hal bahwa dalam cinta dibutuhkan kepercayaan. Pasangan akan merasa senang ketika diberikan kepercayaan, sekaligus kita bisa melakukan uji coba apakah kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik-baik atau tidak.


"Aku akan berusaha percaya kok kepada Mas Raka," balas Adista sekarang.


Raka menatap kedua bola mata Adista, menimbang dalam hati benarkah bahwa Adista benar-benar percaya kepadanya. Setelahnya, Raka berbicara lagi kepada Adista.


Adista berpikir kalau mendampingi beberapa hari atau sepekan ke depan rasanya tidak masalah. Namun, Adista juga tidak mau menempel terus hingga membuat ruang gerak suaminya menjadi terbatas. Adista akan selalu berusaha untuk mempercayai suaminya. Adista tahu risiko untuk setiap tindakannya. Akan tetapi, dengan terus memupuk kepercayaan di dalam hatinya, Adista berharap setiap masalah yang datang nanti bisa mereka hadapi bersama.


...🍀🍀🍀...


Malam Harinya ....


Baru bersantai sejenak di apartemennya, kali ini Raka dan Adista dikejutkan dengan ketukan di pintu unitnya. Keduanya lantas bertanya-tanya siapa yang datang, kalau Mama Erina dan Papa Zaid masih berada di Paris, sehingga tidak mungkin kalau keluarga Syahputra yang datang.


Adista memilih berdiri terlebih dahulu dan melihat siapa yang datang. Betapa kagetnya Adista ketika pintu terbuka dan sosok yang dia lihat sekarang adalah Natasha. Rasa kesal itu seakan timbul dengan sendirinya. Teringat bagaimana Natasha memeluk Raka dan meninggalkan jejak lipstik di kemeja yang Raka kenakan kemarin.


"Oh, hei ... Upik Abu," sapa Natasha dengan begitu centil. Sama seperti sebelumnya Natasha terlihat merendahkan Adista dengan memanggil Adista dengan nama Upik Abu.


Berusaha untuk tidak tersulut emosi, Adista justru tersenyum. Sebab, kalau Adista sampai terintimidasi yang ada Natasha akan kian jumawa. Adista berusaha meladeni sikap Natasha.


"Wah, ini pelakor atau apa yah," balas Adista dengan memutar malas bola matanya.


"Hei, jaga mulutnya yah. Di mana Raka?"


"Ada."


"Panggilkan dong, katakan Natasha ingin bertemu."


Adista membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada setelah itu, Adista menggelengkan kepalanya. "Sorry yah, Natasha ... aku bukan orang yang bisa kamu suruh-suruh. Diblacklist dari La Plazza Hotel rupanya tidak menyurutkan niatmu untuk menemui suami orang yah?"


Natasha terdiam. Rupanya Adista tahu juga perihal dirinya yang tidak diperkenankan memasuki area La Plazza Hotel. Di dalam hati, Natasha merasa kesal.


"Siapa, Sayangku?" tanya Raka yang merasa istrinya itu sudah begitu lama.


"Ini, Mas. Ada yang mengejar-ejar suami wanita lain. Kira-kira namanya apa yah?" balas Adista.


Raka rupanya menyusul hingga ke depan pintu unitnya. Natasha pun tersenyum melihat Raka.


"Ka, aku cuma ngabarin ... aku membeli unit di sini. Satu tower dengan kamu. Dua lantai di atasmu. Kita akan sering bertemu."


Jujur, Adista kesal mendengarkan ucapan Natasha. Seolah wanita itu tak kekurangan akal untuk mengejar Raka. Namun, Adista tak ingin meledak sekarang.


"Gak ngaruh, aku dan istriku juga mau pindah," kata Raka. Usai itu Raka mendaratkan tangannya di pinggang istrinya, dan kemudian berkata. "Ayo Sayang, kamu udah membuatku menunggu terlalu lama. Sudah gak sabar."


Adista tahu itu hanya pura-pura saja, tapi Adista akan meladeni suaminya itu. "Siang tadi kan udah, malam mau lagi. Iya-iya Mas Raka sekarang. Aku tutup pintunya dulu, takut ada yang ngintip dan menginginkan yang enggak-enggak. Apalagi menginginkan suami orang."


Usai itu Raka menutup pintu unitnya. Membiarkan Natasha masih berdiri di sana. Raka berketetapan akan pindah dari unitnya esok pagi. Ketika pelakor mendekat, langkah preventif yang dilakukan adalah lebih baik kabur dan tidak dekat-dekat dengan si pelakor yang bisa memicu keretakan rumah tangga.