Staycation With Boss

Staycation With Boss
Rekonsiliasi



Jika sudah melakukan kontak fisik tidak ada yang seperti Raka. Begitu sudah mencium bibir Adista, Raka melakukannya dengan sepenuh hati. Terlebih dengan Adista yang berada di pangkuannya membuat Raka kian mudah mengeksplorasi. Dia sekarang menenglengkeng wajahnya dan memperdalam ciumannya.


Bibirnya tak segan melakukan pagutan yang dalam dengan napas yang memburu. Seakan Raka tidak bisa berhenti. Melainkan terus mencium dengan sepenuh hatinya. Terlebih sepanjang hari Adista ngambek, membuat Raka serba salah rasanya. Beberapa menit berlalu dan dua bibir masih bertemu, seakan ada dahaga yang meluap-luap di dalam dada.


Sampai pada akhirnya, Raka menarik sesaat wajahnya dan dia mengecup bibir Adista sekarang. Lantas, Raka mengusap perlahan bibir Adista dengan ibu jarinya.


"Masih ngambek?" tanya Raka.


Adista menggelengkan kepalanya. Sekarang, Adista justru memeluk suaminya dengan mencerukkan wajahnya di dada suaminya. Sungguh, suaminya itu begitu pintarnya membuatnya deg-degan. Yah, baru beberapa detik berlalu, dadanya terasa kembang kempis dan juga tubuhnya menjadi meremang. Menurut Dista, suaminya itu memang begitu hobi membuatnya merasakan sesuatu yang tidak menentu.


Dengan reaksi yang ditunjukkan Adista sekarang Raka menjadi tersenyum. Dia menjadi berpikir bahwa mungkin di lain waktu dia akan melakukannya lagi. Sungguh, Raka menjadi lega ketika Adista sudah tidak lagi ngambek.


Raka membalas memeluk Adista dengan erat. Dia ingin menunjukan bahwa dia tidak baik-baik saja ketika Adista ngambek dan enggan berbicara dengannya. Jika bisa, Raka ingin setiap masalah yang datang bisa mereka selesaikan bersama dan tidak perlu menunggu waktu lama.


"Kalau kamu tidak bisa menerima budaya Barat yang menyapa orang lain dengan ciuman dan pelukan, maka aku juga tidak akan melakukannya. Sebab, sekarang yang paling berharga untukku adalah kamu," kata Raka dengan sungguh-sungguh.


Raka pikir semua orang bisa menerima. Lagipula, itu hanya sekadar budaya kehidupan di luar. Entah pria atau wanita ketika bertemu akan menyapa dengan memeluk dan memberikan ciuman di pipi. Namun, jika istrinya tidak bisa menerimanya, maka Raka juga tidak akan melakukannya. Sebab, yang berharga untuk Raka sekarang adalah Adista.


"Mungkin itu kebiasaan di luar negeri sana. Di Amerika, tapi aku tidak terbiasa," balas Adista kemudian.


Raka menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Hanya kamu, Mama, dan Raline yang boleh memeluk dan menciumku. Selain itu, tidak boleh," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Kalau memang yang memeluk suaminya adalah Mama Erina dan Raline pastilah Adista tidak cemburu. Adista juga sudah melihat keakraban Raka dan Raline, Adista bisa menerimanya.


"Kamu marah, berarti kamu mulai ada perasaan denganku?" tanya Raka.


"Aku tidak tahu, cuma aku gak suka aja melihatnya. Terlebih dia yang beberapa menyentuh lenganmu saat berbicara. Emang gak bisa berbicara tanpa menyentuh-nyentuh?" tanya Adista.


"Dalami perasaanmu ya, Sayang. Bisa saja itu adalah perasaan cinta. Kebersamaan kita ini sangat memungkinkan untuk menumbuhkan cinta. Kalau aku sudah jelas memiliki perasaan terhadapmu, tinggal kamu," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya lagi. Benar yang suaminya sampaikan bahwa dia harus mendalami perasaannya lagi. Benarkah dia mulai mencintai suaminya itu. Walau memang tak menutup kemungkinan bahwa cinta bisa hadir karena terbiasa.


"Apa mungkin cinta bisa hadir secepat itu?" tanya Adista.


"Ya, bisa saja. Cinta bukan berarti membuat dadamu berdebar-debar, cinta juga bisa datang melalui rasa cemburu. Banyak rupa-rupa cinta. Kamu hanya perlu mempertegas lagi," balas Raka.


"Kalau Mas Raka sendiri cintanya yang apa?" tanya Adista.


"Aku tertarik kepadamu, Dista. Sejak bertemu, kamu berbeda dengan wanita yang lain. Kamu bekerja juga sangat baik, melakukan lebih dari apa yang diminta perusahaan. Ya, aku mengakui salahku mendekatimu dengan cara yang salah. Aku mengajakmu Staycation bersama. Bukan untuk menidurimu, bukan ... aku ingin lebih mengenalmu. Namun, saat kamu yang datang sendiri kepadaku, bukan salahku jika ingin kenal dan menjajaki hubungan denganmu," cerita Raka dengan panjang lebar.


Raka tersenyum. Dia tak menampik karena memang sudah melihat Adista dengan jelas dalam kepolosan. Sudah nyaris membobol gawang juga. Hanya saja semua terhenti karena Raka tidak tega melakukannya ketika Adista berurai air mata. Padahal kala itu Raka yakin bahwa beberapa hentakan lagi, pastilah bola bisa bersarang di dalam gawang.


"Anggap saja cintaku adalah dengan menahan diri itu. Namun, setelah merasakan sendiri dan nagih, aku jadi gak tahu apakah bisa menahan diri," balas Raka.


Raka sekarang berbicara jujur. Dulu, sebelum merasakannya sendiri, walau hasrat sudah di ubun-ubun, Raka merasa bisa menahan dirinya. Akan tetapi, begitu sudah merasakan bagaimana nikmatnya, Raka merasa tidak bisa menahan lagi. Semuanya sudah berubah sekarang.


"Emang beda?" tanya Adista.


"Iya, beda. Dulu kan yah biasa saja. Walau hasrat sudah memuncak tinggal mandi air dingin aja, sekarang setelah tahu nikmatnya yang benar-benar gak ada obat, aku gak bisa menahan deh, Sayang."


"Kalau aku periode palang merah dan tidak bisa disentuh bagaimana?"


Adista hanya berusaha menyampaikan fakta bahwa ada periode palang merah yang membuatnya tidak bisa disentuh. Sebab, di masa itu memang harus menunggu sampai benar-benar bersih terlebih dahulu.


"Oh, itu ... biasanya berapa hari?" tanya Raka.


"Bisa sampai semingguan lebih. Tergantung sih," balas Dista.


Raka menghela napas panjang, kemudian berbicara lagi. "Kenapa lama sekali? Masak iya, selama seminggu aku harus mandi air dingin?"


"Main sendiri, Mas," celetuk Dista dengan tiba-tiba.


Raka menggeleng. "Aku tidak pernah main sendiri. Seumur hidupku belum tahu. Takut dosa dan lecet nanti. Kalau sama kamu kan halal. Sama istri sendiri. Bentuk ibadah terindah," balas Raka.


Membayang pusaka suaminya lecet, Adista justru tertawa geli. Apakah iya bisa lecet? Kalau bisa, kenapa banyak pria yang bersolo karir sendiri?


"Kalau lecet, aku kasih hansa-plast nanti yang karakter lucu," goda Adista.


"Hush, kamu itu yah. Membuatku gak keren sama sekali. Ya, sudah. Kalau kamu baru palang merah, aku mandi air dingin aja. Lama juga yah seminggu. Ya Tuhan ...."


Mendengar jawaban Raka, Adista justru kembali tertawa. Namun, inilah fakta dan suami memang harus bisa menerimanya. Memaksakan berhubungan di periode palang merah juga sangat tidak disarankan dan bisa memicu penyakit juga.


"Sorry yah, udah bikin kamu ngambek. Lain kali kalau memang kamu tidak suka, bicara langsung aja. Aku gak keberatan kok. Daripada kamu tiba-tiba ngambek dan diam, aku justru bikin aku frustasi. Kita rekonsiliasi yah, kita baikan lagi yah," kata Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Dia tentu mau berbaikan dengan suaminya. Adista kemudian memeluk Raka lagi. Di dalam hati, Adista juga melihat karakter baru suaminya yang mau meminta maaf dan mau menyesuaikan diri. Tentu ini kian menjadi nilai positif seorang Raka Syahputra di mata Adista.