
Bu Ratih benar-benar bahagia ketika mengetahui bahwa Adista sudah bisa menerima suaminya. Bu Ratih di dalam hatinya mendoakan semoga Adista dan Raka akan selalu bahagia. Menurut Bu Ratih, pria paket lengkap dan baik hati seperti Raka sukar didapatkan. Oleh karena itu, Bu Ratih merasa bersyukur kala putrinya dinikahi pria yang baik.
"Raka dulu lulusan luar negeri ya, Dis?" tanya Pak Gusti kemudian.
"Iya, Pak. Katanya sih dari Amerika, kuliah bisnis perhotelan di sana," balas Adista.
"Kuliah di luar negeri, tapi sama orang tua masih sopan. Itu buktinya kalau Raka memang baik," kata Pak Gusti.
Adista tersenyum di dalam hati sepertinya orang tuanya memuji Raka dan pria itu terlihat begitu baik di mata mertuanya sendiri. Adista merespons dengan menganggukkan kepalanya. Semoga saja Raka selalu baik nantinya.
Hampir dua jam Raka mengajari Desta berenang. Renang adalah olahraga yang memerlukan latihan secara berkala, karena itu Desta juga belum terlalu jago. Harus latihan terus-menerus.
"Mas, aku udah capek," keluh Desta sekarang.
"Ya sudah, istirahat dulu. Keringkan badanmu yah, nanti mandi terus malam nanti kita makan bersama."
Raka juga berjalan ke arah istrinya. Di sana Adista segera memberikan bathrobe kepada suaminya. Dista harus segera menutupi badan atletis suaminya dari mata-mata wanita yang berusaha curi-curi pandang.
"Makasih, Yang," kata Raka.
Raka duduk sebentar dan menetralkan pernapasannya. Selain itu, Desta juga beristirahat. Tampak Desta sangat senang bisa berlatih berenang dengan kakak iparnya itu.
"Lain kali ajarin lagi ya, Mas," kata Desta.
"Boleh, lain kali kalau rumahnya Mas Raka dan Mbak Dista sudah jadi yah. Ada kolam renangnya nanti, Desta bisa berlatih di sana," kata Raka.
"Nak Raka mau pindah rumah, sekarang tinggal di mana? Sama Mama dan Papanya?" tanya Pak Gusti.
"Sekarang tinggal di apartemen, Pak. Nanti kalau rumah sudah jadi, Raka akan mengajak Dista tinggal berdua di rumah baru. Ada kolam renangnya di sana, kalau Desta mau belajar berenang bisa," balas Raka.
"Yeay, Makasih Mas Raka," balas Desta.
Usai itu, mereka membersihkan diri dengan kembali ke kamar. Nanti malam barulah Raka akan mengajak keluarganya makan malam bersama.
"Tadi cewek-cewek liatin badan kamu loh, Mas," kata Adista.
"Cemburu, Sayang?" tanya Raka.
"Enggak, sebel aja."
Raka kemudian mendekap istrinya itu. Dia sebenarnya tahu tadi Adista cemberut kala itu menanggalkan kaos yang semula dia kenakan. Namun, bagaimana lagi kalau berenang memang tidak mengenakan kaos.
"Jangan marah begitu. Yang menjadi pemilik diriku cuma kamu," balas Raka.
"Ya, tapi mereka ngelihatin melulu," balas Adista dengan kesal.
Raka tersenyum lagi. Melihat Adista yang cemburu seperti ini membuat Raka menjadi gemas. Rasanya justru Raka suka saja melihat api cemburu di wajah istrinya.
"Yuk, kita bersiap. Bapak, Ibu, dan Desta pasti lapar. Kita ajak makan bersama," kata Raka.
Akhirnya mereka berdua bersiap-siap. Kemudian Raka mengajak keluarga mertuanya ke restoran yang ada di hotel saja untuk makan malam. Raka sudah memesankan Steak untuk mereka.
"Silakan dinikmati Bapak dan Ibu, Desta juga," kata Raka.
"Ini Steak yah Nak Raka?" kata Pak Gusti.
"Benar, Bapak. Silakan makan sepuasnya. Sudah ada cheff yang melayani kita," balas Raka.
Raka pun terlihat beberapa kali menyuapi Adista. Bu Ratih diam-diam mengulum senyuman di wajahnya. Memang benar hubungan Raka dan Adista sudah membaik, semoga kedekatan dan kebahagiaan keduanya membuat Adista segera hamil supaya Raka makin cinta dengan anaknya itu.
"Kenyang banget, Mas," kata Desta.
"Harus kenyang, Desta. Habis ini bobok yah, istirahat besok kita sarapan bersama," balas Raka.
Usai makan malam, mereka berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Beristirahat terlebih dahulu, selain itu Raka tentunya ingin memanfaatkan momen dengan istrinya. Terlebih ketika menginap di hotel berbintang lima seperti ini sayang sekali kalau tidak melewatkan momen berkualitas dengan istri tercinta. Lebih lagi, Adista sudah selesai masa palang merahnya sehingga Raka bisa menikmati momen indah bersama istrinya.
Belum Raka mendekati Adista, sekarang justru Adista yang sudah memeluk suaminya itu dari belakang dengan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Raka.
"Gak apa-apa, cuma mau peluk kamu aja," balas Adista.
"Peluk yang lama, aku enggak keberatan kok," balas Raka.
Adista tersenyum perlahan. Namun, di saat bersamaan air matanya nyaris jatuh. Sebab, Adista juga tak menyangka bisa menerima dan mencintai suaminya dengan lebih cepat.
"Dalam cintamu ada rasa kasihan untukku dan keluargaku enggak sih, Mas?" tanya Adista. Dia masih menyandarkan wajahnya di punggung suaminya itu.
"Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Yang ada ya murni cinta. Kamu mengira aku mengasihani kalian?" tanya Raka.
"Semula aku berpikir begitu. Keluargaku terlihat menyedihkan," balas Adista.
Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. Dia beralih dan memeluk Adista dengan begitu eratnya. "Tidak ada kasihan dalam cintaku. Aku sayang ke kalian semua, terutama aku cinta kamu."
"Aku kayaknya benar-benar cinta kamu, Mas," kata Adista usai mengecup bibir suaminya.
Ada senyuman tipis di sudut bibir Raka, pria itu senang bukan main terlebih mendengar bahwa Adista benar-benar mencintainya.
"Selalu cintai aku, Sayang."
Mengakhiri ucapannya, Raka lantas memagut bibir Adista dengan napas yang memburu sekarang. Pun dengan Adista yang berusaha mengimbangi ciuman suaminya itu. Ketika Raka memagut bibirnya, Adista juga memagut bibir suaminya. Jika Raka menghisapnya, Adista turut melakukan hal yang sama. Sehingga peraduan dua bibir itu benar-benar menggelora. Saling memagut, saling menghisap, dan memberikan lu-matan dalam kesan hangat, basah, dan basah.
Tak berhenti sampai di sana, kedua tangan Adista refleks menarik ke atas kaos yang di kenakan Raka sehingga sekarang pria itu tampil shirtless di depannya. Tangan Adista dengan lembut membelai bagian dada suaminya, terus turun hingga di perut yang menunjukkan otot-otot yang liat di sana. Merasakan sentuhan telapak tangan yang lembut itu, Raka mendesis dan menengadahkan wajahnya. Sementara Adista sendiri tak menyangka dengan reaksi suaminya yang sampai seperti ini.
"Sa ... yang."
Raka menghela napasnya. Ada de-sahan dalam suaranya yang parau dan dalam. Dia kian menggeram ketika, Adista menjatuhkan kecupan demi kecupan di leher hingga dadanya. Raka tak bisa mendeskripsikan semua ini. Yang pasti semua yang Adista lakukan sukses menyulut hasrat di dalam dirinya.
Bak berusaha menahan diri dan mengalihkan letupan demi letupan yang bergejolak dalam dirinya, Raka mencoba membuka kancing demi kancing di midi dress yang Adista kenakan. Semua kancing terlepas, hingga midi dress itu teronggok di lantai. Dari sana, Raka kemudian membawa istrinya untuk menuju ke ranjang.
Rupanya, Raka kembali mendapatkan kejutan mana kala Adista yang bak memegang kendali malam ini. Ya, Adista masih menjatuhkan kecupan demi kecupan di badannya.
"Astaga, Sayang ...."
Raka terengah-engah, dia bingung harus bagaimana sekarang. Akan tetapi, semua yang Adista lakukan sekarang benar-benar kejutan untuknya. Terlebih ketika Adista bergerak kian turut dan melepaskan kain segitiga dari pinggang suaminya. Adista membuang segitiga itu secara asal. Terlihat sang pusaka yang sudah berdiri di sana.
Adista tak ingin ragu lagi. Dia ingin menyentuh suaminya dengan sepenuh hati, dia ingin menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintai Raka sekarang. Maka, Adista dengan pelan-pelan dan terkesan hati-hati mulai mengecupi sang pusaka. Menjatuhkan jejak-jejak basah di sana. Raka sampai mendongakkan wajahnya, dan melihat sesaat yang Adista lakukan.
"Oh, Sayang ... astaga."
Sapaan Adista kian menjadi-jadi. Dia tenggelamkan pusaka itu dalam kehangatan rongga mulutnya. Kesannya begitu erat, basah, dan juga memabukkan. Dalam tahap ini, Raka hanya bisa pasrah. Dia tak mengira bahwa bisa dan mau memulai terlebih dahulu. Raka seolah terbang melambung ke awan. Yang dilakukan istrinya itu penuh kejutan dan juga menawarkan sensasi yang tiada tara.
"Enough, Sayang. Hh, kamu nakal banget," balas Raka dengan berganti posisi.
Dia mendorong Adista untuk bergantian rebah. Raka tidak ingin egois. Dia akan melakukan hal yang sama untuk Adista. Jengkal demi jengkal epidermis kulit Adista dia kecupi dengan bibirnya. Adista pun menunjukkan reaksi yang sama memanggil nama suaminya dengan mata terpejam.
"Mas Raka ...."
"Ya, Sayang. Panggil namaku ... nikmati, Sayang."
Raka kemudian memberikan sapaan hangat dan basah di lembah yang ada di bawah sana. Adista sangat merasakan terpaan badai di tubuhnya. Dia menggelinjang dan meliuk sensual. Suaminya itu selalu bisa membuatnya kehilangan kesadaran dirinya.
Hingga akhirnya, ketika Adista sudah siap dan basah, Raka menyatukan dirinya dengan disertai hentakan yang kuat. Hentakan yang seketika memenuhi diri Adista. Dia merasa begitu penuh.
"Mas Raka ...."
Adista memeluk tubuh suaminya. Menikmati gerakan keluar dan masuk sang suami yang memenuhi dirinya. Sementara cengkeraman otot di bawah sana benar-benar membuat Raka menggila. Sungguh indah. Walau tak bisa diungkapkan, Raka merasa sensasinya melenakan. Seakan dia mencecap bubuk candu yang memabukkan.
"Can you handle it, Sayang?" tanya Raka dengan suaranya yang terengah-engah.
"Aku coba," balas Adista yang juga terengah-engah.
Raka berguling sesaat, dia rebah sekarang. Sementara Adista mengambil kendali, dengan dibimbing oleh Raka, Adista berusaha menyatukan dirinya. Oh, Raka tersenyum melihat sang istri yang sekarang tidak lagi malu-malu.
"Cantik banget," puji Raka sekarang.
Adista tersenyum tipis, dia belai perlahan dada suaminya. Adista benar-benar menunjukkan sisi dirinya yang tak pernah Raka lihat sebelumnya. Raka menenggakkan punggungnya, dia merengkuh tubuh Adista dan mencium bibir istrinya.
"I Love U," kata Raka.
"I Love U too," balas Adista.
Hingga akhirnya, Adista bergerak mengikuti instingnya saja. Lebih berani dan seolah nakal, Adista melepaskan sendiri pengait di balik punggungnya. Sungguh, itu pemandangan yang tak bisa Raka elakkan. Pria itu kembali menegakkan punggungnya dan mengeksplorasi area dada dan bulatan indah di sana. Mengecupinya, menghisapnya, dan menggigit puncaknya. Suara-suara berpadu de-sahan memenuhi kamar itu, tapi keduanya masih sama-sama memacu.
Sangat indah. Ketika hati sudah dipenuhi dengan cinta. Yang ada hanyalah saling menunjukkan diri dan bahasa cinta dengan perbuatan mereka berdua.
Di atas sang suami, Adista merasa kian lemas. Hingga Raka kembali mengambil alih kendali. Dia berikan hujaman dalam kesan menghentak, luar biasa pria itu seperti tak kehabisan tenaganya. Memasuki laksana meluncur karena lembah di sana benar-benar basah.
"Aku sampai Sayang."
Raka kian menghujam dan menjadi-jadi. Hingga terjadi erupsi volcano yang dahsyat. Dia meledak.
Pecah.
Meletup.
Melambung ke angkasa.
Raka sudah kehabisan daya, tapi tubuhnya meringan dan terdengar dentingan di telinganya sampai rasanya untuk beberapa detik Raka kehilangan fungsi telinganya sendiri.
"Ku harap, setiap bagian dirinya ada yang berhasil berenang-renang di sini dan terjadi pembuahan, Sayang," kata Raka.
"Ya, Mas Raka. I Love U," balas Adista dengan memeluk erat suaminya itu.
Adista pun tak menolak dan siap jika pada akhirnya ada benih sang suami yang pada akhirnya berhasil bersemi. Adista memilih menurut sembari menikmati ledakan yang membuatnya turut hancur berkeping-keping. Melebur menjadi satu bersama bagian sang suaminya.