
Beralih sejenak ke Paris ....
Sekarang keluarga Agastya dan keluarga Syahputra sama-sama menuju ke London dengan menggunakan European Star Train. Sebuah kereta yang menghubungkan London dan Paris, bahkan jarak tempuh dari dua kota berbeda negara ini hanya dua jam saja. Namun, perjuangan mereka untuk sampai di stasiun cukup berat karena ada demonstrasi yang terjadi Paris.
Kali ini warga imigran yang tinggal di Paris yang melakukan demo besar-besar. Aksi demonstrasi pun berubah menjadi tindakan anarki karena ada mobil yang dibakar di sana. Sungguh, pasangan kedua orang tua itu menganggap kota Paris sudah begitu banyak berubah.
"Tidak menyangka kondisinya menjadi seperti ini yah, Pa. Tahun lalu saat kita ke Paris saja masih indah, kota ini masih terasa romantis," kata Mama Sara kepada Papa Belva.
Sebelumnya ketika mengunjungi Paris, atmosfer yang dirasakan bahwa kota itu adalah kota yang romantis. City of Love. Apalagi dengan land mark Menara Eiffel yang memberi kesan penuh cinta ketika mengunjunginya. Bahkan, nama Eiffel itu keduanya sematkan sebagai nama putri tunggal mereka yaitu Eiffel.
"Sekarang kondisinya sangat berbeda yah, Ma?"
"Benar. Dulu kita berjalan kaki menyusuri sepanjang Sungai Rheine. Sekarang yang ada berlama-lama di kota ini membuat kita tidak tenang," balas Mama Sara lagi.
"London agaknya menjadi tempat yang tepat untuk anak-anak menyelesaikan kuliahnya, Ma. Eiffel memilih pilihan yang tepat. Daripada kalau terus di sini, kita malahan kepikiran dengannya," kata Papa Belva sekarang.
Banyak yang didiskusikan pasangan itu. Begitu juga dengan Papa Zaid dan Mama Erina. Sekarang keduanya justru diam-diam mengamati Rayyan. Menerka dalam hati, apakah bisa putranya itu move on dan mendapatkan cinta yang baru.
"Tempo hari Rayyan bercerita dengan Mama bahwa dia ingin melepaskan Adista, Pa," cerita Mama Erina.
Papa Zaid yang mendengarkan cerita dari Mama Erina itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Jika itu benar-benar dilakukan Rayyan, Papa sangat senang, Ma. Selain itu, Papa yakin Rayyan akan bahagia."
"Raka juga akan bahagia, Pa. Kita peduli dengan kebahagiaan anak-anak kita. Kalau Raka juga bahagia, Mama akan sangat bahagia karenanya," balas Mama Erina.
"Kalau itu, Papa juga setuju. Terlebih Raka dan Dista akan memiliki bayi tidak lama ini. Pasti kebahagiaan keduanya akan bertambah. Kita usahakan kembali ke Jakarta saat Adista hamil empat bulan, Ma. Kita adakan Tasyakuran empat bulanan untuk Adista," kata Papa Zaid.
Sebab, memang barulah Papa Zaid teringat bahwa kehamilan menantunya akan menginjak empat bulan. Papa Zaid berniat menggelar Tasyakuran empat bulanan untuk usia kehamilan Adista. Untuk itu, Papa Zaid ingin kembali ke Jakarta setelah semuanya selesai.
"Benar, Pa. Mama sampai lupa," balas Mama Erina.
"Kalau Raline sudah nyaman di London tidak apa-apa. Ada Eiffel juga, biarkan saja. Setidaknya dia tidak kesepian tinggal di sini," kata Papa Zaid.
Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. Memang harus memilah beberapa hal yang memang harus diprioritaskan. Mama Erina juga setuju kalau nanti akan menggelar Tasyakuran di Jakarta untuk kehamilan Adista.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di London. Sebelumnya Papa Zaid dan Papa Belva juga sudah mencari apartemen untuk Eiffel dan Raline sehingga sekarang mereka tinggal menaiki taksi dan menuju ke apartemen.
"Ray, dibantuin tuh kopernya Kak Eiffel," kata Mama Erina sembari berbisik kepada Rayyan.
Siapa tahu Rayyan menjadi peka dan juga menunjukkan kepeduliannya kepada Eiffel. Mama Erina hanya ingin Rayyan peka saja. Kalau pun perasaan itu bisa tumbuh dengan sendirinya, pasti Mama Erina nanti akan senang kalau Eiffel yang menjadi menantunya. Bisa berbesanan dengan keluarga Agastya.
"Biar aku bawakan, Kak," kata Rayyan yang akhirnya membantu Eiffel mendorong kopernya.
"Eh, gak usah, Ray. Ini berat," balas Eiffel.
"Tidak apa-apa, biar aku yang bawakan," balas Rayyan.
Akhirnya, Rayyan yang membantu mendorongkan koper besar milik Eiffel. Sementara Mama Erina senang, walau bermula dari disuruh, tapi setelahnya Rayyan tahu apa yang harus dilakukan. Pria memang harus memahami dan peka dengan wanita. Semoga saja Rayyan nanti perlahan memiliki kepedulian kepada Eiffel.
"Gak apa-apa, aku tungguin," balas Rayyan.
Eiffel menimbang-nimbang dalam hati. Malu sebenarnya dengan Rayyan, terlebih Rayyan itu lebih muda darinya. Akan tetapi, Rayyan sekarang terlihat lebih peduli dengannya.
"Tidak apa-apa emangnya? Tidak merepotkan kamu?"
"Enggak, santai saja kok. Ke toilet aja, aku tungguin," kata Rayyan lagi.
Akhirnya Eiffel menuju ke toilet, sementara Rayyan menunggu. Hingga Raline yang melihatnya meledek adiknya itu.
"Cie, nungguin siapa cie di depan toilet wanita?" tanya Raline.
"Nungguin Kak Eiff, Kak. Dia ke toilet," balas Rayyan.
Usai itu, Raline tertawa dan meledek adiknya lagi. "Ray, kamu kalau seperti ini seperti cowok setia loh, Ray. Kakak doakan kamu segera menemukan pengganti Kak Dista yah. Bahagia itu kamu yang ciptakan, Ray. Kamu pasti akan bahagia."
Raline mengatakan semuanya itu dengan tulus. Kalau Rayyan mau melepaskan masa lalu, mengikhlaskan Adista pastilah Rayyan akan menemukan kebahagiaan. Raline percaya bahwa bahagia akan menghampiri adiknya itu.
"Aku memilih akan mengikhlaskan Tata, Kak," kata Rayyan sekarang dengan jujur.
Raline tersenyum. Menurut Raline apa yang dikatakan oleh Rayyan adalah keputusan yang tepat. Memang sudah sewajarnya untuk Rayyan mengikhlaskan Adista. Sebab, Adista sudah menikah dengan Raka. Sebagai adik, Raline juga menginginkan Kak Raka bahagia, begitu juga dengan Rayyan juga adalah bahagia.
"Bagus, Ray. Itu adalah keputusan yang dewasa. Bagus, Ray," balas Raline.
"Dukung aku ya, Kak."
"Pasti, Brother. Aku akan selalu mendukung kamu. Selama itu adalah hal yang positif, pasti aku akan selalu mendukung kamu kok. Namun, kalau kamu melakukan yang salah, Sorry, aku tidak akan mendukungmu."
Rayyan sekarang menganggukkan kepalanya. Dia juga sangat mengenal Raline dengan baik. Kakaknya itu selalu dewasa dan adil. Bahkan ketika terjadi salah paham dan masalah antara Rayyan dan Raka, Raline memilih berdiri sendiri. Tidak berat sebelah.
"Ray, aku sudah selesai," kata Eiffel yang keluar dari toilet.
"Ya, Kak. Aku masih menunggu kok."
"Yang nungguin jadi dua deh. Duh, aku jadi merepotkan banget yah," balas Eiffel.
Raline kemudian tertawa. "Santai saja, Eiffel. Kami menunggumu. Kami adalah kakak dan adik yang setia."
Eiffel kemudian tertawa. "Aku dengan kakak-kakakku juga begitu, Line. Ada Kak Evan dan Kak Elkan yang selalu jagain aku," balas Eiffel.
"Jadi kesayangan kakak dong?" tanya Raline.
Eiffel kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, ada Kak Evan dan Kak Elkan. Keduanya sayang banget sih ke aku."
Mengatakan itu Eiffel merasa kangen dengan dua kakaknya. Namun, sekarang kakak-kakaknya sudah berumahtangga, sementara Eiffel di London sekarang. Pastilah ada kekosongan yang Eiffel rasakan dan rindu dengan kedua kakaknya.