
Masih dengan saling memeluk, Adista rasanya tak ingin buru-buru melepaskan pelukan suaminya. Terlebih ketika di apartemen dan suasananya lebih intim. Hanya ada mereka berdua dan tidak ada ART sama sekali. Oleh karena itu, Adista masih memeluk suaminya. Bahkan sesekali Adista menghirupi aroma parfum suaminya.
Tak ada keraguan, Adista pun mulai mencium pipi suaminya itu. Tak biasanya Adista melakukan hal demikian, Raka lantas bertanya kepada istrinya itu.
"Kamu pengen, Sayang?" tanya Raka dengan wajah sedikit menunduk guna bisa melihat wajah istrinya.
Tidak langsung memberikan jawaban. Akan tetapi, Adista tersenyum di sana. Lantas Adista mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Raka dengan sponstan. Bagi Raka itu adalah sebuah jawaban yang coba Adista berikan.
Cup.
Usai itu tidak ada lagi yang Adista katakan. Namun, sebagai pria Raka tahu bahwa itulah jawaban yang diberikan oleh Adista. Oleh karena itu, Raka tidak akan mengulur waktu. Dia kemudian mulai segera mencium bibir Adista. Hati Raka melimpah dengan kebahagiaan sekarang. Baginya, inilah yang namanya sebuah bentuk hubungan yang intim dan juga hangat. Bahkan kehangatan itu benar-benar melingkupi hati Raka sekarang.
Raka mulai mencium bibir Adista dengan sepenuh hati. Dia labuhkan kecupan berbalut dengan lu-matan di bibir istrinya. Akhirnya tidak menunggu waktu lama, decakan pun terjadi begitu saja. Keduanya terombang-ambing di dalam perjalanan dari hulu menuju ke hilir. Ada desakan yang seolah menuntun keduanya.
"Mas Raka," suara Adista terdengar dengan sedikit de-sahan di sana.
Sungguh, Adista sangat terbakar dengan cara suaminya menciumnya. Itu adalah hisapan yang benar-benar menyulut dirinya. Disertai dengan lu-matan yang membuat hatinya berdesir. Adista semakin memejamkan matanya. Dia biarkan suaminya, melakukan apa pun yang dia mau.
Ketika Adista sudah tersulut, nyatanya Raka sendiri sudah terbakar. Dia merasakan bagaimana dirinya yang benar-benar sudah merasa panas. Ketika, bibirnya mencium, Raka mengombinasikan dengan sentuhan tangan yang seakan menghantarkan arus listrik kepada istrinya.
"Kita pindah ke tempat tidur yah, biar kamu lebih nyaman," kata Raka sekarang.
Dia hanya ingin Adista nyaman, terlebih dengan kondisi Adista yang sedang hamil tujuh bulan. Mengutamakan kenyamanan Adista adalah prioritas dari Raka. Pria itu pun menggendong Adista ala bridal style. Lantas, Raka menurunkan Adista di ranjang dengan hati-hati.
Dengan pandangan yang mengunci Adista, Raka membawa tangannya perlahan-lahan membuka kancing demi kancing di dress yang Adista kenakan. Sangat hati-hati. Kehati-hatian Raka ini justru yang membuat Adista berdebar-debar. Jika diperlakukan seperti ini, rasanya justru seperti menjadi pengantin baru.
Tidak ingin bersikap pasif, Adista beringsut sedikit duduk, lantas dia menarik ke atas kaos yang dikenakan suaminya. Membuat suaminya itu tampil shirtless di hadapannya. Tangan Adista membelai perlahan area dada suaminya. Dia menatap Raka, entah dari mana Adista berusaha untuk tidak malu-malu di hadapan suaminya. Tangannya bergerak memberikan elusan lembut. Hingga tangan itu berani membelai perlahan pusaka sang suami.
Sebatas meraba saja, Adista tahu bahwa suaminya sudah sangat siap. Ada desisan Raka, manakala merasakan sentuhan Adista yang lembut, tapi sangat menghanyutkan. Bahkan Raka sampai memejamkan matanya.
"Ssshhs, Sayang ...."
Tak ada jawaban dari Adista. Akan tetapi, wanita itu akhirnya memberanikan dirinya melepas sisa-sisa busana di tubuh suaminya. Tidak menyisakan sehelai benang pun. Ditambah dengan Adista sedikit menunduk dan memberikan sapaan di pusaka sang suami.
"Sayang," suara Raka yang serak dan dalam pun mulai terdengar.
Namun, Adista tetap memberikan sapaan dalam kesan yang hangat dan basah. Dia benamkan pusaka itu benar-benar di rongga mulutnya. Bersarang di dalam sana dan merasakan kehangatannya.
Namun, Raka tak mau menjadi pria yang egois. Pria itu menatap Adista, dan memberi isyarat sudah cukup. Maka, Raka membantu Adista untuk rebah, dan dia mulai memuja Adista. Dia raba perlahan bulatan indah milik Adista, meremasnya, mempermainkan bulatan indah itu. Tak sampai di sana, Raka pun memberikan sapaan berupa hisapan dan gigitan di bulatan indah milik Adista.
"Mas Ra ... ka."
Adista memekik. Wanita itu hanya bisa memejamkan matanya, menikmati kecupan, hisapan, bahkan gigitan Raka yang membuatnya benar-benar gila sekarang. Tak hanya itu, Adista bahkan sampai membawa satu tangan suaminya yang lain ke bulatan indahnya. Raka sangat tahu apa yang diinginkan Adista. Oleh karena itu, ketika Raka mencumbu satu bulatan indah, maka tangannya akan memberikan godaan yang serupa di bulatan indah yang lain.
Di dalam hatinya, Raka justru sangat senang ketika Adista benar-benar membebaskan dirinya. Adista menunjukkan sosok yang baru. Tentunya ini juga menandai hubungan baru keduanya.
"Mas ... Raka...."
Suara Adista mengalun indah disertai dengan deru napas yang terengah-engah. Namun, itu justru menjadi lecutan untuk Raka. Dia melakukan semuanya. Tidak akan tergesa-gesa. Semua ini Rakalakukan karena dia ingin melakukan yang terbaik untuk istrinya.
Hingga Raka melakukan invansi terus ke bawah. Sasarannya kini adalah di lembah yang sudah menjadi wilayah jajahannya. Dia menginvansi di sana dengan sapaan hangat dan basah. Lidah yang terus bergerak dan memberikan usapan, tusukan, dan godaan yang benar-benar memabukkan. De-sahan Adista tak menghentikan Raka. Justru dia sangat menikmatinya.
Sampai di batas, lembah di bawah sana kian basah. Maka, menindih Adista dengan hati-hati. Dia mulai merapatkan dirinya, menyatukan pusaka dengan cawan surgawi yang hangat, erat, dan basah. Cengkeraman otot-otot di bawah sana membuat Raka menggeram.
"Astaga, Adista ... Sayang," suara Raka.
Pria itu berusaha untuk bergerak dalam gerakan maju dan mundur. Benturan yang terjadi pun sudah diperhitungkan oleh Raka, karena dia tahu istrinya tengah hamil muda. Tusukan, hujaman, dan pacuan yang diperhitungkan kekuatannya.
Dua jiwa bermuara. Sungguh luar biasa. Tangan-tangan Adista yang mencengkeram punggung suaminya, dan tubuh yang saling berbagi peluh menciptakan atmosfer tersendiri. Sangat indah. Luar biasa rasanya.
Dalam setiap hujaman dan penerimaan Adista, Raka tahu inilah bentuk hubungan yang baru bagi keduanya. Sama-sama tenggelam, tapi tak kehilangan oksigen untuk terus bernapas. Sama-sama terjerembab, tapi mereka selamat. Sama-sama jatuh terperosok, tapi ini adalah jurang kenikmatan.
"I Love U, Sayang."
Raka menuntaskan semuanya dengan memenuhi cawan surgawi Adista. Nikmat dan mantap, dua kata yang membuat Raka meledak dalam kenikmatan yang tiada tara.