
Hari ini, Adista menerima pesan dari Ibunya. Dalam pesan itu mengabarkan bahwa hari ini adalah hari kelulusan Desta dari SD. Untuk bisa lulus dari SD, bukan perjuangan yang mudah untuk Desta. Sebelumnya Desta terbilang sering sakit dan sering tidak masuk sekolah. Akan tetapi, Desta bisa mengikuti Ujian Akhir Nasional hingga akhirnya sekarang berhasil lulus.
[Mbak Dista, hari ini kelulusannya Desta dari SD.]
[Alhamdulillah, Desta lulus dari SD. Akan bersiap mendaftar SMP sesuai zonasi.]
[Doakan Desta sehat selalu dan nanti bisa sekolah SMP lebih baik lagi.]
Sekadar membaca pesan dari Ibunya saja, Dista begitu terharu. Untuk anak-anak yang sehat, sekolah itu seolah berjalan normal. Namun, tidak untuk Desta. Untuk bangun pagi dan sekolah setiap hari saja rasanya penuh perjuangan. Baru di akhir semester, Desta bisa mengikuti pembelajaran dengan rajin. Tidak dipungkiri kadang Desta juga ketinggalan mata pelajaran, tapi dia berusaha untuk mengejar sebisanya.
Usai mendengar kabar baik dari Ibunya, Dista berniat untuk pulang ke rumah. Dia ingin sekadar membelikan kue dan memberikan hadiah kecil untuk adiknya. Untuk itu, Dista mencoba berbicara kepada suaminya terlebih dahulu bolehkah dia mengunjungi orang tuanya sebentar.
Sepulang kerja, Adista pun berusaha berbicara dengan suaminya terlebih dahulu.
"Mas, Adikku hari ini kelulusan SD. Boleh enggak kalau aku ke rumah?" tanya Adista.
Adista juga berusaha mengomunikasikan dengan suaminya terlebih dahulu. Bagaimana pun sebagai istri, dia akan mengikuti keputusan sang suami. Sehingga sekarang, Adista juga bertanya dulu kepada suaminya.
"Kelulusannya kapan emangnya, Sayang?" tanya Raka.
"Hari ini kelulusannya, Mas. Tadi agak sore Ibu mengirimiku pesan whatsapp kalau Desta kelulusan SD. Untuk anak-anak yang sehat, sekolah tanpa halangan itu sangat mudah. Akan tetapi, Desta dulu sering tidak masuk sekolah. Terutama usai cuci darah, dia harus izin tidak masuk sekolah," cerita Adista.
Adista masih mengingat benar bagaimana dulu Desta harus izin sekolah. Lantaran cuci darah, atau kondisi Desta yang tiba-tiba drop. Sehingga Desta memang sering izin saat sekolah. Oleh karena itu, mengingat perjuangan Desta dan sampai akhirnya bisa sembuh tentu itu sangat berkesan untuk Adista.
"Harus sekarang yah?" tanya Raka kemudian.
"Pengennya sih, Mas, tapi istri kan manut suaminya. Kalau enggak boleh hari ini juga gak apa-apa kok," balas Adista.
Raka tampak terdiam sebentar, dia seolah tengah menimbang-nimbang sekarang. Hingga akhirnya, Raka memberikan pendapatnya. Semoga saja kali ini Desta bisa menerima pendapat suaminya itu.
"Kalau Sabtu saja bagaimana, Sayang? Sekarang sudah nyaris malam. Sabtu kita bisa seharian di rumah Bapak dan Ibu. Terus Desta kan lulusan sekolah, kita belikan alat tulis dan hadiah gitu untuk Desta. Bagaimana?"
Adista mendengarkan saran dari suaminya itu. Ada baiknya juga saran dari Raka. Sekarang sudah lebih dari jam enam petang. Kalau main ke rumah juga hanya bisa satu jam saja. Raka juga inginnya membelikan sesuatu untuk kelulusan adik iparnya itu.
"Kamu udah nolongin Desta banget, Mas. Dia bisa sembuh aja pasti sudah senang banget. Desta tidak hanya memiliki harapan hidup, tapi dia benar-benar hidup sekarang. Semua karena kamu," balas Adista.
"Gak juga, karena Allah. Aku hanya membantu. Jadi, bagaimana. Nanti Sabtu, kita ke rumah Bapak dan Ibu. Kamu boleh tanya Desta pengen Tas apa, sepatunya ukuran berapa, terus ada yang dia pengen enggak. Kita belikan hadiah kelulusan untuk Desta."
Adista akhirnya mengikuti saran dari suaminya itu. Memilih menunda sampai akhir pekan nanti, dan mereka akan datang dengan hadiah untuk Desta.
...🍀🍀🍀...
Akhir Pekan Tiba ....
Akhir pekan pun tiba, sekarang Adista dan Raka menuju salah satu pusat perbelanjaan. Yang mereka tuju adalah toko alat tulis untuk membelikan peralatan sekolah yang baru untuk Desta. Raka bahkan turut memilihkan buku tulis, pena, dan beberapa alat sekolah lainnya untuk adik iparnya.
"Buku, pena, pensil, penggaris, lalu apa lagi Sayang?" tanya Raka.
"Tipe-x, Mas. Untuk menghapus kalau tulisan kita salah," balas Adista.
"Oh, iya. Hampir lupa. Desta sukanya tas ransel atau gimana? Kamu pilihin yah," balas Raka.
Mengingat Desta sudah memasuki masa remaja, pastilah tas dengan aneka karakter kartun sudah ditinggalkan. Oleh karena itu, Adista memilihkan tas. ransel hitam saja untuk Desta. Tidak hanya itu, Raka juga membelikan seragam OSIS SMP dan Pramuka kualitas terbaik untuk Desta.
"Sepatunya sekalian, Yang. Biar Bapak dan Ibu tidak perlu memikirkan lagi untuk sekolahnya Desta," kata Raka.
"SMP masih sepatu warior kalau enggak ya hitam putih, Mas," jawabnya.
Adista juga sudah tahu size kaki adiknya, sehingga mereka berdua bisa memilihkan. Bahkan untuk sepatu, Raka juga memilihkan yang bagus walau harganya lebih mahal.
"Kemahalan loh, Mas," kata Adista.
"Tidak apa-apa, semoga lebih awet," balasnya.
Merasakan bahwa suaminya perhatian dengan adiknya membuat Adista merasa tersentuh. Adista juga menilai itu bukan sekadar belas kasihan, tapi Raka benar-benar sayang dan peduli dengan Desta. Sebagai seorang kakak ketika merasakan suaminya sendiri tulus dengan adiknya, pastilah hati Adista merasa tersentuh.
"Bawakan oleh-oleh untuk Bapak dan Ibu juga, Yang," kata Raka.
"Beliin Pizza aja, Mas. Bapak dan Ibu sejak dulu ingin makan Pizza," balas Adista.
Bagi mereka yang kaya raya, Pizza bukanlah barang yang mewah. Namun untuk keluarga Adista yang hidup serba pas-pasan, Pizza menjadi makanan yang mewah dan mahal.
"Oke, baiklah. Aman," balas Raka.
Ketika membayar pun, Raka menolak ketika Adista hendak membayar. Raka yang membayar semua peralatan sekolah untuk Desta. Juga untuk Pizza, Raka yang membayarnya.
"Malahan kamu belikan semua, aku kan punya uang juga," kata Adista.
"Tidak apa-apa. Katamu, uangmu untuk memberi Bapak dan Ibu. Jadi, yang ini biar aku. Mau memberi Bapak dan Ibu berapa terserah kamu," balas Raka.
Adista tersenyum rupanya tidak serta-merta Raka mengeluarkan uangnya. Raka juga memberikan kesempatan untuk Adista memberikan untuk keluarganya sendiri. Semakin mengenal Raka, rasanya Adista semakin salut dengan sosok suaminya itu.
Usai dari pusat perbelanjaan, keduanya segera menuju ke rumah keluarga Adista. Ada beberapa paper bag yang berisi hadiah sekolah untuk Desta. Lalu, ada Pizza yang Raka beli hingga tiga box. Begitu sudah tiba di depan rumah, keduanya berjalan bersama-sama dan memasuki rumah keluarga Adista.
"Assalamualaikum," sapa Adista dan Raka bersamaan.
"Waalaikumsalam," balas Bu Ratih dan Pak Gusti.
Keduanya kemudian dipersilakan masuk ke rumah. Ada Desta juga yang membuat Kakak dan Kakak Iparnya datang ke rumah. Terlihat Desta sangat senang bisa bertemu lagi dengan Kakaknya.
"Mbak Dista, aku lulus loh, Mbak," kata Desta.
"Mbak sudah tahu dari Ibu. Selamat yah, Dik. Oh, iya, Desta dapat hadiah ini dari Mas Raka," kata Adista.
Kemudian Raka menyerahkan beberapa paper bag yang berisikan semua peralatan sekolah dari buku, seragam, tas, hingga sepatu. Semuanya lengkap untuk Desta.
"Dari Mbak dan Mas yah, Des," kata Raka.
Menerima banyak hadiah sekolah yang baru dan tentunya bagus-bagus, Desta menjadi sangat senang. Dia bahkan begitu excited mencoba seragam, sepatu, dan tasnya. Usai itu, dia memeluk Raka.
"Makasih Mas Raka ... baru ngobrol sama Bapak minta sepatu baru, ternyata sudah dibeliin Mas Raka. Sepatuku warrior sudah rusak, Mas. Punya sepatu baru seneng banget," kata Desta.
"Sama-sama, Desta. Sekolahnya makin rajin dan makin pintar yah. Mas Raka masih ingat dengan mimpinya Desta dulu. Semangat yah," kata Raka.
"Doakan yah, Mas. Aku sudah SMP loh," balas Desta girang.
"Makasih loh, Nak Raka. Bapak dan Ibu justru merepotkan Nak Raka lagi," balas Bu Ratih.
"Sama sekali tidak merepotkan Ibu. Kita kan keluarga, kita kuat kalau bersama. Saling bantu membantu," balas Raka.
"Mas, Desta sebenarnya pengen satu hal, Mas," kata Desta dengan tiba-tiba.
"Ya, pengen apa Desta?" tanya Raka.
"Nginep di hotel rasanya kayak gimana sih, Mas? Desta pengen deh nginep di hotel dan renang," katanya.
"Hush, jangan minta yang aneh-aneh, Des," kata Pak Gusti.
Sementara Raka justru tersenyum. "Desta mau nginap di hotel?" tanyanya.
"Mau, Mas ..., tapi hotel itu hanya untuk orang yang kaya raya yah?" tanya Desta dengan begitu polosnya.
Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Desta dapat SMP dulu, nanti kalau sudah dapat SMP yang pasti di mana. Mas akan ajak Desta, Bapak, dan Ibu menginap di hotel yah," kata Raka.
Tentu saja Bu Ratih dan Pak Gusti merasakan sangat sungkan. Akan tetapi, Desta justru senang sekali. Ini merupakan kado atau hadiah terindah dari Kakak iparnya yang berkesan. Akhirnya, Desta nanti bisa merasakan menginap di hotel seperti yang selama ini dia idam-idamkan.