Staycation With Boss

Staycation With Boss
Papa Raka Makin Berubah



Selang sepekan kemudian, kini Baby Qiana sudah hampir sepuluh hari usianya. Baby itu kian lucu, dan masih memiliki kebiasaan begadang di malam hari. Oleh karena itu, Adista dan Raka juga beradaptasi, kadang keduanya begadang bersama di malam hari. Atau kadang Raka yang bangun lebih pagi dan membiarkan Adista bangun agak siang.


Sama seperti pagi ini, ketika Baby Qiana sudah bangun, Raka yang menggendong bayinya itu terlebih dahulu. Dia membiarkan Adista masih tidur. Kasihan melihat Adista yang mengurus Qiana sendiri.


"Princessnya Papa sudah bangun yah? Sini, gendong Papa dulu yah. Kasihan Mama kamu kecapekan semalam begadang dan memberi ASI untukmu," kata Raka.


Sebenarnya Raka sendiri mengakui bahwa dia masih takut untuk menggendong Baby Qiana dengan kedua tangannya sendiri. Akan tetapi, Raka juga kasihan jika istrinya sampai kelelahan. Terlebih, Adista sudah bersikukuh untuk mengurus sendiri Baby Qiana.


Qiana yang semula menangis, sekarang dalam gendongan Papanya, Qiana diam. Raka tersenyum menatap dua bola mata yang masih bening itu. Dia genggam perlahan tangan mungil Qiana. Sungguh, Raka tidak percaya bahwa bayi kecil di gendongannya ini adalah buah cintanya bersama Adista.


Jika mengingat bagaimana pernikahan Raka dan Adista sebelumnya, di mana Adista yang menutup diri dan tidak mencintainya sama sekali. Akan tetapi, sekarang lihatlah buah cinta keduanya sudah terlahir ke dunia. Bayi kecil yang terbuat dari cinta keduanya.


"Matahari belum sepenuhnya keluar, Qiana. Papa gendong dulu yah, nanti kalau sudah kita berjemur," kata Raka lagi.


Sungguh, memiliki bayi benar-benar mengubah seorang Raka. Pria itu juga sering menggendong dan berbicara dengan bayinya. Hilang sudah sosok Raka yang pendiam. Sebab, saat menggendong Baby Qiana yang ada Raka justru sering senyam-senyum sendiri.


Benar-benar sebuah perubahan yang signifikan seorang Raka. Menjadi papa kurang lebih hampir dua pekan saja sudah mengubah Raka.


Lebih dari setengah jam Raka menggendong Baby Qiana. Hingga akhirnya, Adista terbangun. Wanita itu mengucek matanya perlahan dan kemudian dia melihat Raka duduk di sofa dengan menimang Qiana.


"Mas, sejak kapan?" tanyanya.


"Lumayan, Sayang."


Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "Kamu terlihat capek banget, mana mungkin aku tega ngebangunin kamu, Yang."


"Ya, bangunin aja gak apa-apa."


"Gak apa-apa, Qiana manis kok ikut Papa. Daddy little girl," balas Raka.


Adista akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia akhirnya memilih merapikan rambut panjangnya terlebih dahulu. Setelahnya, Adista meminta Qiana, akan diberikan ASI terlebih dahulu.


Papa Raka pun menyerahkan Qiana ke tangan Mamanya. Adista giliran duduk dengan nyaman dan memberikan ASI untuk Qiana. Sementara Raka turun ke dapur dulu untuk minum air putih. Tidak lupa Raka mengambilkan air putih hangat untuk Adista.


"Sambil minum air putih hangat, Yang. Bersihin pencernaan kamu," kata Raka.


Raka langsung membantu Adista meminum segelas air hangat itu supaya membersihkan pencernaan istrinya. Usai minum, bahkan Raka menyeka bibir Adista dengan menggunakan ibu jarinya. Diperlakukan seperti ini, Adista tersenyum di pagi hari. Bentuk sikap manis suaminya yang tentu tidak banyak orang yang tahu.


"Sweet banget sih Papa Raka," kata Adista.


"Sweetnya cuma sama kamu dan Qiana, Sayang," balas Raka.


Raka benar-benar membuktikannya bahwa dia bersikap manis hanya untuk dua wanita kesayangannya yaitu Adista dan Qiana. Mendengar ucapan Raka dan sikap manis suaminya itu seakan menjadi mood booster sendiri untuk Adista yang kini menjadi Busui.