Staycation With Boss

Staycation With Boss
Di Bawah Satu Payung



Masih berdiri di dekat jendela, Raka merasakan sakit tak berdarah di hatinya. Tiap gerakan Rayyan yang dia tangkap dengan indera penglihatannya membuatnya sangat sakit. Namun, bagaimana lagi kalau memang sebenarnya Raka yang menjadi pihak ketiga di antara Rayyan dan Adista.


Sementara di bawah sana Rayyan bersujud di depan Adista. Pemuda itu berusaha menatap wajah Adista yang masih menunduk.


"Dista, yang pasti aku akan menunggu kamu. Berapa lama pun, tidak menjadi masalah. Perasaanku kepadamu akan tetap sama. Jika suatu saat kamu ingin berhenti dari hubungan dengan Kak Raka, larilah kepadaku. Aku selalu cinta kamu."


Usai mengatakan itu, Rayyan berdiri dia kemudian pergi begitu saja. Yang penting dia sudah mengutarakan perasaannya kepada Adista. Biarlah dia menjadi pemuda tak tahu malu yang mengharap cinta Adista yang sekarang adalah kakak iparnya. Rayyan bersikap demikian karena menurut Rayyan, di dalam perkara ini dia tidak salah.


Sementara setelah Rayyan pergi, barulah Adista menangis. Bukan hanya air mata yang berlinang, tapi wanita itu terisak-isak sakit sekali rasanya. Jika boleh jujur itu adalah rasa sakit yang pedih dan nyerinya sampai ke ulu hati. Bukannya kehilangan semua perasaan dengan Rayyan, tapi Dista mengingat pesan dari Ibunya untuk menghormati Raka.


Benar, tidak ada cinta di dalam hatinya untuk suaminya sendiri. Akan tetapi, Dista merasa bisa menghargai dan menghormati suaminya. Menganggap pernikahan ini sebagai kompromi. Mungkin, jika pria itu tidak Rayyan, rasanya tidak akan sesakit ini.


Maafkan aku, Ray ....


Bukannya semua cintaku sudah sirna. Akan tetapi, sekarang aku bukan lagi Tatamu. Aku adalah Adista yang kini sudah dipersunting oleh Kakakmu sendiri. Aku bukan lagi pacarmu, tapi adalah kakak iparmu.


Maafkan aku, Ray ....


Suasana hening di pagi itu, rupanya membawa awan putih hadir dan menurunkan bulir-bulir air dari langit. Yah, hujan turun pagi itu. Sementara, Adista masih terduduk di sana dan menangis. Wanita itu membiarkan derai hujan pagi itu membasahi dirinya, bahunya bergetar karena terisak-isak. Sakit hati dengan perasaannya sendiri. Tersiksa dengan suasana hati yang rasanya serba salah.


Hingga tidak lama setelahnya, ada sosok pria yang berdiri di belakang Adista. Dia memakai payung, menudungi Adista yang menangis dengan payung yang sekarang dia pegang. Ya, dia adalah Raka.


Dari atas dia melihat hujan yang turun pagi itu. Namun, Adista masih tak beranjak dari tempatnya. Oleh karena itu, Raka segera turun dari lantai dua. Benda yang pertama kali dia cari adalah payung. Usai itu, dia segera berjalan dengan payung di tangannya. Dia memayungi Dista sekarang. Berada di belakang Dista, Raka bisa mendengarkan isakan istrinya itu yang sangat menyayat hati.


Dista tahu, rintik air hujan tidak lagi membasahi dirinya. Dista tahu ada payung yang sekarang menudungi dirinya. Dista pun tahu ada suaminya yang kini berdiri di belakangnya. Namun, Dista memilih abai. Dia masih menangis di sana. Hingga, perlahan Dista merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya. Ya, hanya sentuhan dan tidak ada yang diucapkan Raka.


Raka tahu sakit hati atau patah hati memang menyakitkan, terlebih untuk Dista yang sekarang harus putus dengan Rayyan, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Cukup lama, keduanya berada di sana. Berada di bawah satu payung.


Sampai pada akhirnya Adista perlahan-lahan berdiri. Dia ingin lari sekarang. Namun, tangan Raka dengan sigap menarik tangan Adista. Pria itu yang semula berdiri di belakang Adista, kini pun beralih untuk berdiri di depan Adista. Bisa Raka lihat sekarang wajah Adista yang berurai dengan air mata. Walau guyuran hujan membasahi wajah cantik Adista, tapi bola mata yang memerah menjadi saksi, air mata dan isakan itu tidak bisa disembunyikan.


"Kita masuk," ajak Raka.


Tentu Raka memiliki tujuan mengajak Dista masuk supaya istrinya itu tidak masuk angin. Terlebih guyuran hujan semakin deras saja. Awan putih yang semula turun kini berganti menjadi awan gelap. Dari langit yang mendung gelap saja sudah terlihat bahwa curah hujan akan semakin deras.


Adista menangis dan mengucapkan nama suaminya itu sekarang. Sakit sekali rasanya. Raka mengangguk sesaat. Dia mengambil dua langkah ke depan, mendekat dengan Adista. Tidak banyak berbicara, Raka memeluk tubuh Adista yang sebelumnya sudah basah terkena hujan.


"Menangislah," kata Raka.


Di pelukan suaminya, tangisan Adista kian menjadi-jadi. Dia sedih sekali. Situasinya sangat pelik, sampai membuat Dista seperti sesak napas sekarang.


Beberapa saat Adista menangis, hingga tangisan itu reda. Hanya menyisakan isakan saja. Pun, Raka yang menuntun istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Di sofa, Raka mempersilakan istrinya untuk duduk. Setelah itu, Raka mengambil handuk. Tidak banyak berbicara, dia seka rambut Adista yang basah. Dia seka wajah Adista yang basah dengan handuk. Setelahnya, dia selimutkan handuk itu di badan Adista.


"Dingin kan? Aku akan siapkan air panas dulu untuk kamu," kata Raka.


Pria itu kemudian naik ke atas menyiapkan air panas untuk istrinya. Sembari menunggu, Raka kembali turun, kini sekarang dia duduk di sisi Adista.


"Tenangkan dirimu dulu, aku tahu tadi Rayyan menyentuhmu," kata Raka.


Tidak disangka, sekarang Raka mengambil tangan Dista yang tadi digenggam oleh Rayyan. Dia usap telapak tangan istrinya. Lantas, Raka jatuhkan beberapa kecupan di punggung tangan istrinya itu. Permukaan kulit yang dingin usai kehujanan, dan bertemu dengan permukaan bibir Raka yang hangat membuat Adista mengedikkan bahunya dan berlinang air mata.


"Pak Raka," kata Dista dengan menghela napasnya berkali-kali.


"Sebelumnya, aku berkata bisa menunggumu, Dista ..., tapi, hatiku sakit kala melihat adikku sendiri menggenggam tanganmu seperti ini," kata Raka.


Mungkin maksud Raka adalah dia ingin menghilangkan jejak-jejak Rayyan yang tadi menyentuh tangan istrinya. Walau mengatakan bisa menerima, tapi Raka sendiri merasa hatinya juga sangat sakit.


"Cukup Pak," kata Dista.


Dista menarik tangannya. Dia tidak mau lagi Raka mengecupi punggung tangannya beberapa kali. Rasanya itu aneh, ada gelenyar yang sekarang bisa dia rasakan. Oleh karena itu, Adista memilih untuk menghindar.


"Kalau aku tidak bisa berhenti?" tanya Raka sekarang.


Perubahan suara pria itu terdengar begitu berat, parau, dan dalam. Rasanya Raka juga terbakar dalam perasaannya sendiri. Dia mengakui mungkin saja ada batas di mana dia tidak bisa berhenti sekarang. Mungkin hujan yang turun pagi ini menyulut sesuatu dari dalam dirinya. Ada dorongan, ada hasrat, dan ada gairah yang bangkit dengan sendirinya.