Staycation With Boss

Staycation With Boss
Mulai Bekerja dari Rumah



Hanya tinggal sebulan lagi bersalin, Raka sudah memutuskan untuk bekerja dari rumah. Raka lebih memilih berjaga-jaga dan bersiap kalau-kalau nanti Adista terasa hendak bersalin. Adista sendiri juga merasa lebih tenang dan lega karenanya suaminya berada di rumah.


"Hari Senin, Mas ... enggak bekerja?" tanya Adista kepada suaminya.


"Kamu lupa, Sayang. Kan aku mulai work from home, bekerja dari rumah. Bersiap kalau Bumilku terasa mau melahirkan," balas Raka.


Adista tersenyum mendengarnya. Jujur dia memang lebih suka ketika di rumah ada suaminya. Rasanya lebih tenang. Apalagi hamil kali ini terhitung bahwa Adista tidak banyak mau, tapi Adista sangat suka menempel dengan suaminya. Bawaan bayinya yang membuat Adista selalu suka dekat dengan suaminya.


"Gak apa-apa kerja dari rumah, Mas?" tanya Adista.


"Gak apa-apa. Paling nanti kalau ada yang benar-benar urgent sih, aku baru ke La Plazza. Tenang saja. Rumah kita dengan La Plazza juga dekat banget kok," balas Raka.


Memang Raka memilih lokasi rumahnya yang tidak begitu jauh dari La Plazza Hotel, sehingga kalau ada kerjaan atau meeting mendadak, Raka bisa segera tiba di sana. Namun, untuk sekarang yang menjadi prioritas Raka adalah istrinya.


"Oh, begitu. Oke deh, Mas. Seneng ada Mas di rumah," kata Adista.


"Mau nempelin terus kan?" tanya Raka.


"Si baby yang mau nempelin kok," alibi Adista.


Raka kemudian tersenyum tipis. Dia mengusap puncak kepala istrinya itu. "Mamanya si baby yang mau nempel juga boleh kok. Papa selalu availabel untuk Mama Adista dan Si Baby," jawab Raka.


Nah, sekarang barulah Raka terdengar lebih lembut. Lebih terbuka. Tentunya keterbukaan dan sikap hangat Raka ini membuat Adista senang. Satu lagi yang masih menjadi harapan bagi Adista adalah kala memiliki baby nanti suaminya tidak irit berbicara.


Mulai pagi membuka mata, sarapan pagi, hingga makan siang, Adista hanya nempel terus dengan suaminya. Sekadar duduk saja, Adista juga maunya nempel terus. Bumil satu itu seolah menjadi perangko yang menempel di amplop surat. Sementara Raka juga tak keberatan. Asalkan Adista nyaman, itu sudah cukup untuknya.


"Yang, ada laporan yang harus aku cek dulu. Aku ambil tablet dulu yah," kata Raka.


"Mas Raka nanti mau ngerjain di mana?" tanya Adista.


"Palingan sih di ruang kerja sebentar. Gak akan terlalu lama kok, review laporan setiap divisi saja," balas Raka.


"Kamu maunya aku ngerjain di sini yah?" tanya Raka.


Dengan cepat Adista pun menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau bisa. Aku janji gak akan menggangu kok," balas Adista.


Raka akhirnya menuruti saja apa yang dimaui oleh istrinya itu. Selama Adista tidak ngambek saja sudah cukup untuk Raka. Akhirnya, Raka mengambil tabletnya terlebih dahulu, kemudian dia menuju ke kamar lagi. Baru kali ini, Raka mereview laporan dengan posisi bersandar di head board ranjangnya. Sementara Adista menyandarkan kepalanya di antara bahu dan dekat dengan dada suaminya.


Sembari mereview pekerjaan, sesekali Raka mengusapi puncak kepala istrinya. Ada kalanya Raka juga mengecup kening istrinya itu. Sejatinya memang begitulah Raka, dia tidak banyak berbicara, tapi pria itu selalu menunjukkan perhatiannya dengan sentuhan. Bahasa cinta yang Raka sampaikan melalui pelukan atau ciuman. Cara orang menunjukkan perasaan dan kepeduliannya memang lain-lain. Begitu juga Raka yang punya cara sendiri untuk menunjukkan perasaannya.


"Susah enggak Mas kerja kayak gini?" tanya Adista perlahan.


"Enggak begitu. Harus jeli dan teliti saja. Ini kan seperti pertanggungjawaban setiap divisi. Aku hanya perlu mereview saja. Kerjaan CEO kan begitu. Review kerjaan, ikutan meeting. Ya gitu-gitu. Gak berat kok," balas Raka.


"Oh, kirain kerjaannya berat," balas Adista lagi.


"Yang penting ketika ada laporan masuk segera direview dan dikerjakan. Dengan begitu tidak banyak laporan yang menumpuk di meja. Itu sudah membantu banget," balas Raka.


"Oh, pantas saja meja kerjanya Mas Raka gak banyak file dokumen kayak milik CEO di drama-drama itu," kata Adista dengan tertawa.


"Kalau enggak ku kerjakan ya bakalan seperti itu," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya lagi. Setelah itu, matanya turut mengamati tablet yang dibawa suaminya untuk bekerja. Akan tetapi, lama kelamaan sinar biru dari tablet milik suaminya itu seakan membuat kelopak mata Adista menjadi lebih berat. Rasa kantuk pun datang. Suasana kamar yang tenang, disfuser pengharum ruangan, serta keberadaan Raka seakan membuat Adista dengan begitu cepatnya terlelap.


Raka menyadari kian lama tidak ada suara dari istrinya itu. Terdengar dengkuran halus juga. Raka kemudian menoleh sesaat, rupanya Adista memang susah terlelap. Raka tersenyum sendiri jadinya.


"Efek kehamilan atau apa sih, Yang? Perasaan kamu jadi cepet banget boboknya," kata Raka.


Raka menundukkan wajahnya, dia kecup lagi puncak kepala Adista. Biarkan saja istrinya itu tertidur, lagipula memang Ibu hamil memang harus istirahat yang cukup. Akhirnya, Raka menyelesaikan pekerjaannya. Begitu sudah selesai, Raka menaruh tabletnya di atas nakas yang berada di dekat tempat tidur, kemudian dia menyusul Adista untuk tidur. Mengistirahatkan badan dan juga memeluk istrinya yang sudah berpetualang ke alam mimpi di siang hari.