Staycation With Boss

Staycation With Boss
Selamat Tinggal, Perasaan



Cukup malam acara tasyukuran itu selesai. Keluarga Adista sudah berpamitan untuk pulang. Sedangkan, semua tamu undangan sudah pulang. Akan tetapi, Raka dan Adista masih berada di kediaman Papa Zaid dan Mama Erina.


"Kita pulang enggak, Mas?" tanya Adista yang sudah mandi dan berganti dengan kemeja dan celana panjang.


Belum Raka memberikan jawaban, sudah terdengar Mama Erina yang berbicara sekarang. "Tidak usah buru-buru pulang. Menginap di sini kan tidak apa-apa, Dista," katanya.


Akan tetapi, Adista lebih memilih menuruti keinginan suaminya saja. Walau begitu, masih terbayang dengan peristiwa yang dulu ketika Rayyan mengetuk pintu kamar Raka untuk bisa berbicara dengan Adista. Hanya sekadar berkaca dari masa lalu, Adista hanya ingin kehidupan rumah tangga yang aman dan tentram dengan suaminya saja.


"Sudah, menginap di sini saja, Ka," kata Mama Erina.


Tidak berselang lama dari arah anak tangga sudah ada Rayyan yang sekarang baru menampakkan dirinya. Pemuda itu terlihat jauh lebih santai, bahkan dia turut bergabung di ruang keluarga itu.


"Nginep di sini, Kak?" tanya Rayyan.


"Kelihatannya kami pulang aja," balas Raka.


Mama Erina menghela napas panjang, seolah masih terlihat perang dingin di antara dua putranya itu. Sementara Adista menunduk. Rasanya tidak enak. Namun, Adista juga sudah berkomitmen penuh cintanya hanya untuk Raka saja.


"Ma, boleh enggak Rayyan bicara sebentar dengan Kak Raka dan Kakak ipar sebentar," katanya.


Jika sebelumnya Rayyan selalu memanggil Adista dengan nama Tata, kali ini Rayyan memanggil Adista dengan sebutan kakak ipar. Tidak langsung mengiyakan, Mama Erina menatap putra bungsunya itu terlebih dahulu.


"Ray, kamu yakin?" tanya Mama Erina.


Rayyan tampak menganggukkan kepalanya. "Ya, Ma. Hanya berbicara saja kok. Mama percayai Ray yah."


Akhirnya Rayyan mengajak Raka dan Adista keluar rumah. Di taman yang ada di belakang rumah. Raka juga terlihat biasa, walau lebih diam. Sementara Adista berdiri tidak jauh di sisi suaminya.


"Ada apa, Ray?" tanya Raka terlebih dahulu.


"Kak Raka, sebelumnya aku mau minta maaf untuk semuanya. Entah itu tindakan atau ucapanku yang mengusik Kak Raka. Namun, setelah aku sakit, ingatanku menjadi tidak jelas. Kadang ada masa lalu yang kembali datang dan menyeretku untuk melakukan semuanya itu."


Raka berdiri menghadap lurus ke depan. Sampai di tahap ini, Raka masih diam dan mendengarkan ucapan adik kandungnya itu. Sementara Adista juga mendengarkan saja, tidak merespons apa pun.


"Pengobatanku sudah hampir selesai, Kak. Hanya menyisakan tiga kali konsultasi dengan Dokter Sonny lagi. Setelah itu, aku akan kembali lagi ke London," kata Rayyan.


Sekarang barulah, Raka menoleh guna bisa menatap wajah adiknya. Namun, sejauh ini Raka hanya memikirkan kenapa Rayyan memilih kembali lagi ke London. Sebelumnya, Rayyan berkata ingin berada di Jakarta. Paling tidak untuk satu semester. Sementara sekarang baru hampir dua bulan berjalan.


"I am so sorry, Kak. Aku seperti orang gila dan tidak waras. Aku mempercayai masa lalu yang sudah semestinya aku buang dan tinggalkan pada tempatnya. Kali ini, aku berjanji bahwa aku tidak akan mengusik Kakak Ipar lagi," kata Rayyan.


Pemuda itu rupanya mengatakan semuanya kepada Raka. Bahkan Rayyan meminta maaf kepada kakaknya itu. Selain itu, Rayyan berjanji tidak akan mengusik Adista lagi.


"Ray," kata Raka.


Ketika menerima permintaan maaf dan janji dari seorang adik, hati Raka benar-benar tersentuh. Memang Raka tak membenci adiknya. Namun, tak dipungkiri bahwa hubungan keduanya terasa berbeda sejak Raka menikah dengan Adista. Kakak dan adik yang semula ramah dan hangat, sekarang seperti dua kubu yang terlibat perang dingin.


Di satu sisi, Adista merasa lega. Di dalam hatinya ada kebahagiaan yang menyapa. Bagi Adista, Rayyan sudah dewasa, bisa menerima realita yang ada. Selain itu, Adista pastilah mendoakan agar Rayyan mendapatkan tambatan hati yang baru.


"Ray, kamu yakin dengan yang kamu lakukan dan katakan? Aku hanya takut itu hanya bagian dari false memory yang kamu hadapi," balas Raka.


Rayyan kemudian tersenyum. "Aku tidak sedang mengalami false memory, Kak. Apalagi hasil pemeriksaanku semakin membaik. Kepalaku juga jarang pening. Dokter Sony mengatakan aku bisa sembuh. Jadi, selamat berbahagia dengan Kak Dista dan menyambut bayimu nanti, Kak."


Sekarang hati Raka benar-benar tersentuh. Sebagai seorang kakak dan sebagai seseorang yang lebih dewasa, Raka kemudian memeluk adik bungsunya itu. Selain itu, Raka berharap bahwa hubungan dengan Rayyan bisa semakin membaik.


"Thanks, Ray ...."


Sementara Adista menitikkan air matanya. Terharu melihat Raka dan Rayyan berpelukan. Sebab, Adista percaya bahwa keberadaan dirinyalah yang membuat Raka dan Rayyan terlibat perang dingin.


"Sorry ya, Kak. Aku sudah membuatmu tidak nyaman dan membuat rumah tangga kalian bergejolak. I am so sorry, Kak."


"Aku juga minta maaf ya, Ray."


Rayyan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Kak. Mungkin ini memang garis takdirnya untuk kita bertiga. Ketika nanti Kakak dan Kakak Ipar akan memiliki bayi, aku mungkin masih berada di London. Namun, bisakah Kakak membagi kabar baik itu denganku?" tanya Rayyan.


"Pasti, pasti aku akan membagikan kabar itu kepadamu."


Usai itu, Rayyan berhadap-hadapan dengan Adista sekarang. Dia sudah meminta maaf kepada Raka, tapi ada yang kurang ketika dia belum meminta maaf kepada Kakak Iparnya.


"Kak, sorry juga yah," katanya.


"Aku juga minta maaf, Ray," balas Adista.


Rayyan mengulurkan tangannya, dia hanya ingin menjabat tangan kakak iparnya itu. Sebelum mengulurkan tangannya, Adista menatap suaminya terlebih dahulu, Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Barulah Adista menjabat tangan Rayyan.


"Maaf untuk semuanya dan juga doaku Kakak akan bahagia dengan Kak Raka. Hubungan baru kita hanya sebagai ipar, sebagaimana mestinya," kata Rayyan.


"Terima kasih, Ray. Aku akan mendoakan yang baik untukmu," balas Adista dengan terisak.


Rayyan kemudian menganggukkan kepalanya dan mengurai tangan Adista. Dulu, tangan ini yang membuatnya jatuh cinta. Selalu ada asa untuk menggenggam tangan ini, berharap bersama. Sayangnya, kenyataan di depan mata tak sejalan dengan asa.


"Selamat tinggal, Perasaan. Terima kasih sudah menemani selama tiga tahun antara London dan Jakarta. Doaku Kakakku selalu akan bisa membahagiakanmu. Kutinggalkan perasaan ini untuk selamanya."


Itu hanya kata-kata yang terbersit di benak Rayyan. Kata yang terucap, tapi Rayyan sudah mengambil keputusan bulat bahwa dia akan menggapai masa depan dengan harapan yang baru. Waktu akan mengobati hatinya, dan dia akan berangsur membaik. Tekadnya sudah bulat untuk sepenuhnya melepaskan perasaan yang tersisa untuk Adista.