Staycation With Boss

Staycation With Boss
Pagi Terindah



Raka benar-benar tak main-main. Semalam benar-benar menjadi malam bergelora untuk Raka dan Adista. Raka benar-benar menikmati malam yang menenggelamkannya dalam samudra asmara.


Surya pun datang, burung camar berkicauan di tepi pantai. Masih tercium semerbak pretikor dari hujan semalam. Sementara di atas ranjang, dua anak manusia masih bergelung di dalam selimut. Tanpa busana, hanya selimut yang mengcover tubuh polos keduanya.


Pagi itu, ketika sinar sang surya menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela, Raka terbangun. Pria itu menyugar rambutnya disertai dengan senyuman di sudut bibirnya. Objek yang dia lihat untuk kali pertama adalah Adista yang masih bergelung di pelukannya. Raka mengamati paras ayu tanpa polesan make up sama sekali dan juga sosok yang terlelap di dalam pelukannya itu.


Sungguh, ini adalah pagi yang indah untuk Raka. Malamnya tidak lagi dingin, melainkan hangat. Sementara itu, ada Dista yang sudah ikhlas dan siap menjadi ladang pahala untuknya.


Sesaat kemudian Adista terbangun. Wanita itu mengucek matanya sesaat dan melihat Raka yang sudah terbangun terlebih dahulu.


"Morning," sapa Raka.


"Pagi, Mas ...."


"Lelap semalam?" tanya Raka.


"Iya, cuma badanku masih capek semua," balas Adista dengan menggeliat dan menggelengkan kepalanya.


Memang tidurnya terasa sangat lelap, tapi ada bagian tubuhnya yang masih terasa capek. Adista sampai mendengar bunyi beberapa tulangnya sendiri waktu menggeliat. Sementara Raka justru terlihat sangat bugar. Pria itu tidak capek sama sekali.


"Ya sudah, tidak keburu-buru kok. Staycation kita kan tanpa ada meeting dan bekerja. Kalau ada satu-satunya hanya bergelut di ranjang," kata Raka.


Adista memanyunkan bibirnya dengan memukul dada suaminya itu. Makin lama suaminya itu makin mengada-ada saja. Kadang ucapan Raka itu membuat Adista merasa kesal.


"Kan serius," kata Raka.


"Ihh, padahal semalam udah tiga kali. Hari ini break dulu, Mas. Capek banget," keluh Adista.


"Ya sudah, hari ini istirahat dulu. Kasihan istriku sampai kecapekan," balas Raka.


Adista akhirnya memilih menyelimuti dirinya lagi. Rasanya masih terasa capek. Lebih enak rasanya bergelung di bawah selimut yang hangat. Akibat semalam benar-benar sampai tiga kali, sekarang Adista merasa tanpa daya.


"Ini pagi yang indah untukku. Pemandangan pantai yang tenang dan kamu yang berbaring di sisiku. Love U," kata Raka.


Adista tersenyum, menurutnya suaminya itu tak cocok bermulut manis seperti itu. Akan tetapi, Dista menghargai karena itu adalah cara suaminya mengomunikasikan perasaannya.


"Mau bersama yuk, berendam bersama. Supaya pagi ini lebih sempurna," kata Raka.


"Kenapa enggak sendiri-sendiri? Kalau lebih dari sekadar mandi, tulangku akan benar-benar patah, Mas," balas Adista.


"Enggak, cuma berendam saja kok," balas Raka.


Akhirnya Raka menyingkap selimutnya. Pria itu dengan penuh percaya diri masuk ke dalam kamar mandi untuk mengisi bath up dengan air hangat dan bath bomb. Setelah itu, Raka menyingkap selimut yang masih digunakan istrinya.


"Ayo, biar lebih segar," ajak Raka.


"Malu, Mas," balas Adista.


"Tidak usah malu, aku sejak semalam sudah menikmatinya," balas Raka.


Bahkan sekarang Raka berinisiatif menggendong istrinya itu menuju ke dalam kamar mandi. Dia menurunkan Adista tepat di depan wastafel. Raka dan Adista sama-sama membersihkan wajah dan gosok gigi terlebih dahulu sebelum berendam di bath up.


Beberapa kali Raka mengusap bahu dan lengan Adista yang basah dan licin karena terkena air dan sabun. Namun, Raka tidak akan mengganggu Adista, kasihan jika Adista sampai benar-benar kelelahan. Cukup berendam bersama dan menikmati pagi. Toh, Adista juga tidak menjaga jarak lagi sehingga itu sudah membuat Raka sangat senang.


"Pernah berendam kayak gini? Dengan view menghadap ke pantai," tanya Raka.


Adista menggelengkan kepalanya. "Berendam di mana, Mas. Di rumahku hanya ada gayung. Praktis, setiap hari mandi dengan menggunakan gayung," balas Adista.


"Ini yang pertama?" tanya Raka.


"Iya, dulu di La Plazza, dua bulan pertama pegawai baru dioper ke berbagai tugas. Membersihkan bath up aku bisa, tapi berendam mana pernah," ceritanya.


"Pernah di kebersihan hotel juga?" tanya Raka.


"Iya, di kebersihan sampai di restorannya pernah. Tiga bulan training itu kan ditempatkan di berbagai posisi. Pernah shift malam juga. Suka dukanya sudah tahu. Setelah dipindah ke office lebih enak karena bisa bekerja pagi sampai sore," cerita Adista.


"Artinya kamu sudah memiliki pengalaman. Jadi sudah tahu setiap bagian dan posisi pegawai perhotelan. Dari Universitas apa?" tanya Raka.


Adista menggelengkan kepalanya. "Aku SMK perhotelan dan pariwisata, lalu mengambil D1 perhotelan. Tidak sampai kuliah D3. Pendidikanku pun minim, Mas," kata Adista.


"Oh, begitu. Tidak apa-apa. Yang penting kan bekerja halal. Semua yang kita kerjakan dengan hati hasilnya akan maksimal kok," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Menurut Adista selama ini dia sudah bekerja dengan baik dan dengan hati. Melakukan yang terbaik dari apa yang bisa dia lakukan. Untuk itu, selalu ada kepuasaan batin yang Adista rasakan.


"Indah yah, menikmati pagi seperti ini," kata Raka sekarang.


"Iya, indah. Ini sih bukan Staycation, ini Honeymoon," balas Adista.


"Ya sama saja, stay and vacation. Cuma kamu Staycation sama suami kamu. Bukan sama Bossmu," balas Raka.


"Suamiku juga adalah Bossku."


Raka tersenyum, dia gemas dengan jawaban Adista hingga tangan Raka mulai nakal dan bermain-main di area dada istrinya. Meremasnya, dan memilin puncaknya. Adista sangat menoleh ke belakang melihat suaminya itu.


"Jangan, Mas ...."


"Kamu bikin aku gemas," balas Raka.


Usai itu, Raka tertawa. Dalam satu hari saja Raka menjadi lebih periang dan banyak tertawa. Padahal biasanya Raka memiliki aura yang dingin.


"Ternyata kamu sosok yang periang dan banyak tertawa juga yah, Mas. Ku kira aku seperti beruang es yang dingin," balas Adista.


"Itu karena kamu belum mengenal aku. Kalau sudah kenal, aku menjadi beruang madu, Sayang."


Raka kembali tertawa. Walau sama-sama beruang, tapi Raka memilih beruang madu.


"Bisa saja," balas Dista.


"Kamu madunya, jadi aku yang menghisap kamu. Madu ... Honey," balas Raka dengan absurd.


Adista turut tertawa dengan candaan absurd dari suaminya itu. Namun, di dalam hati Adista merasakan ini memang pagi yang indah. Bukan hanya panorama di depan mata yang indah, tapi menikmati waktu, meninggalkan formalitas, dan menjadi lebih akrab dengan suami sendiri rasanya indah dan menyenangkan. 🥰