Staycation With Boss

Staycation With Boss
Diskusi Dua Keluarga



Beralih Sejenak ke Kota Paris ....


Sekarang, di kota Paris tampak Keluarga Syahputra dan keluarga Agastya berkumpul bersama. Hanya para orang tua saja. Sementara Raline, Rayyan, dan Eiffel sedang keluar sebentar untuk membeli camilan.


"Aku baru tahu kalau Eiffel itu adalah putrimu, Bos Belva," kata Papa Zaid kepada Papa Belva Agastya.


Papa Belva kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Memang. Apa dia tidak mirip dengan istriku?" tanya Papa Belva.


Jujur, Papa Zaid menjadi malu sendiri kala ditanyai begitu. Sebab, dia tak menyangka kalau gadis cantik bernama Eiffel itu adalah putri dari sosok wanita yang dulu menjadi cinta pertamanya. Akan tetapi, Papa Zaid sudah menutup rapat masa lalu. Komitmennya secara utuh dan penuh hanya untuk Mama Erina saja.


"Aku hanya tahu dan ingat dengan Evan saja. Sementara yang Elkan juga tidak kenal, apalagi Eiffel," balas Papa Zaid.


Ada sekelumit memori yang muncul manakala mengingat anak-anak keluarga Agastya. Untuk Papa Zaid, dia masih mengingat Evan kecil karena dulu pernah bertemu ketika Evan berada di Bogor. Momen yang membuat Evan bertemu Mama kandungnya setelah empat tahun berpisah.


"Ya, memang setelah Evan, kami dikaruniai Elkan dan Eiffel. Dua putraku sudah menikah, bahkan aku sudah memiliki cucu," cerita Papa Belva.


"Benarkah? Evan sudah memiliki anak?" tanya Papa Zaid lagi.


Sekarang Papa Belva dan Mama Sara menggelengkan kepalanya. "Bukan, Evan baru saja menikah. Yang sudah memiliki anak adalah Elkan."


Papa Zaid sendiri semakin terkejut. Semula Papa Zaid mengira bahwa yang memiliki anak terlebih dahulu adalah Evan, semua itu juga karena Evan adalah putra sulung keluarga Agastya. Rupanya, yang memiliki anak-anak terlebih dahulu adalah Elkan. Hidup memang penuh dengan teka-teki. Sama seperti keluarga Agastya yang rupanya putra keduanya terlebih dahulu yang menikah dan memiliki anak.


"Evan sudah menikah?" tanya Papa Zaid.


"Sudah, Evan sudah menikah."


"Oh, kalau belum menikah bisa dong dijodohkan dengan Raline," balas Mama Erina sekarang.


Mama Sara dan Papa Belva pun tertawa karenanya. Hingga akhirnya, Mama SAra berbicara. "Kami lebih suka anak-anak menemukan cintanya sendiri. Elkan memang kami jodohkan sejak kecil, tapi aku dan Besanku sudah berkomitmen bahwa perjodohan ini tidak mengikat. Justru, ketika Elkan besar, gadis itu juga yang menjadi cinta pertamanya. Kami percaya, mereka yang merasakan jatuh cinta, setidaknya rumah tangganya akan harmonis," kata Mama Sara.


Itu hanya sebuah pandangan. Sebab, alih-alih menjodohkan, Mama Sara lebih suka ketika anak-anaknya menemukan cintanya sendiri. Sama seperti Evan yang pada akhirnya menemukan cintanya sendiri padahal Evan terbilang tidak dekat dengan wanita. Hingga akhirnya, Evan juga bisa menemukan seseorang yang dia sukai.


"Wah, aku kepikiran juga nih untuk menjodohkan Rayyan dan Eiffel," kata Mama Erina sekarang dengan to the point.


Mendengar apa yang dikatakan Mama Erina, Mama Sara dan Papa Belva tertawa. Mungkin memang keluarga Syahputra ini termasuk keluarga yang to the point. Ketika memikirkan sesuatu segera mengatakannya.


"Rayyan dan Eiffel?" tanya Papa Belva yang seakan tidak percaya.


"Bukankah Eiffel lebih tua yah? Eiffel kan seumuran dengan Raline?" tanya Mama Sara.


"Memang, Eiffel seusia dengan Raline. Kalau cocok siapa tahu?" balas Mama Erina.


"Bagaimana yah ..., tapi kami tidak pernah memaksakan anak-anak. Ketika dia datang kepada kami dan mengatakan ada seseorang yang mereka sukai, kami juga bertanya saja sedikit mengenai pilihan anak-anak. Walau begitu, kami tidak memiliki tolok ukur tertentu. Yang penting keduanya saling mencintai."


Mama Sara mengatakan semuanya itu, justru Mama Erina salut dengan keluarga Agastya. Ketika anak-anak datang dan mengatakan menyukai seseorang, keluarga Agastya yang notabene kaya raya itu tidak memiliki kriteria khusus. Yang penting anak-anak adalah saling cinta. Sekarang begitu jarang mendapatkan keluarga seperti itu. Pastilah akan mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot.


"Jadi, bagaimana?" tanya Mama Erina.


"Biar mereka mengenal saja. Kalau memang cocok, lanjut tidak apa-apa. Kalau dipaksakan sih jangan," balas Papa Belva.


Papa Zaid dan Mama Erina sekarang menganggukkan kepalanya. Menerima baik apa yang disampaikan oleh Papa Belva. Terlihat bahwa keduanya lebih menyukai ketika pendekatan itu terjadi secara alamiah.


"Rayyan memangnya kuliah di London?" tanya Papa Belva sekarang.


"Iya, hanya saja sekarang sedang cuti. Rayyan mengalami kecelakaan dan ingatannya terganggu ada false memori yang muncul. Jadi, kami memilih membawa Rayyan ke Jakarta untuk penyembuhan," cerita Papa Zaid.


"Cuti berapa lama?" tanya Papa Belva.


"Satu semester sih ... sampai ingatannya kembali. Kami terlalu khawatir ketika anak sakit dan jauh dari rumah," balas Papa Zaid.


Papa Belva dan Mama Sara menganggukkan kepalanya, kasihan juga dengan Rayyan yang mengalami false memori. Walau begitu, bisa melakukan terapi hingga semua ingatan itu kembali lagi.


"Yang kamu lakukan sudah baik, Bro ... sebaiknya memang begitu sih. Semoga Rayyan segera pulih yah," balas Papa Belva.


"Sudah membaik. Hanya saja, kami menginginkan bahwa Rayyan bisa sepenuhnya pulih," balas Papa Zaid.


"Bagaimana, apa mau besanan dengan kami?" tanya Mama Erina sekarang.


"Itu gampang. Kalau Rayyan dan Eiffel bisa dekat dan tumbuh cinta di antara keduanya, tidak masalah," balas Mama Sara.


Papa Belva kemudian menganggukkan kepalanya. "Setuju ... biar cinta itu datang dengan sendirinya. Kalau memang bisa, kami tidak masalah sama sekali."


Setidaknya sudah ada pembicaraan antara dua keluarga. Tinggal nanti menunggu ada bunga-bunga cinta yang bersemi di antara keduanya atau tidak. Walau begitu, kedua keluarga tidak masalah jika berbesanan satu sama lain.