
Keesokan harinya, Adista bangun dengan lebih sehat tentunya. Tangannya yang bengkak lantaran infus juga sudah pulih. Selain itu, Adista juga tak merasa mual dan muntah. Setahu Adista biasanya ibu hamil akan morning sickness di pagi hari. Akan tetapi, sekarang Adista merasa sangat sehat malahan.
Saking sehatnya begitu bangun, Adista langsung menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya. Membuat Macaroni Cheese, sekadar memanfaatkan bahan-bahan yang ada di dalam lemari es saja. Aroma Macaroni dipadukan dengan Cheese membangunkan Raka pagi itu. Pria itu mengerjap, dan mencium aroma lezat dari mini Kitchen miliknya. Ternyata ada Adista yang sudah berada di dapur.
"Hei, pagi Sayang," sapa Raka.
"Pagi, Mas Raka," balas Adista.
Tangan yang kokoh kini melingkar di pinggang Adista, dengan dagu Raka yang berada di puncak bahu istrinya. Raka beberapa menggerakkan dagunya itu ke kanan dan ke kiri. Hingga membuat Adista beberapa kali merasa geli.
"Geli, Mas. Aku selesaikan ini dulu," kata Adista.
"Gini aja, kangen," balas Raka.
"Kan kita udah ketemu, gak berpisah. Ish, mau jadi Papa malahan manja deh," balas Adista.
Raka tersenyum tipis. Kalau bicara aneh ya aneh, karena Raka yang dewasa kadang kala justru manja dengan istrinya. Ada naluri ingin dimanjakan.
"Cowok itu kalau dia merasa nyaman, pasti dia jadinya manja sih, Yang. Jadi, yah aku nyaman sama aku," jawab Raka.
Adista giliran yang tersenyum. Dia merasakan sedikit masakannya dan merasa sudah enak. Sudah waktunya sarapan juga. Sehingga, Adista meminta Raka melepaskan dirinya.
"Cuci muka dan kita sarapan yuk, Mas. Aku kelaparan," aku Adista.
Raka mengangguk beberapa kali, dia mengurai pelukannya dan menuju ke kamar mandi terlebih dahulu. Cukup dengan mencuci muka dan menggosok gigi, Raka sekarang sudah menuju ke meja makan. Dia tersenyum melihat sarapan yang dibuatkan oleh Adista.
"Breakfast time," kata Adista.
"Enak pasti," balas Raka.
"Hm, sebenarnya aku cuma ngikutin resep di internet. Aku termasuk wanita yang jarang memasak. Dulu sebelum menikah, Ibu yang memasak di rumah. Aku sering hanya membantu sedikit dan bekerja. Maaf, kalau nanti rasanya kurang enak," aku Adista.
Raka kemudian tersenyum. Istrinya itu termasuk orang yang jujur. Tidak segan mengakui bahwa dulunya dia termasuk jarang memasak. Lebih banyak bekerja.
"Emang sejak kapan kamu kerjanya?" tanya Raka.
"Sejak selesai sekolah perhotelan itu. Usia 19 tahun udah bekerja dong. Harus mandiri dan membantu ekonomi orang tua," balas Adista dengan tersenyum.
Mendengarkan cerita Adista kali ini, Raka merasa kasihan sebenarnya. Ketika orang lain seusia Adista masih bersenang-senang, kuliah, atau main ke Mall, tapi istrinya itu sudah harus bekerja dan membantu perekonomian orang tuanya. Ada kalanya kedewasaan seseorang terjadi bukan karena usia, melainkan karena keadaan yang memaksa.
"Berarti kamu bekerja cukup lama dong. Hampir empat tahun," balas Raka.
"Iya, menikah muda juga. Suamiku juga semangat banget, jadinya langsung dung deh," balas Adista.
Lagi-lagi Raka menatap Adista. Apakah istrinya itu masih belum siap mengandung? Raka menjadi ingat bahwa Adista masih muda. Seusia adiknya sendiri. Bisa saja ada ketidaksiapan Adista.
"Yang, kamu belum siap memiliki baby yah?" tanya Raka.
"Enggak juga. Siap kok," balas Adista.
"Yakin?"
"Iya, yakin," balas Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Dia menatap Adista sesaat. "Kamu masih sangat muda. Siap menjadi Mama kan?"
"Iya, Mas Raka. Insyaallah, siap."
"Jadi, aku gak boleh bersemangat lagi?" tanya Raka kemudian.
"Jangan terlalu, kasihan baby nya," balas Adista.
Setelah itu, Raka dan Adista menghabiskan sarapan berdua. Setelahnya keduanya bergantian untuk mandi. Sayangnya, pagi itu usai mentari menyapa, sekarang justru gerimis di pagi hari.
"Kok pagi-pagi gerimis ya Mas?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Biarkan saja. Aku juga masih di sini setengah hari. Nanti aku ke La Plazza untuk meeting lagi," kata Raka.
Adista menganggukkan kepalanya. Dia memilih taat kepada suaminya. Mengikuti apa Raka sarankan untuknya.
"Sebenarnya kalau gerimis begini aku ...."
Raka mengatakan hal demikian, tapi urung menyelesaikannya. Dia merasa tidak enak kalau menyelesaikan ucapannya. Masih teringat dengan saran dari Dokter juga.
"Hm, kalau gerimis kenapa Mas?" tanya Adista.
Raka kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak apa-apa."
Sekarang keduanya berdiri bersama di depan kaca jendela besar yang memiliki menghadap langsung ke jalanan Ibukota. Dengan mendung yang bergelayut di langit ibukota. Surya pun sepenuhnya tertutup oleh awan putih di angkasa.
"Kamu ini kadang aneh sih, Mas. Tadi bicara apa tapi enggak diselesaikan. Padahal kan aku nungguin kelanjutannya," balas Adista.
"Enggak apa-apa. Bukan hal yang penting kok," balas Raka.
"Gerimis rasanya dingin, kamu juga ekspresinya jangan sedingin ini dong, Mas," balas Adista.
Raka melirik Adista. Ekspresinya memang kadang kala dingin. Begitu juga dengan ucapannya. Akan tetapi, Raka memang begitu. Walau sebenarnya pria itu adalah pria yang hangat.
Raka kemudian merangkul Adista. Membawa kepala Adista bersandar di dadanya, dengan dua tangan Raka memeluk Adista. Keduanya masih sama-sama berdiri dan melihat gerimis di luar sana. Dalam diam, Raka sesekali mengecup kepala istrinya. Sementara, Adista juga tak banyak bicara. Dia hanya menerka bagaimana perasaan suaminya sebenarnya. Namun, Adista memahami inilah Raka. Inilah kehangatan yang suaminya miliki. Suaminya itu bukan tipe pria bermulut manis.
"Kalau begini, kamu ... hangat," kata Adista.
Adista tak ragu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Kenyamanan itu memang ada kalanya hadir kala saling bersentuhan dan berpelukan seperti ini. Bahkan Adista sekarang merasa lebih baik kala disentuh oleh suaminya.
Raka tersenyum tipis. "Kamu ini bisa saja," balasnya.
"Kenapa Mas Raka bisa suka gadis biasa dan masih muda sepertiku? Tak ada yang menarik dariku," kata Adista.
"Untuk suka kadang tak memerlukan alasan, Yang. Aku tadi aja baru ingat, kamu seumuran adikku. Kamu begitu berbeda, begitu ranum dan menggoda. Cantik," kata Raka.
"Ha, maksudnya?" tanya Adista dengan melirik suaminya itu.
"Tak memungkiri pria suka gadis berwajah cantik, leher jenjang, dan tubuh yang indah. Kamu memiliki semua keindahan itu, tapi kamu menyembunyikannya. Kamu sangat sederhana. Walau sederhana dan bekerja keras, buktinya aku bisa tergoda," balas Raka.
Usai menjawab itu Raka berdehem beberapa kali. Ekspresinya datar seperti biasa, tapi Adista justru tersenyum.
"Ku kira kamu itu Bos Mesum," balas Dista.
"Tidak juga. Sama kamu aja aku lepas kendali," sahut Raka dengan cepat.
"Aneh."
"Memang aneh. Faktanya ya begitu. Makanya aku harus berusaha mendapatkan kamu apa pun yang terjadi. Kalau di Lombok kala itu, aku nekad. Kamu habis, Sayang," kata Raka.
"Bukannya sudah nekad. Sudah ujicoba?"
Raka akhirnya tersenyum. "Walau begitu cetak goalnya usai akad. Udah jangan bahas-bahas begitu. Ah, gerimis ini ...."
Raka kembali menjeda ucapannya. Sebenarnya apa yang Raka inginkan kala gerimis kala ini? Ketika dia menjeda, Adista justru tertawa. Pasangan dengan karakter berbeda, tapi lihatlah keduanya bisa saling menghangatkan satu sama lain.