Staycation With Boss

Staycation With Boss
Cerita Mama Erina



Tidak terasa Baby Qiana sudah berusia satu bulan sekarang. Baby kecil itu tumbuh dengan dilimpahi kasih sayang dari Mama, Papa, Oma, Opa, hingga Kakek dan Nenek mereka. Mungkin juga karena Baby Qiana adalah cucu pertama untuk keluarga Syahputra dan juga keluarga Gusti, sehingga memang Oma dan Opa, serta Kakek dan Neneknya sangat sayang kepada Qiana.


Akan tetapi, kali ini ada Oma Erina yang turut serta mengantar Baby Qiana ke Rumah Sakit. Tujuannya adalah untuk mengecek tumbuh kembang Qiana dan sekaligus mendapatkan imunisasi rutin untuknya.


"Dianterin Oma yah, Qiana," kata Mama Erina yang tampak senang menggendong cucunya yang cantik itu.


"Qiana justru senang, Oma. Oma sedang tidak sibuk di butik yah?" tanya Adista.


"Sama sekali tidak sibuk, Dista. Mama banyak di rumah. Butik sudah bisa dihandle oleh para karyawan. Kangen sama Qiana Cantik," kata Mama Erina.


Raka yang mengemudikan mobil tersenyum tipis mendengar ucapan Mamanya. Namun, di dalam hatinya Raka senang karena Qiana benar-benar mendapatkan banyak cinta dari keluarga besarnya.


"Ma, dulu Papa waktu Mama usai bersalin apa yah di rumah begitu lama?" tanya Adista sekarang.


Tidak langsung menjawab, Mama Erina justru tertawa. Usai itu, Mama Erina menganggukkan kepalanya. "Kamu boleh percaya, boleh tidak, Dista. Ketika Raka recovery dari kecelakaan yang pernah dia alami saat kecil, sejak saat itu Papamu selalu bekerja dari rumah. Hanya ke kafe kadang kala saja dan saat ada meeting."


Adista benar-benar tak percaya, tidak percaya bahwa Papa sudah begitu lama bekerja dari rumah. Apakah tidak bosen setiap hari di rumah? Bagaimana menjalin hari dengan pasangan selama 24 jam?


"Ha, serius Ma?"


"Iya, serius. Saat Raka masih kecil, Mama dan Papa pernah mengalami masalah rumah tangga dan sangat serius. Di saat itu, Raka mengalami amnesia retrograde. Papamu memutuskan untuk stay di rumah, sementara Mama yang bekerja walau tak penuh waktu. Sejak saat itu ya sampai sekarang Papamu lebih banyak bekerja dari rumah," cerita Mama Erina.


Mendengarkan cerita Mama Erina, Adista menyimpulkan bahwa mungkin saja Raka itu mirip dengan Papa Zaid. Setelah memiliki Qiana, Raka menjadi lebih nyaman bekerja dari rumah. Enggan untuk keluar rumah.


Sebelum Adista menjawab, rupanya Raka membuka suara terlebih dahulu. "Raka sudah mulai bekerja hybrid kok, Ma. Walau belum full seharian. Kadang Raka bekerja dari rumah, kadang ke hotel. Cuma ada yang gak seneng aja," balas Raka dengan melirik Adista.


Mama Erina malahan tertawa. Biasa, pasangan muda ada aja problematikanya. Walau demikian, menurut Mama Erina memang Raka itu lebih banyak kemiripannya dengan Papa Zaid.


"Dinikmati, Dista. Tandanya suami kita itu terlalu sayang dengan pasangan dan keluarganya."


"Iya, Ma. Asalkan pekerjaan beres aja, Ma. Kan banyak karyawan yang membutuhkan Mas Raka," balas Adista.


"Yang dikatakan istrimu benar, Ka. Kamu harus bekerja keras dan tanggung jawab, banyak karyawan La Plazza yang bergantung kepadamu," kata Mama Erina kepada Raka.


"Siap, Ma. Semua pekerjaan beres kok, Ma. Operasional hotel juga aman," balas Raka.


"Dista sendiri gak nyaman ya kalau Raka seharian di rumah?" tanya Mama Erina.


"Ya, nyaman, Ma. Nyaman banget. Cuma kasihan karyawan kalau ada keperluan dengan Bossnya, tapi gak bisa berkomunikasi langsung. Begitu aja sih, Ma."


"Ya dicari jalan tengahnya. Yang penting sih kalian berdua nyaman. Kalau butuh cerita, Mama siap mendengarkan, Dista."


Adista kemudian tertawa. Mama mertuanya itu memang sangat baik. Terlihat betul bagaimana Mama Erina sayang kepada Adista. Nasihatnya juga baik yaitu untuk mencari jalan tengah dengan menghadapi semua problem.