Staycation With Boss

Staycation With Boss
Walau Tanpa Cinta



Memang tak dipungkiri ada kalanya hasrat alamiah itu muncul. Terlebih Raka adalah pria dewasa yang sehat secara hormonal juga. Sejak menikah, dia berkali-kali menahan terpaan badai yang datang. Sekarang, Raka merasakan hasratnya menaiki hingga ke ubun-ubun. Sampai-sampai, Raka bertanya demikian kepada istrinya.


"Bisakah kita melakukannya walau perasaanmu belum beres?"


Rasanya terkesan ambigu. Sesaat yang lalu, Raka mengatakan bisa menunggu, tapi sekarang Raka bertanya bisa melakukannya walau perasaan Adista sendiri masih belum jelas. Tindakannya terkesan Impulsif, tapi sebenarnya semua ini adalah perasaan Raka yang sesungguhnya.


"Pak Raka," suara Adista terdengar dengan sorot matanya memperhatikan ibu jari Raka yang masih mengusap lipatan bibirnya.


Raka tak banyak berbicara. Namun, hasratnya naik dengan sendirinya. Tak pernah sebelumnya bereaksi seperti ini kepada seorang wanita. Akan tetapi, bersama dengan Adista, Raka bisa merasakan hasratnya memuncak.


"Ah, sudahlah. Bagaimana pun kamu tidak akan bisa menerimaku," kata Raka dengan menyudahi usapan ibu jarinya di bibir Adista.


Usai itu, Raka mengambil jarak dari Adista. Pria itu kemudian mengusapi wajahnya beberapa kali dengan maksud menghilangkan hasrat yang memuncak. Dia harus sabar dan tahan. Sudah Raka katakan sebelumnya bahwa dia bisa menunggu Adista.


"Mandilah, ada beberapa pakaianmu yang dikirimkan ART di rumah tadi siang. Di walk in closet paling ujung, sudah ditata di sana," kata Raka.


Adista akhirnya mengangguk. Dia tidak menjawab sama sekali, dan menuju ke walk in closet yang ujung dan mencari baju gantinya. Seperti biasa, Dista mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Kemudian wanita itu bergegas untuk mandi. Hanya membutuhkan waktu belasan menit saja Adista sudah menyelesaikan mandinya. Setelah itu, Raka yang giliran masuk ke dalam kamar mandi.


Jika tadi Dista mandi dengan menggunakan air hangat. Sekarang, Raka mandi dengan menggunakan air dingin. Agaknya sekarang Raka harus puas mandi dengan air dingin dulu untuk mendinginkan hasratnya yang benar-benar bergelora.


"Sampai kapan aku harus mandi dengan air dingin, Dista? Hasratku saja tidak terpenuhi. Hanya air dingin yang meredakan sejenak letupan demi letupan di dalam diri ini," gumam Raka.


Usai itu, Raka keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengenakan pakaian. Cukup kaos oblong dan juga celana pendek saja. Kemudian dia mengedarkan pandangannya mencari Adista, rupanya istrinya itu tengah berdiri di depan kaca jendela besar di sudut apartemen dengan panorama Ibu Kota di malam hari. Aneka gedung pencakar langit bersolek dengan lampu-lampunya. Wajah Adista pun menunjukkan keresahan di sana.


"Kamu di sini," kata Raka.


Bahkan sekarang Raka berdiri di belakang Adista. Pria itu mendekap Adista dari belakang. Tindakan Raka yang serba spontanitas seperti ini membuat Adista berdebar-debar. Kalau mau jujur, pria pertama yang menyentuhnya juga adalah Raka. Dengan Rayyan tak ada kontak fisik. Pacaran mereka secara virtual, hanya saling menyemangati satu sama lain.


"Pak Raka," balas Adista.


Ya Tuhan, didekati dan didekap Raka dengan seerat ini membuat Adista panas dingin. Dia membeku di sana. Seolah es batu setebal balok melingkupinya. Sementara Raka adalah bola api yang siap mencairkan balok es berkubik-kubik itu.


"Sebelumnya aku tak pernah bergairah seperti ini. Akan tetapi, dekat denganmu membuatku selalu mendamba," kata Raka.


Bukan sekadar mendekap, tapi bibir Raka pun bergerak. Dia sapa telinga Adista dan menggigit cupingnya kecil. Ada kalanya bibirnya mengecup tengkuk hingga bahu Adista. Pria itu mengakui bahwa dekat dengan Adista membuat dirinya menjadi begitu mendamba. Sangat mendamba malahan.


Seakan panorama ibukota di luar sana menjadi saksi bagaimana Raka begitu merindukan, mendamba kepada sosok istrinya. Adista menjadi bertanya-tanya kenapa suaminya itu ada-ada saja tindakannya. Entah itu, memeluk, mencium, bahkan membuat jejak-jejak cinta di lehernya.


"Bagaimana, Dista ... kalau aku tidak bisa menahan lagi? Benteng pertahananku tidak sekuat yang terlihat," kata Raka.


"Jangan, Pak," sahut Adista dengan berlinang air mata.


Lagi dan lagi, dia harus menolak suaminya itu. Semuanya Dista lakukan karena belum siap dengan hatinya. Bahkan ada kalanya diri terasa kotor manakala mengingat semalam di Lombok dulu.


"Padahal di Lombok dulu, kita bisa melewati malam menggelora walau tanpa cinta," kata Raka.


"Kali ini, biarkan cinta hadir Pak Raka. Jangan mengulangi lagi kesalahan semalam," pinta Adista.


Raka bertanya demikian adalah untuk meminta kepastian bahwa Adista tidak akan menolaknya lagi. Raka ingin kehidupan rumah tangga yang alamiah, ada hubungan percintaan suami istri yang akan lebih mendekatkan keduanya.


"Sebulan, beri aku waktu sebulan," pinta Adista.


"Usai sebulan, kita Staycation bersama?" tanya Raka kemudian.


Kali ini Staycation yang dimaksudkan oleh Raka adalah bulan madu bersama. Dia memang menunda bulan madu karena pasti Adista juga tidak mau bercinta dengannya. Sehingga, sekarang Raka menawarkan Staycation bersama.


"Staycation lagi?" tanya Adista.


"Yah, full of love. Aku akan menahan sebulan lagi, tapi jangan berharap aku akan bersabar usai ini," balas Raka.


"Maksudnya?"


"Setelah sebulan, siap atau tidak siap beres atau tidak beres perasaanmu, aku akan meminta hakku sebagai suamimu."


Raka sudah berkata jujur sekarang. Waktu yang dia berikan untuk Adista hanya satu bulan saja. Setelah satu bulan berlalu, siap atau tidak siap, beres atau tidak beres, Raka akan meminta haknya. Toh, menunggu sebulan sudah terhitung lama. Raka merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


"Setuju?" tanya Raka.


"Aku akan mencobanya," balas Adista.


Raka menganggukkan kepalanya. Setidaknya Adista mau untuk mencoba. Itu sudah jauh lebih baik. Mulai esok, Raka akan menunggu hingga tiga puluh hari ke depan. Setelah itu, apa pun yang terjadi Raka akan meminta haknya sebagai seorang suami.


"Terbiasalah denganku ... siapa tahu kalau terbiasa denganku, kamu tidak akan takut dan sungkan, perasaan itu juga bisa tumbuh," kata Raka.


"Aku akan mencobanya Pak Raka," balas Adista.


"Baiklah, besok sudah akhir pekan. Aku akan mengurungi di apartemen. Jangan coba-coba mencari kegiatan di luar apartemen," kata Raka kepada Adista.


"Apa tidak boleh aku mengunjungi Bapak dan Ibu?" tanya Adista.


Jujur, Adista sudah merasa rindu dengan Bapak dan Ibunya. Dia ingin tahu kondisi Desta juga. Mumpung akhir pekan, Adista ingin mengunjungi keluarganya.


"Kamu ingin ke rumah orang tuamu?" tanya Raka.


"Kalau Pak Raka memperbolehkan," balas Adista.


"Oke baiklah, tapi sebelumnya kamu harus membayarnya terlebih dahulu," balas Raka.


"Membayar dengan apa?" tanya Adista.


"Biarkan aku membuat tanda merah dulu di sini," jawab Raka dengan jari telunjuknya yang menunjuk sembulan dada Adista.


Ya Tuhan, suaminya itu sangat nakal atau bagaimana. Adista seketika tak memberikan jawaban. Dia bingung harus menyingkapinya bagaimana.