Staycation With Boss

Staycation With Boss
Ketukan di Malam Hari



"Ma, Mama masak apa Ma? Tadi pagi kami kehabisan bahan makanan," kata Adista.


Itu adalah kalimat pertanyaan untuk mengalihkan perbincangan Raka dan Rayyan yang membuat ketiga belah pihak merasa tidak nyaman. Ya, Adista sudah bisa menebak ke mana pembicaraan Raka dan Rayyan. Lagipula, di rest area mereka berdua hanya minum kopi bersama.


"Kalian tidak membeli makanan di rest area?" tanya Mama Erina.


"Hanya minum kopi saja, Ma. Adista tidak mau makan, mau makan di rumah," balas Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Maaf, memang Dista yang tidak mau makan. Masih terlalu pagi dan perjalanan tadi hujan deras, sehingga lebih ingin tiba di rumah," jelas Adista.


"Kalian ini ... harusnya yah cari makan dulu. Raka, tawarin istrimu makan yang enak. Uangmu tak akan habis hanya membelikan makanan untuk istrimu," kata Mama Erina.


"Bukan salahnya Mas Raka kok, Ma. Dista yang ingin makan di rumah. Maaf," kata Dista.


Rupanya Dista bersandiwara sekarang. Dia mengingat permintaan suaminya untuk memanggilnya dengan sebutan yang lain kalau bersama keluarganya. Dista pun tanggap, dia memanggil Bossnya itu dengan sebutan Mas.


"Udah kemajuan sekarang. Dulu, sebelum akad aja manggilnya Pak Raka. Sekarang, manggilnya Mas. Sweet yah," balas Mama Erina lagi.


"Mama kadang memanggil Papa dengan panggilan Mas juga kan?" tanya Raline sekarang.


Mama Erina kemudian tertawa. "Iya, benar Raline. Dulu Mama memanggil Papamu dengan panggilan Mas juga. Tidak menyangka menantu Mama juga sama sekarang," balas Mama Erina.


"Jangan diajak ngobrol terus, Ma ... kasihan Raka dan Dista belum makan," kata Papa Zaid sekarang.


"Sana ke meja makan. Bibi sudah menyiapkan. Kalian makan berdua tidak apa-apa kan? Kami sudah sarapan tadi," kata Mama Erina.


Akhirnya Raka dan Adista menuju ke meja makan. Ada Rayyan yang memperhatikan keduanya dengan mulut yang terkatup. Rayyan sendiri merasakan kesal dan sedih sekarang. Akan tetapi, tidak mungkin dia menyela Kak Raka dan Adista sekarang. Rasanya akan menjadi tak sopan dan juga Mama dan Papanya akan curiga kepadanya.


"Makasih yah," kata Raka dengan suara yang pelan.


"Hm, untuk apa Pak?" tanya Dista.


"Sudah memanggilku dengan panggilan yang berbeda. Makasih," kata Raka.


Usai itu, keduanya makan dengan tenang. Tampak tak banyak obrolan yang mereka lakukan bersama. Walau begitu, Adista berusaha melayani suaminya di meja makan. Mengisi piring kosongnya dengan nasi, sayuran, dan lauk. Adista juga mengambilkan segelas air putih untuk Raka.


Dari jauh ada Mama Erina yang memperhatikan keduanya. Walau pasangan muda itu terlihat tenang, tapi Mama Erina merasa bahagia ketika Raka sudah menikah. Ada seorang istri yang melayani kebutuhan Raka.


"Usai ini kita istirahat yah," ajak Raka.


"Di mana Pak?" tanya Adista.


"Di kamarku, di mana lagi coba," balas Raka.


Adista menundukkan wajahnya. Entah, rasanya malu ketika suaminya itu menyebut kata kamarnya. Akan tetapi, Adista berusaha bersikap senormal mungkin untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan.


"Baik," jawab Adista singkat.


Sesuai mengisi perutnya dengan berbagai makanan lezat. Raka dan Adista memilih untuk istirahat. Sekaligus ini menjadi kali pertama bagi Adista memasuki kamar suaminya di rumah mertuanya.


Sama seperti kamar cowok pada umumnya, konsepnya minimalis. Bahkan ada sisi dinding yang temboknya dilapisi dengan warna hitam. Adista sampai heran kenapa di kamar suaminya itu memang banyak furniture dengan warna hitam.


"Kenapa gelap sekali?" tanya Adista.


"Semuanya akan berubah di rumah kita nanti," balas Raka.


Mendengarkan apa yang disampaikan oleh suaminya, Adista memilih diam. Setelah itu, Adista memilih mengganti pakaiannya dulu dan mencuci wajah, tangan, dan kaki. Dia mengamati pemandangan yang langsung menghadap ke taman dari jendela besar di kamar suaminya itu.


"Istirahatlah, aku akan bekerja dulu," kata Raka.


"Baik, Pak Raka," balas Adista.


Merasa sudah mendapatkan izin dari suaminya kemudian Adista memilih istirahat saja. Perjalanan jauh dari Lembang membuatnya mengantuk sekarang, karena itu Adista memilih tidur. Sementara Raka berkutat dengan Macbook di tangannya dan mengecek setiap laporan dari Divisi yang ada di hotel.


...🍀🍀🍀...


Malam Harinya ....


Usai makan malam, Adista dan Raka bergabung dengan keluarganya dan terlibat di dalam obrolan malam itu. Dengan keluarga yang sangat solid dan bahagia seperti ini Adista sangat yakin bahwa keluarga Syahputra memang bahagia. Potret keluarga cemara.


"Setelah menikah nanti, kamu apa mau tetap bekerja, Dista?" tanya Mama Erina sekarang.


"Iya, Ma. Dista masih ingin bekerja."


Dalam pemikiran Dista, jika dia bekerja, dia masih bisa membantu keluarganya. Memang Raka sudah begitu kaya raya. Akan tetapi, yang diberikan untuk keluarganya, Dista ingin memberikan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dia tidak ingin kalau keluarganya juga menjadi beban untuk Raka.


"Apa nyaman bekerja dengan Raka? Sementara di La Plazza tidak ada yang tahu pernikahan kalian?" tanya Papa Zaid sekarang.


"Justru itu bagus, Pa. Sehingga di hotel, Dista diperlakukan sama. Tidak diistimewakan dari para staff yang lain," balas Adista.


"Bukannya suaminya memang harus mengistimewakan istrinya yah?" tanya Rayyan sekarang.


Raka yang semula diam, sekarang pun dia hendak memberikan jawaban. "Diperlakukan istimewa asal tahu tempat tidak apa-apa, Ray. Tidak mengundang kecurigaan dari pegawai yang lain," balas Raka.


"Kenapa disembunyikan, Kak? Bukankah pernikahan itu kabar bahagia dan bisa dibagikan?" tanya Rayyan lagi.


Lantaran Papa Zaid sudah menjawab. Sehingga sekarang, Rayyan tidak bisa mendesak dengan berbagai pertanyaan lagi. Hingga akhirnya, Rayyan memilih untuk diam. Sedangkan Raka meminta izin untuk istirahat malam dengan istrinya.


"Kita tidur? Kita masih kurang istirahat," kata Raka.


"Iya, Mas," balas Adista.


Akhirnya keduanya berpamitan dan kembali menaiki tangga menuju ke dalam kamar Raka. Begitu sudah memasuki kamar, Raka tampak mengusapi wajahnya beberapa kali. Pertanyaan demi pertanyaan yang disampaikan adiknya membuatnya kurang nyaman juga. Untung saja Papa Zaid sigap memberikan jawaban.


"Kamu besok juga mau bekerja?" tanya Zaid.


"Iya, Pak," balasnya.


"Dista, agaknya aku harus melakukan sesuatu ke kamu," kata Raka sekarang.


Pandangan Raka yang begitu lekat seakan menjadi pandangan yang sukar untuk dideskripsikan. Pun, dengan Adista yang terlihat menunggu kira-kira apa yang hendak dilakukan suaminya itu kepadanya.


"Hm, melakukan apa Pak?" tanya Adista dengan bingung.


"Kamu keberatan enggak, kalau aku membuat beberapa tanda di leher kamu?" tanya Raka sekarang.


Adista membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka suaminya akan berkata demikian. Tentu saja, Adista tidak setuju. Terlebih esok dia harus bekerja, tanda-tanda merah itu pastilah terlihat.


"Apa-apaan sih, Pak," balas Adista.


"Sorry, Dista. Hanya saja, aku ingin menunjukkan kepada Rayyan kalau kamu adalah milikku," kata Raka.


Ada perasaan tidak ingin sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya pada akhirnya harus direbut oleh Rayyan. Raka ingin menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga yang dia bina dengan Adista itu penuh dengan petualangan cinta bersama.


Belum Dista memberikan jawaban, Raka sudah mendekat. Kini pria itu berdiri di hadapan Dista. Dengan satu tangan yang membelai sisi wajah Dista. Kalau Raka tidak menahan diri pastilah Raka akan mengecup bibir yang merekah layaknya kelopak bunga itu. Menghisap nektar demi nektar yang bersembunyi dan bersarang di dalam bibir itu. Akan tetapi, Raka belum memiliki keberanian.


Maka sekarang, yang Raka lakukan adalah menelisipkan untaian rambut Adista ke satu sisi. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Adista, terasa dingin tangan Adista yang sekarang dia genggam.


"Hanya membuat jejak merah tanda cinta saja. Tidak akan lebih," kata Raka.


"Pak Rakaaa ...."


Maka sekarang, Raka menunduk. Kembali dia jatuhkan kecupan demi kecupan di leher jenjang Adista. Bisa Raka cium aroma parfum yang manis di sepanjang tulang selangka istrinya. Namun, Raka tidak boleh kehilangan akal. Bagaimanapun juga Adista belum siap menerimanya. Namun, sekarang Raka ingin bermain-main di sana. Bukan hanya kecupan, tapi juga usapan dengan lidahnya yang meninggalkan jejak basah di leher Adista.


Oh, rasanya benar-benar ada gelenyar yang sekarang Adista rasakan. Gadis itu berusaha membentengi dirinya. Bagaimanapun, bagian garis leher adalah bagian yang sensitif. Oleh karena itu, kecupan dan pergerakan bibir suaminya saja merupakan pemicu yang bisa membangkitkan gelenyar asing.


Raka benar-benar menikmatinya. Terlebih bisa Raka rasakan remasan tangan Adista di tangan yang sekarang saling menggenggam. Walau Adista tak mende-sah sama sekali. Akan tetapi, napas yang Adista hirup terasa begitu berat.


Baru beberapa saat, Raka menjatuhkan jejak-jejak basah di sana. Hingga akhirnya, Raka membuka sedikit mulutnya. Lantas, dia memberikan gigitan kecil dan menghisap dalam-dalam leher Adista.


Kali ini, Dista merasakan sensasi perih yang bercampur dengan nuansa yang membuat tubuhnya panas dingin.


"Hh, Pak Raka," suara Dista sekarang.


"Tahan, Dista ... Dista ...."


Raka pun menyahut. Kembali Adista bisa mendengarkan suara yang berat dan parau itu. Sungguh, hanya suara Raka saja membuat Adista yang semula memejamkan matanya sekarang dia membuka kembali kedua matanya. Adista harus membentengi dirinya sendiri sekarang.


Namun, Raka masih tak bisa berhenti. Justru napas Raka kian berat, dan pria itu menyebutkan nama istrinya beberapa kali. Akan tetapi, keduanya menjadi terkesiap mana kala mendengarkan ketukan di pintunya.


Took ... Tokk ... Tokkk ....


Belum membuka pintu, Raka meminta Adista berbicara sejenak.


"Mas ... Raka ...."


Hingga akhirnya kegiatan Raka berhenti. Pria itu sedikit tersenyum tipis kemudian meminta Adista untuk sedikit bersembunyi kala dia hendak membukakan pintu.


"Tunggu dulu yah," kata Raka.


Adista sekarang bisa menetralkan napasnya yang terengah-engah. Wanita itu memejamkan matanya. Memprediksi apakah dulu suaminya itu juga melakukan seperti ini. Terlebih ada rasa perih di lehernya, mirip sekali dengan satu malam di Lombok dulu.


Ketika Raka membukakan pintu, ternyata ada Rayyan di sana. Tampak Rayyan juga menatap kakaknya.


"Kak Raka," kata Rayyan.


"Ya, ada apa, Ray?" tanya Raka.


"Tata sudah tidur yah, Kak? Ada yang ingin aku sampaikan," kata Rayyan.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, nyaris tertidur, Ray. Sayangnya dia tidak bisa ditemui. Kamu tentu tahu apa yang dilakukan pasangan pengantin baru bukan?" balas Raka.


"Oh, maaf, Kak," balas Rayyan.


Setelah itu, Rayyan memilih berpamitan dan pergi. Pemuda yang sejatinya tengah patah hati dan belum ikhlas itu merasa dilema. Ada rasa tak rela ketika mantan pacar kini sekamar Kakaknya. Selain itu, wajah Kak Raka yang memerah pun dan tadi Rayyan mendengar de-sahan Adista membuat Rayyan yakin keduanya tengah melakukan sesuatu berdua.


"Apa benar kamu menikmati bercinta kepada Kakakku, Ta? Apakah mungkin kamu bisa melakukannya sementara di dalam hatiku saja masih ada kamu. Walau, kamu sudah bisa menerima, Kak Raka ..., aku justru belum bisa menghapusmu dari hatiku."


Suara hati seorang Rayyan yang merasa belum ikhlas melepaskan Adista. Namun, de-sahan yang dia dengar barusan begitu nyata. Rayyan pergi ke dalam kamarnya dengan bimbang dan hati yang benar-benar kalut sekarang.