Staycation With Boss

Staycation With Boss
Jika Tak Bisa Berhenti?



Sebenarnya yang mula-mula Raka rasakan adalah rasa tidak rela ketika adik kandungnya menggenggam tangan istrinya. Dadanya terasa sakit memperhatikan Raka dan Adista dari jauh. Hingga akhirnya, Raka menggenggam tangan Adista dan dia jatuhkan beberapa kali kecupan di punggung tangannya.


Adista merasakan gelenyar dalam dirinya mana kala bibir Raka mengenai permukaan kulit punggung tangannya yang kala itu begitu dingin. Sementara Raka mengakui bahwa hujan di luar sana menyulut perasaan yang tak menentu di dalam dirinya. Ada rasa cemburu, amarah, dan kasih tak sampai yang belum sempat Raka ucapkan.


"Tolong hentikan Pak Raka," suara Adista terdengar.


Ada rasa takut di dalam hatinya. Terlebih ketika hatinya masih belum bisa menerima suaminya itu. Adista mulai terisak mana kala Raka sekarang mendekapnya dari belakang. Ya, tubuh Raka begitu menempel dengannya dengan kedua tangan Raka yang melingkari pinggangnya.


Tak hanya itu, Raka menelisipkan untaian rambut Adista di satu sisi, lantas pria itu menjatuhkan kecupan di sisi garis leher Adista. Cup. Cup. Cup.


Rasanya begitu aneh. Adista hanya bisa menangis. Dengan dua tangan luruh di samping kiri dan kanan tubuhnya. Apakah iya, ketika dirinya sedang patah hati justru suaminya melakukan semua tindakan ini?


"Bagaimana kalau aku tidak bisa berhenti, Dista?" tanya Raka.


Suara Raka pun sudah berubah menjadi parau dan dalam. Harus Raka akui bahwa sekarang dia sangat mendamba. Dia menginginkan Adista. Akan tetapi, wanita yang dia cintai masih menunjukkan sikap abu-abu. Masih merasa patah hati dengan melihat Rayyan.


"Tolong Pak Raka, hiks!"


Bukan hanya sekadar meminta untuk berhenti, tapi Adista juga terisak. Walau bulu romanya sudah berdiri. Akan tetapi, Adista sangat takut. Lebih dari itu, Adista juga merasa belum siap.


Namun, isakan tangis Adista tak menghentikan Raka. Pria itu masih saja mengecupi garis leher hingga tulang selangka istrinya. Kulit yang terkesan masih basah lantaran air hujan justru sangat menyulut Raka. Tak hanya itu, ada belaian yang Raka berikut di sepanjang bahu, turun ke lengan, dan kian turun hingga ke telapak tangan Adista. Bisa Raka rasakan telapak tangan Adista yang dingin. Namun, hingga di detik ini, Raka masih enggan berhenti.


"Pak Raka bilang aku harus membereskan hatiku dulu bukan? Jadi, tolong jangan lakukan ini ketika aku sepenuhnya belum siap," pinta Adista.


Barulah kali ini, Raka menghentikan kegilaannya. Walau hasrat sudah menaik hingga ke ubun-ubun kepala, tapi Raka berusaha menghentikannya karena menghormati Adista. Walau begitu tangan Raka masih mendekap tubuh Adista yang mulai merasakan kedinginan.


"Baiklah," kata Raka dengan suaranya yang masih terdengar parau.


Adista terisak-isak sekarang. Serasa takut dan lega karena berhasil lepas dari hewan buas, walau dia adalah suaminya sendiri. Raka kemudian mengurai dekapannya.


"Mandilah dulu, tubuhmu menggigil kedinginan. Jangan sampai masuk angin," kata Raka.


Bahkan Raka sendiri yang mengantarkan Adista masuk ke dalam kamar mandi. Usai itu, Raka memilih untuk turun ke bawah. Pria itu memilih mandi di kamar mandi yang ada di bawah. Walau udara terasa dingin dan hujan dengan begitu derasnya, Raka memilih mandi air dingin. Hal itu sengaja dia lakukan untuk mendinginkan dirinya sendiri, serta mendinginkan sesuatu dalam dirinya yang tadi mulai tersulut.


"Sampai kapan aku puas hanya dengan mandi air dingin?"


Pria itu bergumam dengan berdiri di bawah guyuran air shower. Jika tidak bermaksud mendinginkan diri, pasti Raka memilih mandi air hangat. Bagaimana pun udara di sekitar villa itu dingin dan juga hujannya sangat deras.


Ya, Raka kembali menenangkan dirinya sendiri untuk bersabar. Akan ada masanya di mana Adista bisa menata hatinya, membereskan perasaannya, dan juga menerima dirinya. Entah kapan, Raka juga tidak tahu. Akan tetapi, Raka akan berusaha menunggu.


Selain itu, Raka merasa di sisi Rayyan sendiri juga harus ikhlas. Kalau berbicara sakit dan terluka, pastilah sekarang rasanya sakit dan terluka. Akan tetapi, Raka hanya ingin mempertahankan Adista sebagai wanita yang sudah dia nikahi. Andai Raka sudah tahu sejak semula, pasti juga tidak akan menaruh hati kepada wanita yang berstatus sebagai pacar adik kandungnya sendiri.


Setelah mandi, Raka kemudian membawa teh hangat sembari menaiki anak tangga ke kamar Adista. Pria itu mengetuk pintu kamar dan berharap Adista sudah selesai mandi.


"Dista, buka pintunya," kata Raka.


Selang beberapa saat kemudian, Adista membukakan pintu. Adista bingung juga melihat Raka yang juga terlihat usai mandi. Itu terlihat dari rambut Raka yang basah, semerbak aroma sabun dan parfum yang sangat wangi, dan Raka yang berganti baju sekarang.


Raka memasuki kamar itu, dan duduk di sofa setelah sebelumnya menaruh nampan di atas meja. Lantas, Raka menyerahkan teh panas untuk Dista.


"Minumlah, selagi masih panas," kata Raka.


"Makasih Pak Raka," balas Adista.


Berusaha menenangkan diri, Adista kemudian meminum teh yang memang masih panas itu. Tidak mengira seorang Boss besar seperti Raka mau datang dengan membawa dua cangkir teh panas. Padahal seharusnya sebagai istri, Adista yang akan melayani suaminya.


"Sudah lebih baik?" tanya Raka.


Adista menganggukkan kepalanya perlahan. Walau wajahnya masih sembab dan bola matanya masih memerah dan juga terasa pedas sekarang. Akan tetapi, Adista berusaha menenangkan dirinya.


"Iya," jawab Adista singkat.


"Syukurlah, lusa aku akan masuk bekerja lagi. Kamu boleh cuti jika memang masih mau cuti. Masuk bekerja pun tidak jadi masalah," kata Raka.


"Aku juga akan masuk bekerja," balas Adista.


Sebagai karyawan rendahan walau sekarang dia bukan lagi pegawai kontrak, tapi Adista akan tetap menghargai Bossnya. Mana ada seorang pegawai enak-enak cuti ketika si Boss sudah bergelut dengan pekerjaan. Oleh karena itu, Adista juga memilih untuk bekerja.


Raka menganggukkan kepalanya. Jujur, Raka juga lega ketika Adista memilih untuk bekerja. Sebab, ketika berada di rumah orang tuanya bisa saja waktu bertemu antara Dista dan Rayyan lebih banyak. Selain itu, Raka juga belum tahu kapan adiknya akan kembali lagi ke London untuk melanjutkan kuliahnya.


Saat Dista memilih bekerja, dianggap Raka adalah pilihan yang tepat. Setidaknya dari kantornya, dia juga bisa mengawasi Dista. Bukannya tak percaya, tapi terlihat masih ada cinta di mata Adista untuk adiknya sendiri. Oleh karena itu, semua kemungkinan buruk masih bisa saja terjadi. Masih ada kemungkinan bahwa hati istrinya itu akan goyah, kembali ke Rayyan, dan melupakan pernikahan yang baru saja terjadi itu. Untuk itu, Raka merasa kondisi pernikahannya belum sepenuhnya aman dan stabil karena Dista yang masih memiliki sisa rasa untuk adiknya, Rayyan.