Staycation With Boss

Staycation With Boss
Diskusi Finansial



Sepulang dari bekerja, Adista memilih untuk menunggu di halte yang berada di depan hotel. Tentu itu Adista pilih supaya tidak ada sekuriti yang tahu kalau dia satu mobil dengan Raka. Adista memiluh berjalan kaki sebentar dan nanti suaminya itu menjemputnya.


Sama seperti sore ini, Adista sudah duduk di halte bus. Lantas ada mobil yang berhenti di depannya. Tampak pria tampan mengenakan kemeja batik panjang turun dari mobil dan mempersilakan Adista untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Silakan," kata Raka.


Adista pun memasuki mobil suaminya itu. Hingga akhirnya Raka melajukan mobilnya. Mereka masih harus tinggal di apartemen terlebih dahulu karena rumah yang Raka pesan sebelumnya masih dalam tahap finishing.


"Makasih, Mas. Susah yah, harus di sini," balas Adista.


"Tidak apa-apa. Demi kenyamanan kamu. Takut banget sih kalau sekuriti La Plazza tahu," balas Raka.


Adista kemudian tersenyum. "Ya, cari aman dulu saja, Mas. Setidaknya aku bisa bekerja dulu, Mas," balas Adista.


"Bekerja saja. Kamu mau bekerja sampai kapan?" tanya Raka kemudian.


"Entahlah, mungkin kalau sudah mulai hamil, aku resign aja kali yah ... atau pekerjaan yang bisa aku kerjakan di rumah," kata Adista.


Raka masih tersenyum tipis. Dia kemudian memilih segera melajukan mobilnya sampai di apartemen. Raka rasanya sore ini lebih lelah karena harus mengecek beberapa laporan yang masuk ke mejanya. Selain itu, melihat laporan tiap divisi untuk event yang akan diselenggarakan di La Plazza Hotel.


"Aku hari ini kok lebih capek yah," keluh Raka sekarang.


"Mandi hangat dulu, Mas. Biar hilang capeknya," balas Adista.


"Sama kamu?"


Dengan cepat Adista menggelengkan kepalanya. "Gak bisa. Periode merah, Mas. Maaf yah," balas Adista.


"Sejak kapan?"


"Tadi, waktu istirahat aku kok merasa enggak nyaman. Ternyata benar," balas Adista.


Sebenarnya Raka menginginkan bisa berbagi kehangatan dengan istrinya. Sayangnya, tidak bisa karena istrinya sekarang sedang dalam periode tidak boleh disentuh terlebih dahulu. Raka kembali mengingat itu artinya dia harus libur selama satu minggu.


"Libur satu minggu dong?"


"Iya, satu mingguan. Bisa kan?"


"Berat. Begini banget yah ... aku baru tahu," balas Raka dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Akhirnya, pasangan itu bergantian mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Usai itu, Raka duduk di sofanya masih sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Mau dibuatin minum, Mas?" tanya Adista.


"Maunya sih Susu ... tapi gak boleh juga yah? Cokelat panas saja deh," balas Raka dengan sbsurd.


Adista memilih menuju ke pantry dan menyeduhkan secangkir cokelat panas untuk suaminya. Usai itu, Adista menyerahkan secangkir cokelat panas untuk Raka.


"Diminum dulu, Mas. Mumpung masih hangat," kata Adista.


"Iya, pastinya sih capek, tapi seneng soalnya dapat kenaikan gaji 20%. Yeay, makasih Mas Raka," balas Adista.


Melihat wajah Adista yang berseri-seri dan tampak senang akan mendapatkan kenaikan gaji sebesar 20% akumulasi dari semua event yang digelar di La Plazza Hotel bulan ini. Kadang kebahagiaan untuk seseorang itu sendiri-sendiri dan Adista sudah merasa bahagia mendapatkan kenaikan gaji khusus bulan ini.


"Padahal, aku memberikan lebih untukmu loh," kata Raka.


"Beda, Mas. Kalau kerja kan usahaku sendiri. Selain itu, aku bisa sedikit memberi untuk Bapak dan Ibu. Jadinya seneng," balas Adista.


"Mau memberikan untuk Bapak dan Ibu melalui uangku juga boleh kok. Kan nafkah dariku boleh kamu pakai dan pergunakan. Semuanya untuk kamu," kata Raka.


"Ogah, ah ... takut nanti kalau kita bertengkar atau apa, nanti cek-cok karena aku memberi uang untuk keluargaku dari nafkahnya suamiku. Mending aku memberikan dari penghasilanku sendiri," balas Adista.


Adista berkata demikian hanya sekadar ingin menyampaikan bahwa untuk suami dan istri masalah finansial untuk sangat sensitif. Tak jarang percekcokan suami dan istri terjadi karena masalah uang. Adista tidak ingin hal itu terjadi. Oleh karena itu, kalaupun dia ingin memberikan untuk Bapak dan Ibunya, itu murni dari penghasilannya sendiri. Tidak menggunakan uang nafkah dari suaminya.


"Emangnya aku pria seperti itu?" tanya Raka.


"Ya, enggak ... suatu hari kalau kita cek-cok dan Mas Raka mengungkit masalah uang, aku pasti bakalan sedih banget. Aku tahu asal-usul diriku yang dari keluarga tidak berada. Jangan sampai aku direndahkan hanya karena keluargaku tidak mampu," balas Adista.


Raka terdiam sejenak. Dia menjadi berpikir, inikah alasan kenapa Adista sangat rajin bekerja. Bahkan Adista sering lembur. Itu tentu untuk memberikan sedikit untuk kedua orang tuanya.


"Jangan terlalu keras kepada diri sendiri. Orang tuamu juga orang tuaku. Jadi, kalau mau memberikan ya beri saja. Aku percaya kok sama kamu," balas Raka.


Adista tersenyum tipis. Sudah beberapa kali Raka mengatakan itu, tapi rasanya Adista sendiri yang tidak mau. Jangan sampai di lain hari Raka marah dan mengungkit-ungkit persoalan uang.


"Terima kasih, Mas ..., tapi aku kasih dari penghasilanku sendiri aja."


"Ya, sudah. Penting semua bisa kita diskusikan bersama. Jangan membebani diri sendiri. Mulai sekarang, kamu bisa bergantung sepenuhnya kepadaku," balas Raka.


Adista lagi-lagi tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. "Makasih Mas. 20% itu mungkin tidak tak seberapa untuk Mas Raka, tapi untuk para pegawai sangat berarti. Mereka tadi senang banget mendapatkan kabar baik itu. Walau aku tahu, income ke hotel juga tak seberapa," balas Adista.


"Tidak apa-apa, Sayangku. Aku juga berpikir untuk mensejahterakan karyawanku," balas Raka.


"Walau pembawaan kamu dingin, tapi kamu sebenarnya adalah orang yang baik dan hangat. Makasih, Mas," kata Adista.


"Siapa yang bilang?"


"Kataku sih," balas Adista dengan terkekeh kecil.


"Ya, bekerja yang baik. Sebagaimana permintaanmu tidak ada privillege khusus untukmu. Jadi, aku akan berusaha adil. Jaga kesehatan, sebulan ini akan benar-benar full," balas Raka lagi.


"Iya, Mas Raka juga jaga kesehatan yah. Love U!"


Mendengarkan ucapan cinta dari Adista, Raka tampak menoleh dan melirik istrinya itu. "Ulangi, Sayang ... aku belum terlalu dengar," pinta Raka.


Namun, Adista justru menggelengkan kepalanya. "Udah ah, sekali saja. Tidak ada siaran ulang."


Adista tertawa lagi. Ketika dia sudah membuka hatinya, menerima Raka sepenuhnya sebagai suaminya, mengesampingkan perasaan yang dulu ada untuk Rayyan, Adista bisa merasakan bahwa kehidupan pernikahan dengan Raka lebih indah. Adaptasi, tentu saja masih berlanjut. Akan tetapi, Adista merasa dia dan Raka bisa mencecap manisnya kehidupan pernikahan keduanya.