
Selang beberapa hari kemudian, Raka memiliki ide untuk mengajak istrinya melakukan baby moon trip. Menurut Raka sendiri, mumpung belum melahirkan Raka ingin menunjukkan tempat-tempat yang indah kepada Adista. Nanti, ketika Adista sudah bersalin pasti akan lebih sukar untuk mengajak istri jalan-jalan dan melakukan Staycation bersama.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk ... baby moon," ajak Raka kepada istrinya itu.
"Mau ke mana emangnya, Mas?" tanya Adista.
"Kamu sendiri pengen ke mana? Sebelum kamu melahirkan. Aku baca setidaknya ibu hamil butuh waktu refreshing dan juga mempersiapkan mental juga sebelum persalinan nanti," kata Raka.
Adista tersenyum. Dia tak mengira ketika Raka sampai membaca mengenai baby moon juga. Padahal, menurut Adista sendiri tinggal di rumah barunya sekarang setiap hari terasa seperti baby moon. Adista mengakui sangat betah tinggal di rumah barunya. Semua fasilitas tersedia, pembantu juga ada, dan yang paling penting adalah ada suaminya di sisinya. Itu saja sudah lebih dari cukup.
"Kamu bisa aja sih, Mas. Bukannya beberapa hari lalu, aku udah bilang kalau tidak ingin Staycation kemana-mana deh, Mas. Tinggal bersama kamu di rumah ini saja rasanya seperti Staycation setiap hari kok," balas Adista.
"Yakin? Baby moon gak mau?" tanya Raka lagi.
Dengan cepat Adista kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak usah deh, Mas. Kalau mau kapan-kapan menginap ke apartemen kamu aja, Mas. Boleh enggak?" tanya Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Tentu saja boleh, toh apartemen itu masih menjadi milik Raka. Belum dialihkan kepada siapa pun.
"Boleh, kapan kamu pengennya?" tanya Raka.
"Akhir pekan aja kali, Mas. Hari yang kamu enggak perlu ke La Plazza Hotel. Anggap saja itu baby moon kita," balas Adista.
Mendengarkan jawaban Adista, Raka kemudian tertawa. Kadang kala istrinya itu memang polos dan naif. Menyamakan baby moon dengan sekadar mengunjungi apartemen mereka.
"Padahal baby moon itu seru loh, Yang. Makan makanan lezat, jalan-jalan ke tempat baru, terus tentunya kegiatan yang gak jauh dari ranjang," kata Raka secara to the point.
"Modus pasti," balas Adista.
"Gak percaya. Mana pernah aku modus. Kan bercinta memang untuk melepaskan hormon penyebab stress, kalau stressnya hilang kan nanti kamu lebih lancar bersiap menghadapi persalinan," balas Raka.
Mendengarkan apa yang Raka katakan tak membuat Adista dengan serta-merta percaya. Dia lebih memilih menjelajah dengan mesin pencarian terlebih dahulu. Mencari fakta apakah benar manfaat baby moon seperti yang dikatakan suaminya barusan. Raka sampai menilik layar smartphone milik Adista, dan melihat apa yang sedang dibaca istrinya sekarang.
"Tuh, pasti gak percaya kan sama aku? Padahal aku ini bicara jujur dan berdasarkan fakta loh," kata Raka lagi.
"Maaf, bukannya aku enggak percaya, tapi biasanya kamu kan banyak modusnya. Ada-ada saja caranya untuk minta jatah," balas Adista.
"Aku juga gak tahu, Yang. Udah candu kali yah aku sama kamu. Mungkin, setiap hari setiap malam aku sih enggak menolak, Yang. Malahan makin bugar aku," jawab Raka sekarang.
Ya Tuhan, Adista sampai geleng-geleng kepala sendiri. Apakah memang sebegitu candunya suaminya itu kepada dirinya hingga tidak ada kata bosan? Bahkan andai kata bercinta setiap malam pun, Raka justru merasa kian bugar.
"Kamu enggak capek emangnya, Mas?" tanya Adista.
"Enggak, malahan bugar. Fresh gitu usai bercinta sama kamu. Kamu juga tahu sendiri sejak menikah sama kamu, mana pernah aku mengeluh kecapekan," balas Raka.
Adista mengingat-ingat lagi, apakah benar suaminya itu tak pernah mengeluh kecapekan. Kemudian, Adista berbicara kepada suaminya.
"Pernah ngeluh kok yang capek bekerja itu," balas Adista.
"Kan bekerja, Yang ..., beda konteks. Kalau bercinta sih enggak ada kata capek. Justru makin bugar, makin sehat," balas Raka.
Adista merotasi bola matanya dengan malas usai mendengarkan ucapan suaminya itu. Namun, sesaat kemudian Adista terpikirkan sesuatu.
"Mas, nanti kalau usai melahirkan, dan kamu harus puasa panjang bagaimana? Maaf ... aku sendiri akan mengalami masa nifas yang panjang, harus benar-benar bersih dulu. Aku takut, kebugaranmu menurun," kata Adista.
Raka kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa. Kamu penting sembuh dulu. Kan ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan batinku, Sayang. Aku juga sudah pinter banget kok melakukannya. Gak usah dipikirin, kamu fokus dengan baby kita dan juga dengan kesembuhan kamu dulu aja," balas Raka.
Mendengarkan jawaban Raka, Adista menyandarkan kepalanya di lengan suaminya itu."Kenapa sih, Mas ... kamu ini gentleman banget. Keren, Mas. Ngertiin istri. Semoga nanti kamu bisa bersabar yah, Mas."
"Pasti sabar kok, Sayang. Kamu hamil dan melahirkan, mengalami rasa sakit sepenuhnya juga karena aku, jadi tidak apa-apa. Aku akan menunggu," balas Raka.
Adista tersenyum. Kalau seorang suami bisa memahami istrinya membuat sang istri merasa begitu senang. Semoga nanti benar adanya bahwa Raka tidak berubah. Raka bisa menunggunya dan juga memahami dirinya yang usai bersalin.
"Jadi, beneran enggak pengen baby moon?" tanya Raka lagi.
"Hm, kayaknya sih enggak. Kita ke apartemen aja deh, Mas. Mencari tempat yang privasi berdua. Di rumah ini setiap hari rasanya seperti baby moon kok. Hanya saja untuk hal yang lebih intim kita ke apartemen aja," balas Adista.
"Mau seintim apa?" tanya Raka dengan menggerakkan satu alisnya naik ke atas.
Adista memanyunkan bibirnya kesal. Suaminya itu pastilah mempertegas dan memperjelas sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Toh, jawabannya juga Raka sudah tahu. Hal itu membuat Adista kadang malahan sebal dengan suaminya sendiri.