Staycation With Boss

Staycation With Boss
Apa Bisa Membuka Lembaran Baru Berdua?



Secara gentleman Raka sudah menjelaskan semuanya kepada Rayyan. Bahkan si Kakak itu tak segan juga untuk meminta maaf kepada adiknya. Hal itu dilakukan Raka karena dia mengakui salah dengan adiknya. Namun, selanjutnya, Raka mengambil alih tanggung jawab. Dia merasa sudah mengambil kehormatan Adista, maka dia sendiri juga yang akan bertanggung jawab.


Ada sisi ketidaktahuan Raka juga. Kalau Adista adalah pacar adiknya, Raka juga menaruh hati kepada staffnya itu. Perasaan yang selama ini Raka pendam pun bisa Raka utarakan kepada Rayyan.


"Bisakah kamu mengikhlaskan Adista untukku, Ray?" pinta Raka.


"Kalau aku masih menyayanginya?"


"Masalahnya sekarang dia bukan lagi kekasihmu, Ray ... dia adalah kakak iparmu," balas Raka.


Raka sekarang menegaskan bahwa Adista bukan lagi pacarnya, tapi adalah kakak iparnya. Sehingga, Raka meminta kepada Rayyan untuk ikhlas. Hubungan pernikahan yang baru beberapa jam ini juga bukan main-main untuk Raka.


"Apa Kak Raka tidak bisa melepaskan Adista? Aku akan menunggu," balas Rayyan sekarang.


Dengan cepat Raka menggelengkan kepalanya. "Sayangnya, tidak bisa, Ray. Aku akan menjaga Adista."


Merasa bahwa pembicaraan dengan adiknya juga buntu, Raka kemudian meninggalkan adik bungsunya itu. Setidaknya Raka sebagai kakak sudah meminta maaf. Kini, Raka akan mendatangi istrinya, dan memberikan penjelasan serta penegasan.


"Dari mana Ka?" tanya Mama Erina.


"Dari luar saja kok, Ma," balas Raka.


"Oh, ya sudah ... kami akan kembali ke Jakarta sekarang," kata Mama Erina.


Raka tampak mengernyitkan keningnya. Dia kemudian bertanya, kenapa keluarganya juga kembali ke Jakarta secepat ini. "Kenapa begitu cepat Ma?" tanya Raka.


"Ini hari bahagiamu dengan Adista. Manfaatkanlah waktu untuk berdua. Satu jam lagi, kamu akan pulang ke Jakarta. Kalian tidak usah terburu-buru. Nikmati waktu berdua dengan Adista di Lembang ini," kata Mama Erina.


Ya, akad kala itu memang dilangsungkan di Lembang, tempat asal Mama Erina. Tempat yang sejuk dan banyak perkebunan teh. Setidaknya tempat dengan cuaca sejuk ini bisa menjadi tempat yang indah untuk pasangan yang baru saja akad itu.


"Baiklah, Ma ... Raka dan Dista akan turun," katanya.


Sejak Raka turun tadi, Adista mengunci pintu. Wanita itu memilih melepas sanggulan di kepalanya dan bergegas mandi terlebih dahulu. Sehingga sekarang, kala hendak masuk ke dalam kamar, Raka harus mengetuk pintunya terlebih dahulu. Sebab, Raka sudah berusaha untuk membukanya tapi tidak bisa.


"Dista, tolong buka ... ini aku, Raka," kata Raka.


Hingga akhirnya, Dista membukakan pintu untuk suaminya itu. Tidak ada kata-kata yang Dista ucapkan. Usai suaminya masuk, Dista juga langsung menutup pintunya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Raka.


"Hmm, iya," balas Adista.


"Iya," balas Dista.


Menghilangkan penatnya, Raka memilih mandi juga. Toh, hari juga sudah beranjak petang. Nanti usai mandi, barulah dia akan mengajak Adista untuk turun dan menemui keluarganya. Adista memilih duduk saja, sembari merapikan kebaya yang tadi dia kenakan. Hanya setengah jam berlalu, Raka sudah mandi.


"Kita turun menemui Mama, Papa, dan adik-adikku dulu," kata Raka.


"Iya, Pak Raka," balas Adista.


"Hei, aku bukan atasanmu. Di sini, sekarang ... aku suamimu. Jangan memanggilku Pak Raka," balas Raka.


"Lalu, dipanggil apa?" tanya Adista dengan wajah datar.


"Apalah ... Mas, Aa, atau apalah," balas Raka.


Adista hanya terdiam. Lagi-lagi tidak memberikan jawaban apa pun. Bagaimana pun di matanya pria yang kini sudah berubah status sebagai suaminya itu adalah Bossnya. Masih belum bisa untuk membiasakan diri.


Menuruni anak tangga, sudah ada Rayyan yang mengamati kakak dan kakak iparnya itu. Entahlah, hatinya masih teramat pedih. Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pacarnya kini berubah status menjadi kakak iparnya. Maka dari itu, Rayyan pun membuang pandangannya setelahnya.


"Sudah pada mandi loh pengantin baru," kata Papa Zaid.


"Bersih-bersih saja, Pa," balas Raka.


Kala itu, sorot mata Raka beradu pandang dengan adiknya sendiri Rayyan. Namun, Rayyan memilih menunduk setelahnya. Jika boleh jujur, ini juga adalah situasi yang sulit untuk ketiganya. Ya, Raka, Adista, dan Rayyan sama-sama berdiri di posisi yang sulit. Masing-masing dari ketiganya juga memiliki sudut pandangnya tersendiri. Akan tetapi, Raka sudah mengambil sikap bahwa dia meminta adiknya itu untuk ikhlas.


"Baiklah ... kalian silakan menikmati bulan madu tanpa terganggu oleh kedua adiknya Raka. Sekali lagi, selamat bergabung dengan keluarga Syahputra yah, Dista. Mama yakin Raka bisa membahagiakan kamu," kata Mama Erina.


Adista tersenyum getir dengan dipeluk mama mertuanya itu. Masih bingung menyingkapi semuanya. Pun, ada Rayyan yang masih belum bisa ikhlas.


Usai berpamitan, tinggallah Raka dan Adista sendiri di villa itu sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya mereka berdua saja.


"Dista, boleh aku berbicara sesuatu," kata Raka.


"Ya, Pak," balas Adista.


"Aku tahu, tanpa sengaja aku menjadi orang ketiga di antara kamu dan Rayyan, tapi bisakah kamu ikhlaskan masa lalu? Bisakah kita membuka lembaran baru bersama?" tanya Raka.


Raka mendekat dia ingin menggenggam tangan istrinya itu. Toh, itu adalah permintaan hati yang tulus. Seorang Raka Syahputra mau meminta kepada Adista. Walau sukar dan tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi Raka ingin Dista bisa membuka lembaran baru bersamanya.