Staycation With Boss

Staycation With Boss
Swimming Time



Raka tersenyum tipis mana kala melihat Adista yang menangis di pelukannya. Istrinya itu memang sensitif. Selalu mengatakan terima kasih untuk banyak hal. Padahal untuk Raka, yang dia lakukan tidak seberapa.


Raka lantas mengurai pelukannya untuk sesaat, dia menyeka bulir air mata di wajah istrinya. Tak hanya itu, Raka menjatuhkan kecupan hangat di kening istrinya. Cup.


"Kamu gampang banget terharu sih. Jangan nangis," kata Raka.


"Gimana gak terharu, kamu baik banget soalnya sama keluargaku," balas Adista.


"Aku biasa aja loh, aku menjadi diriku sendiri. Papa dan Mamaku selalu mengajarkan untuk menjadi diri sendiri, tidak perlu menjadi orang lain. Jadi, ya kamu berhadapan dengan aku yang apa adanya. Kalau di hotel kan ada beberapa hal yang harus kujaga. Bedanya itu aja," balas Raka.


"Ya intinya aku berterima kasih aja. Biasanya keluarga kaya raya akan menganggap keluarga miskin sebagai beban, atau mungkin menganggapnya sampah. Akan tetapi, kamu tulus banget sama Bapak, Ibu, dan Desta," balas Adista.


"Iya, Sayang. Santai saja. Nanti malam, waktumu buat aku yah. Sore aku mau nemenin Desta renang dulu," kata Raka sekarang.


"Modus," balas Adista singkat.


"Iya, harus lebih rajin. Aku pengen punya baby dari kamu," jawab Raka dengan jujur.


Sekarang Raka mengatakan dengan jujur bahwa dia sudah begitu menginginkan memiliki buah hati dengan Adista. Beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan rekannya Aksara yang memiliki dua anak cewek dengan selisih usia yang sedikit, rasanya Raka untuk menginginkannya. Pulang ke rumah, ada malaikat kecil yang matanya berbinar, dengan tangan kecil yang memeluk lehernya. Raka berniat untuk lebih rajin dan mengusahakan supaya istrinya itu lebih cepat hamil.


"Mas Raka, ih," balas Dista dengan memukul dada suaminya.


"Ya, salah satu tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. Jadi yah, aku ingin memiliki buah hati bersamamu, Yang. Aku ingin dipanggil Papa," balas Raka.


Adista tersenyum saja mendengar suaminya itu. Adista juga tak berkomentar apa pun. Sebab, walau sudah berusaha, nanti tetap waktu dari Allah yang terjadi. Dalam mendapatkan buah hati ada usaha manusia dan perkenanan Allah juga.


Usai itu, keduanya memilih beristirahat terlebih dahulu. Sore harinya Raka akan menemani Desta berenang. Raka memilih sore, supaya tidak terlalu panas dan kulitnya tidak terbakar. Sebab, bagaimana pun cuaca di Ibukota baru panas terik.


***


Sore Harinya ....


Sekarang, seluruh keluarga menuju ke kolam renang. Raka pun percaya diri hanya mengenakan celana pendek dan kaos saja. Sementara Adista hanya mengenakan dress bermotif bunga-bunga di bawah lutut. Mereka hanya ingin melihat saja bagaimana Raka menemani Desta berenang.


"Mbak Adis ikut renang?" tanya Desta.


"Enggak, Mbak kan tidak bisa berenang," jawab Adista.


Raka melirik istrinya yang sekarang berjalan di sisi Desta itu. Raka juga tidak mengira bahwa istrinya sendiri tidak bisa berenang. Jika tahu Adista tidak bisa berenang pastilah Raka tak keberatan untuk mengajari Adista berenang.


Hingga akhirnya, Dista bersama orang tuanya menunggu dengan duduk-duduk di kursi yang ada di sekitaran kolam renang. Raka tampak mulai melepaskan kaos yang dia kenakan. Pria itu tampil shirtless sekarang.


Melihat Raka shirtless saja, beberapa pengunjung di kolam renang itu menatap Raka dengan otot liat dan perutnya yang berkotak-kotak. Adista baru tahu, para wanita seolah menatap tubuh suaminya yang memang seksi itu.


"Nitip kaos ya, Yang," kata Raka pelan.


"Mana bisa berenang memakai kaos loh," balas Raka.


"Itu diliatin cewek-cewek," balas Adista.


"Apa perlu aku tulisin di sini kalau aku pria sold out," balas Raka.


Adista diam, walau sebenarnya kesal. Rasanya seperti dia tidak ingin para wanita mengagumi badan suaminya yang bagus dengan bisep-bisep yang tercetak liat di sana. Akhirnya, Adista melipat kaos dan celana pendek milik suaminya. Sebab, sekarang, Raka juga mengenakan celana renang.


Usai itu, Raka mengajak Desta. Bahkan Raka mengajari Desta untuk pemanasan terlebih dahulu. Terlihat Raka mengajari Desta step by step dengan hati-hati.


"Pemanasan dulu, Des ... jangan langsung masuk ke kolam renang," kata Raka.


"Kenapa emangnya Mas?"


"Supaya terhindar dari cidera dan juga tubuh biar luntur. Pemanasan gini mengaktifkan otot dan mempercepat detak jantung agar siap ketika hendak berenang," kata Raka.


Mengambil pemanasan beberapa menit, kemudian Raka mengajari Desta berenang dari tahapan paling dasar yaitu menggerakkan kedua kaki terlebih dahulu. "Tangannya pegangan di tepian kolom, Des," kata Raka.


Desta pun menuruti kakak iparnya itu. Sebenarnya Desta takut, tapi dia percaya dengan Raka yang akan mengajarinya. Sehingga, Desta juga cermat mengikuti instruksi dari kakak iparnya itu.


"Habis ini belajar mengambil napas di dalam air yah," kata Raka.


Tahapan demi tahapan Raka ajarkan hingga Raka sekarang mengajari berenang adik iparnya itu. Raka mengikuti Desta, tidak melepaskannya begitu saja. Baginya, Raka memang harus menjaga Desta.


"Lihat suamimu, Dis ... udah cakep, tampan, kaya raya, tapi kelihatan sayang sama Desta," kata Bu Ratih kepada anaknya itu.


"Mas Raka memang baik kok, Bu," balas Adista.


"Jarang sekarang, Dis ... menemui pria paket lengkap dan baik hati seperti Raka. Kamu harus menjadi istri yang nurut. Jadilah surga untuk suamimu, raihlah pahala dari ketundukan dan ketaatanmu kepada suamimu," balas Bu Ratih.


Adista menganggukkan kepalanya perlahan. Sesungguhnya, Raka lah yang menjadi surga untuknya, banyak kebahagiaan yang sekarang Adista lihat dan rasakan semenjak Raka masuk ke hidupnya. Sejak Adista mulai membuka hatinya.


"Di mana lagi, Dis ... mendapatkan suami yang sayang kamu dan sayang keluargamu. Apalagi keluarga kita bukan orang berada," kata Bu Ratih.


Terdiam. Adista mengamati interaksi Raka dan adiknya yang masih berada di kolam renang. Hingga Bu Ratih menanyai Adista perlahan.


"Kamu sudah bisa menerima suamimu?" tanya Bu Ratih dengan lirih.


"Sudah, Bu," balas Adista.


"Alhamdulillah ... suamimu secara matematik layak mendapatkan yang lebih darimu, Dis. Namun, lihatlah dia hanya melihat kamu. Hanya menikahimu. Percayalah kepada Raka. Insyaallah, nanti kalian akan selalu berbahagia. Percayai Ibu," balas Bu Ratih.


Bu Ratih sangat senang dan bersyukur ketika putrinya sudah bisa menerima Raka. Perasaan hati seorang ibu percaya bahwa kebahagiaan Adista ada bersama Raka. Oleh karena itu, Bu Ratih percaya ketika putrinya itu menaruh hati dan kepercayaannya kepada suaminya, Raka tidak akan melukai Adista. Semoga saja benar adanya.