
Malam Harinya ....
Malam hari di kediaman Raka, memang kedua orang tua mereka kompak menginap di kediaman Raka. Katanya masih ingin menikmati masa baru menjadi Oma dan Opa. Sehingga malam itu, keluarga Syahputra dan keluarga Gusti kompak menginap di rumah Raka.
Sedangkan Raka bersama Adista, dan tentunya dengan Baby Qiana memilih beristirahat di kamar. Untung saja orang tua mereka pengertian. Tahu bahwa Adista masih perlu beristirahat karena usai bersalin.
"Kecapekan enggak, Sayang?" tanya Raka kepada istrinya itu.
"Enggak, enggak capek sama sekali sih, Mas. Cuma agak mengantuk aja," balas Adista.
Adista dengan jujur mengatakan demikian karena memang dia merasa mengantuk. Biasanya Adista memiliki waktu untuk tidur siang, sedangkan tadi Adista sama sekali tidak tidur siang. Sedikit sungkan ketika semua keluarga berkumpul dan dia malahan tidur siang. Oleh karena itu, Adista juga berkumpul dengan keluarganya.
"Bobok aja, mumpung Qiana juga sudah bobok," balas Raka.
"Mas Raka enggak bobok?" tanya Adista.
"Belum begitu mengantuk, Sayang. Kamu bobok duluan saja tidak apa-apa," balas Raka.
Adista tersenyum. Sebelum merebahkan dirinya di ranjangnya yang empuk dan nyaman, Adista menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
"Peluk dulu dong, Mas. Kangen," kata Adista.
Raka segera memeluk istrinya itu. Tangannya bergerak mengusapi puncak kepala Adista. Setelah itu, Raka menundukkan kepalanya dan dia mengecup kening Adista.
"Kangen Mas Raka," kata Adista lagi.
"Sama, aku juga kangen kamu. Sudah enggak hamil, masih manja," balas Raka.
Raka kira bahwa Adista hanya manja lantaran efek kehamilannya. Baby Qiana yang dia kandung juga adalah cewek, sehingga wajar saja kalau Adista lebih manja. Rupanya setelah Qiana lahir, Adista sendiri juga masih manja. Raka tersenyum setelahnya.
"Gak boleh manja yah?" tanya Adista.
"Boleh, boleh banget. Kamu manja gak apa-apa. Aku siap manjain kamu dan Qiana," balas Raka.
"Maklum dan takdir menjadi satu-satunya pria di rumah," balas Adista.
"Iya, semoga nanti kalau hamil lagi, adiknya Qiana cowok yah? Biar ada temennya Papa di rumah," balas Raka.
Memang itu yang Raka harapkan. Andaikan nanti istrinya siap hamil lagi, Raka menginginkan babynya kelak cowok. Sehingga ada temannya di rumah.
"Belum tentu loh, Mas. Teman kamu yang Arsitek itu anaknya dua cewek. Artinya dia menjadi satu-satunya pria di dalam rumah," balas Adista.
Mendengar perkataan Adista, Raka teringat dengan temannya yaitu Aksara. Ya, benar sekali yang dikatakan oleh Adista, temannya yang berprofesi sebagai arsitek itu memiliki dua anak cewek. Artinya memang apa pun jenis kelaminnya, sejatinya manusia hanya bisa menerima apa yang sudah Allah berikan.
"Oh, iya yah ... Aksara yah?" tanya Raka.
"Iya, yang anak-anaknya namanya Ara dan Anna yang cantik-cantik itu," balas Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Aksara dan istrinya Arsyilla. Kedua anaknya adalah princess kecil Ara dan Anna. Sekarang, aku memiliki princess sendiri, Qiana."
Terlihat jelas bahwa memiliki bayi perempuan sangat membahagiakan untuk Raka. Dulu, dia sangat suka melihat kedua putri kawannya yang bernama Ara dan Anna itu. Sekarang, memiliki putri kecil sendiri membuat Raka sangat bahagia.
"Kamu kelihatan seneng banget sih, Mas ... lahirnya Qiana membuatmu sangat bahagia yah?" tanya Adista.
"Ya, tentu aku sangat bahagia. Semua Papa di dunia juga pasti bahagia memiliki buah hati. Entah itu cowok atau cewek tidak masalah."
Raka mengatakan itu dengan jujur. Benar dia menginginkan putri kecil, tapi seandainya Tuhan memberikan putra, juga tidak masalah untuk Raka. Apa pun yang Allah berikan, Raka percaya bahwa itu adalah hal yang terbaik.
Setelah puas dipeluk suami, Adista kemudian berpamitan untuk tidur sebentar. Sembari dia sendiri harus berjaga-jaga nanti harus kembali bangun saat Qiana menangis dan terbangun.
"Bobok saja, Sayang. Aku peluk," kata Raka.
Sekarang di pelukan Raka, Adista begitu cepatnya terlelap. Sesungguhnya Raka sendiri merasa kecapekan dan lelah. Walau begitu, Adista tidak menunjukkannya.
Raka mengusapi puncak kepalanya. Sudah menjadi komitmen Raka untuk memberikan waktu istirahat bagi istrinya. Namun, beberapa saat kemudian Raka juga memenjamkan matanya dan tertidur lelap. Keduanya sama-sama membutuhkan istirahat berdua.