
Sudah Raka katakan sebelumnya, setelah merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga sukar dideskripsikan itu rasanya Raka tak bisa berhenti jika hanya satu kali. Lagipula, dia sudah bersabar cukup lama, sehingga tidak mau menahan lagi. Staycation kali ini akan Raka pastikan full of love untuk mereka berdua.
"Kamu kira-kira butuh berapa lama untuk mencintaiku, Sayang?" tanya Raka dengan masih memeluk Adista.
"Enggak tahu, Pak. Susah rasanya, dari Boss terus jadi suami. Tanpa penjajakan sebelumnya. Aku akan berusaha," balas Adista.
"Jangan panggil aku, Pak ... panggil Aa atau Mas aja. Supaya kamu lebih terbiasa denganku. Terlalu formal memanggil Pak, toh, aku bukan Bapakmu," kata Raka.
"Kalau harus memanggil Mr. Raka susah, Pak. Gak enak. Terbiasa dengan Pak Raka," balas Adista.
"Ya harus diubah kebiasaannya. Coba, panggil aku, Mas. Kayak di hadapan orang tua kita saja," balas Raka.
Lagi-lagi Adista tersenyum, kalau dipikir-pikir begitu banyak permintaan suaminya itu. Mulai dari membereskan perasaan, melupakan Rayyan, mengubah panggilan, hingga berusaha mencintainya. Mungkin setelahnya akan ada permintaan demi permintaan yang lainnya.
"Kalau kamu belum mencintaiku, kenapa kamu biarkan aku melakukannya tadi? Tidak menolak seperti biasanya," tanya Raka.
"Berdosa seorang istri menolak suaminya. Selama ini, aku sudah sangat berdosa, Mas. Maafkan aku," kata Adista.
"Nah, itu kamu tahu kalau berdosa. Jadi yah cintai suamimu ini. Pelan-pelan saja, aku tidak memaksa kok," kata Raka sekarang.
Adista tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan berusaha lagi. Maaf, menikahiku melelahkan yah, Mas?" tanyanya.
"Yah, melelahkan, tapi bagaimana lagi. Aku sudah 90% waktu itu. Aku sudah melihat kamu dalam kondisi kepolosan mutlak. Aku tanggung jawab untuk itu, Sayang. Risikonya yah begini. Sudah, tidak apa-apa. Lagipula sekarang kamu sudah terbuka dan menerima aku. Makasih, Sayang," kata Raka.
Awalnya menikahi Adista memang melelahkan. Bukan hanya keras kepala, tapi Adista juga menunjukkan kebimbangan antara dirinya dan Rayyan. Itu membuat Raka berdiri di tengah-tengah adik dan istrinya. Namun, lambat laun semua terbayar ketika Adista mulai menerimanya. Ini sudah jauh lebih cukup.
Malam itu, hujan masih turun dengan begitu derasnya. Sementara Raka masih memeluk erat istrinya itu. Tipe pria tak bisa diam, karena Raka sering kali menggenggam tangan Adista, kadang mengecup keningnya, ada-ada saja yang Raka lakukan. Walau tak bermulut manis, tapi Raka begitu suka melakukan kontak fisik kepada istrinya itu.
"Kenapa hujannya tambah deras yah, Mas?" tanya Adista.
"Semesta punya cara mendekatkan kita, Sayangku."
Raka kian aneh rasanya. Dia mengatakan bahwa hujan yang justru bertambah deras menjadi cara semesta untuk mendekatkan keduanya. Dekat tanpa batas apa pun.
"Lagi yah?" ajak Raka sekarang.
"Serius?"
"Iya dong, serius. Emang pernah aku tidak serius?" tanya Raka.
"Masih sakit, Mas. Ngilu loh," balas Adista dengan sedikit merengek.
"Kalau terbiasa lama-lama enggak sakit sama sekali kok. Nikmat gak ada obat," balas Raka.
Tak ingin menunda terlalu lama, Raka meminta Adista naik ke pangkuannya. Walau kala itu keduanya sama-sama di ranjang. Gugup? Tentu saja. Terlebih Adista merasa pangkal pahanya yang belum nyaman, tapi Raka sangat serius sekarang.
Setelah itu, Raka mematikan lampu di kamarnya. Hanya lampu tidur saja yang menyala. Kesannya remang-remang disertai dengan suara air hujan di luar sana.
Begitu, Adista sudah di pangkuannya, Raka segera membelai perlahan sisi wajah Adista. Lantas pria itu menjatuhkan ciuman di bibir Adista. Raka merasa sangat dahaga sekarang, hanya dengan bibir yang rasanya penuh dengan sarang madu itu Raka merasa dahaganya terpuaskan.
Pria itu memulai dengan memberikan pagutan demi pagutan, hisapan demi hisapan, dan lu-matan dalam kesan basah. Sekadar menemukan bibir dengan bibir saja sudah membuat Adista limbung. Tubuhnya merasa meremang. Selain itu, oksigen yang Adista hirup rasanya kian menipis. Akan tetapi, Adista berusaha mengimbangi suaminya itu. Walau belum expert, tapi Adista memang sudah membuka dirinya.
Raka kembali memandu Adista. Dia bawa tangan Adista naik hingga belakang kepalanya. Raka memekik kala merasakan tangan Adista mengusap perlahan helai demi helai rambutnya. Raka tak keberatan ketika rambutnya menjadi berantakan, asal yang melakukannya hanya Adista saja.
Memperdalam ciumannya, Raka membelai leher hingga tengkuk Adista. Tak hanya itu, tangannya sengaja meremas perlahan area dada istrinya. Dia remas perlahan, walau dari luar bathrobe rasanya sudah luar biasa.
Hingga akhirnya Raka membawa kedua tangannya di bahu Adista. Dia buka perlahan bathrobe di area bahu dan kemudian Raka jatuhkan kecupan demi kecupan di leher hingga puncak bahu istrinya. Raka teringat, dia sebelumnya puas hanya membuat jejak-jejak merah di leher Adista. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Rasanya sudah ada banyak lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya yang bisa dia eksplorasi.
"Sayang ...."
"Tidak menolak kan?" tanya Raka sekarang.
"Tidak, jadikan aku ladang pahalamu, Mas," jawab Dista tanpa ada keraguan.
Merasa istrinya sudah sepenuhnya rileks, karena itu Raka menarik perlahan tali bathrobe di pinggang Adista. Begitu tali itu terlepas, Raka lantas melihat tubuh istri. Benar-benar polos tanpa ada balutan apa pun. Pria itu merasa bahagia. Bisa langsung bergerak cepat, pun Raka yang menarik tali bathrobe di pinggangnya.
Suhu tubuh meningkat secara drastis, dada menyentuh dada. Jujur, dalam posisi yang berbeda, duduk di pangkuan Raka sensasinya pun berbeda. Tak hanya itu, Adista memekik perlahan ketika Raka mulai mengeksplorasi dadanya. Dia berikan remasan, usapan, cubitan, dan pilinan di puncaknya. Tak hanya itu, lidah dan bibir Raka bermain-main di sana. Rasanya dahsyat luar biasa.
"Mas ... Raka ...."
"Ya, Sayang. Ini milikku yah," kata Raka. Pria itu begitu nakal dengan menggigit puncaknya menariknya sesaat dan melepaskannya. Ups, luar biasa rasanya sampai Adista memejamkan matanya erat-erat.
Seakan ingin merasakan pengalaman yang berbeda, Raka lantas membawa tangan istrinya dan menyentuhkannya ke pusakanya.
"Kenalan, Sayang," katanya.
Di batas ini justru Adista yang menegang. Dia takut menyentuh dan menggenggam senjata itu. Tangannya saja rasanya begitu bergetar. Akan tetapi, reaksi yang dirasakan Raka justru sebaliknya. Pria itu memejamkan matanya, sesekali mengamati pergerakan tangan Adista yang mempermainkan senjata miliknya. Raka ingin lebih, maka dari itu dia berbicara dengan Adista.
"Kenalan lebih lagi mau?" tanyanya.
"Ha, seperti apa?" tanya Adista dengan bingung.
"Kulum," balas Raka.
Adista hanya turun dari pangkuan suaminya. Dia mengikuti instruksi dari suaminya itu. Kali pertama rasanya sangat aneh. Kali pertama menenggelamkan senjata itu ke dalam rongga mulutnya membuat Adista seakan tersedak dan hendak muntah rasanya.
"Yah, begitu ... Sayang. Pinter kamu, Sayang," puji Raka dengan membelai sisi wajah Adista.
Adista bingung dengan reaksi Raka sekarang. Untuk itu, Adista berusaha, walau belum terbiasa, takut, aneh, dan bingung. Semua rasa itu menjadi satu sekarang. Akan tetapi, Raka senang sekali. Itu tandanya Dista benar-benar menjadi ladang pahala untuknya.
"Nikmat sekali, Sayang ... sudah, cukup."
Raka mengecup bibir Adista. Kemudian dia membuat wanitanya rebah. Maka, Raka sekarang melakukan invansi di lembah yang ada di bawah sana. Menghadiahi Adista dengan tusukan demi tusukan, sapaan basah dengan ujung lidah yang mengeksplorasi lembah di bawah sana. Raka bersemangat ketika Adista terengah-engah dan menyebut namanya beberapa kali.
Kian dalam usapan berbalut tusukan itu. Hingga Adista kembali merasakan tubuhnya mengejang. Wanita itu memekik dengan mengeluarkan pelepasan lagi. Tubuh yang meremang, meringan, dan sensasinya benar-benar luar biasa.
Raka tersenyum, dia puas sekali bisa membawa Adista menapaki nirwana. Sekarang, menuju ke menu utama. Raka merapatkan dirinya. Memberikan hujaman keluar dan masuk. Baru kali kedua, tapi masih begitu rapat dan erat. Cengkeraman otot-otot di bawah sana membuat Raka menggila.
Gerakan seduktif yang dia lakukan kian masuk. Dalam, cepat, disertai hentakan. Raka benar-benar merasakan bubuk candu dari peraduan malam ini. Yah, dia merasa benar-benar mabuk kepayang. Bersabar lama, jika dapatnya sebanding itu sungguh luar biasa.
Oleh karena itu, Raka tidak akan menahan diri. Dia akan terus memacu. Terus keluar dan masuk, tangannya bergerak nakal dan membelai lekuk-lekuk feminitas di tubuh Adista.
"Sa ... yang!"
Walau memejamkan mata saja, Raka seakan melihat pelangi sekarang. Indahnya dan kilaunya membuat dia takjub dan tidak bisa merasa berhenti. Sementara Adista melenguh, kadang kala dia merengek dan memeluk suaminya begitu erat. Kuku-kukunya melukai punggung suaminya, tapi Raka rela. Itu sebanding dengan kenikmatan sekarang yang dia rasakan.
"Mas ... Raka, Mas!"
Adista menggeliat, dia merasakan tubuhnya bereaksi di luar kendalinya. Hingga Adista tak bisa menahan. Dia kembali mengalami pelepasan kali ini. Kesan erat dan hangat seketika membalut sang pusaka di dalam cawan surgawi. Indah.
Raka menggeram. Raka tidak mampu lagi bertahan. Lagi dan lagi, Raka meledak. Pecah. Tanpa sisa.
Laksana kain basah yang diperas habis. Hingga seluruh cairannya hilang tak tersisa. Begitulah Raka sekarang. Seluruh bagiannya terperah, memenuhi Adista dengan setiap bagian cair dari dirinya. Raka rubuh, dia tak mampu lagi melanjutkan serangan.
Sebab, ketika sudah merasakan nikmat, satu kali tak akan cukup. Yang ada justru ingin lagi, lagi, dan lagi menikmati nektar cinta dalam pernikahan ini.