Staycation With Boss

Staycation With Boss
Yang Sedang Patah Hati



Raka bisa merasakan perubahan Adista ini, tak biasanya wanita itu memeluknya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya. Akan tetapi, sekarang Raka tersenyum manakala kedua tangan Adista melingkari pinggangnya. Raka tak keberatan sama sekali. Justru, dia ingin Adista juga merasakan perasaan yang sama dengannya.


"Kepada keluarga, kebaikan itu tak mengharapkan terima kasih, Adista. Keluargamu juga adalah keluargaku. Jadi, aku juga pasti memperhatikan dan menyayangi keluargamu yang kini sudah menjadi keluargaku. Sama halnya, aku mengasihi dan menyayangi kamu."


Adista tak memberikan jawaban. Sebagai gantinya dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Bahkan Adista memejamkan matanya sekarang. Seolah tidak ada keberatan lagi bagi Adista untuk dipeluk suaminya seperti ini.


Adista mengurai wajahnya sesaat guna menatap wajah suaminya. "Aku tetap ingin berterima kasih Pak Raka. Terima kasih, berkat Pak Raka, kesembuhan Desta itu menjadi nyata. Bertahun-tahun kami hidup dalam kepanikan, seolah menghitung hari dan berharap Allah akan memperpanjang usia Desta. Bertahun-tahun kami cemas setiap kali jadwal cuci darah terlambat dan beberapa bagian tubuh Desta biru lebam bahkan bengkak. Sekarang, Desta sepenuhnya sehat, bisa sekolah dengan lebih rajin. Semua itu berkat Pak Raka. Terima kasih banyak," kata Adista dengan berlinang air mata.


Adista berusaha menceritakan kecemasan yang sebenarnya tak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Baru kepada Raka, dia bisa menceritakan semuanya. Namun, semua kecemasan itu seakan terhapuskan dengan berhasilnya operasi pencangkokan ginjal.


"Semuanya karena Allah, Dista. Jangan menangis," kata Raka.


Pria itu kembali merapatkan dirinya dengan Adista dan memberikan pelukan yang erat. Sementara Adista juga kembali memeluk suaminya dan mencerukkan wajahnya di dada suaminya.


"Dista, tapi aku meminta jangan mendeskripsikan perasaanmu sebagai bentuk ucapan terima kasih. Sebagai bentuk balas budi. Terima aku sebagai suamimu secara utuh dan penuh," pinta Raka.


Raka hanya tak ingin karena Adista menganggap harus berterima kasih dan membalas budi. Raka ingin Adista menerimanya sebagai suami secara utuh dan penuh. Sebab, untuk semua kebaikannya Raka tak membutuhkan balas budi dan terima kasih.


"Semoga aku bisa, Pak Raka," jawab Adista.


Setelah itu, Raka mengurai pelukannya. Dia melihat ranjang berukuran single bed itu. Mungkin tidak akan muat untuknya dan Adista.


"Aku ingin sekadar berbaring di ranjangmu itu, tapi bukankah itu terlalu kecil untuk kita berdua?" tanya Raka.


Adista akhirnya tersenyum tipis. "Itu hanya ranjang single bed saja. Jadi memang untuk seorang saja. Muat untuk Pak Raka kok, silakan," kata Adista.


"Aku maunya kamu menemaniku," balas Raka.


Raka kemudian berbaring terlebih dahulu. Dia mengajak Adista berbaring di sampingnya ukuran single bed dan ditempati berdua sangat sesak dan sempit. Namun, Raka tak kurang akal, dia sentak perlahan Adista hingga wanita itu terjatuh dalam posisi nyaris tengkurap di atasnya.


"Seperti ini saja," kata Raka.


Tentu ini adalah posisi yang tidak nyaman. Begitu dekat. Adista berpikir dalam hati, di balik semua kebaikan suaminya, kenapa pria itu ada kalanya begitu berhasrat dengannya. Seolah tak bisa menahan dan ada hasrat yang menggebu-gebu.


"Sedekat ini Pak Raka," balas Adista.


"Bisa lebih dekat, kamu tidak nyaman?" tanya Raka.


"Iya, jangan seperti ini," balas Adista.


Raka menganggukkan kepalanya. Dia mengubah posisinya. "Hanya muat satu berbaring dan satu miring. Jadi, berbaringlah miring," kata Raka.


"Harus?" tanya Adista bingung.


"Iya, biar kamu terbiasa denganku," balas Raka.


Tidak menolak lagi, Adista mengikuti instruksi suaminya. Dia berbaring miring dengan menghadap suaminya itu. Ada lengan kokoh sang suami yang siap menjadi tempat bersandar baginya.


"Peluk aku lagi," pinta Raka dengan memejamkan matanya.


"Pak Raka," suara Adista terdengar.


Urung melakukan itu, Raka membawa satu tangan Adista untuk melingkari pinggangnya lagi. Raka merasa senang ketika istrinya itu menjadi penurut.


"Sore nanti kita pulang yah?" tanya Raka.


"Iya, Pak Raka."


Setidaknya ruang yang sempit bisa dimanfaatkan Raka untuk lebih dekat dengan Adista. Dia suka lebih berdekatan seperti ini dengan istrinya. Semoga saja jika bisa tidak perlu waktu sebulan untuk mengesahkan jalinan hubungan keduanya.


...🍀🍀🍀...


Awal Pekan Kemudian ....


Di La Plazza Hotel sekarang ada pameran fotografi dengan tema urban di Jakarta. Sehingga dibuka pameran seni di salah satu galeri yang ada di La Plazza Hotel. Pengunjung yang datang pun lebih banyak. Pekerjaan ini memang bagian dari event Planner dan La Plazza menyediakan ruangan untuk pameran karya seni.


"Dulu kita bertemu kala pameran seperti ini di La Plazza Hotel, Tata."


Pemuda itu mende-sah dengan mengusap wajahnya sendiri. Setiap foto yang dipasang di sana nyatanya justru hanya menyisakan pilu di hatinya. Dia merasa semua hal yang manis dulu tak bisa terulang.


"Silakan ada brosur event La Plazza selanjutnya," suara Adista dengan membagikan brosur.


Hingga pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Adista yang kini berdiri di hadapannya. Ya, dia adalah Rayyan. Keduanya kembali bertemu sekarang.


"Tata ...."


"Ray ...."


"Iya, aku datang ke mari untuk melihat pameran ini. Mengingat lagi masa lalu kita berdua. Kita bertemu juga kala ada pameran di La Plazza hampir tiga tahun yang lalu kan?" tanya Rayyan.


Sebenarnya tak perlu Rayyan bercerita, Adista juga masih mengingatnya. Akan tetapi, Adista bersikap tenang walau hatinya serasa sakit mengingat pertemuan kala itu.


"Siapa Adista?" tanya Bu Linda.


"Hanya teman, Bu," balas Adista.


Bu Linda tersenyum dan kemudian berlalu begitu saja. Rayyan yang masih berdiri di sana lagi-lagi terasa tersakiti dengan jawaban Adista yang menyebutnya hanya sebagai teman.


"Jadi, aku hanya teman?" tanya Rayyan.


"Adik ipar lebih tepatnya, Ray. Maaf ...."


"Kenapa kamu bisa menerima Kak Raka begitu cepat, Ta? Sementara aku yang terlebih dahulu mengenalmu dan mencintaimu," kata Rayyan sekarang.


Adista tersenyum tipis. "Maaf, Ray. Sudah ku katakan, aku bukan lagi Tatamu. Aku adalah Adista, istri Kakakmu," balasnya.


"Aku belum bisa menerimanya," kata Rayyan sekarang.


"Perlahan-lahan, lupakan aku, Ray. Kita bisa menjadi keluarga. Menjadi Kakak dan Adik Ipar. Maaf, Ray ...."


Dengan berat hati juga, Adista harus mengatakan semua itu. Sudah pasti itu menyakiti Rayyan. Namun, Adista bisa apa. Berlama-lama menjadi istri berdosa juga tak sanggup dia jalani. Adista sudah berjanji akan mencoba menerima Raka, itu artinya dia harus menyakiti Rayyan terlebih dahulu.


Dari jarak sekian meter, rupanya ada Raka yang melihat Adista dan Rayyan berbicara. Walau tidak jelas apa yang keduanya bicarakan, tapi raut wajah mereka terlihat serius. Raka memilih menjauh, mungkin Rayyan perlu berbicara dengan Adista.


Namun, sebelum Raka menjauh, Adista yang terlebih dahulu pergi. Raka masih mengamati keduanya. Raka memperhatikan arah yang dituju Adista adalah toilet. Sementara Rayyan masih berdiri di sana dengan menunduk.


Raka harus memprioritaskan siapa yang harus dia datangi sekarang. Akhirnya, Raka memilih mendatangi adiknya, Rayyan terlebih dahulu.


"Rayyan," sapa Raka.


"Kak Raka ... aku hanya melihat pameran ini," kata Rayyan.


"Silakan, masih ada beberapa hari untuk menggelar pameran ini," balas Raka.


Rayyan mengangguk perlahan. Dia kemudian melirik kakaknya yang kini sudah menjadi Direktur utama dengan tampilannya yang berwibawa walau masih muda.


"Kalau aku berhasil sukses seperti Kakak, mungkinkah aku bisa mendapatkannya kembali?" tanya Raka.


"Jangan menginginkannya lagi, Ray. Kakak mohon ikhlaskan. Kakak mencintainya dan akan selalu menjaganya," balas Raka.


"Kakak sungguh-sungguh mencintainya?" tanya Rayyan.


"Ya, sangat. Ikhlaskan, bereskan perasaanmu. Memang berat, tapi Kakak tidak akan mengalah, karena dia sepenuhnya sudah menjadi hak Kakak."


Raka kembali menegaskan ketika sudah menikah istri adalah hak penuh suaminya. Oleh karena itu, Raka meminta Rayyan mengikhlaskan semuanya. Tidak mudah, tapi Raka yakin Rayyan bisa.


Ucapan Adista dan sekarang Raka benar-benar membuat Rayyan merasa patah hati. Perasaannya benar-benar harus dipangkas habis. Tidak ada lagi harapan untuk perasaannya.