
"Kalian sudah makan belum dari rumah?" tanya Bu Ratih.
Rasanya ketika anak dan menantu datang dan tidak disuruh makan itu rasanya sungkan. Walau keadaan sendiri tidak punya, tapi Bu Ratih menawarkan makan kepada Raka dan Adista. Toh, anak dan menantu datang ke rumah juga tidak setiap hari.
"Sudah tadi pagi, Bu," balas Adista.
"Makan siang di sini yah. Sebentar Ibu dadarkan telor dulu," balas Bu Ratih.
Wanita paruh baya itu segera menuju ke dapur. Mengambil tiga telor tersisa dari lemari es dan mencampurkan irisan daun bawang, bawang merah, bawang putih, dan cabai, kemudian memberikan sedikit garam dan penyedap rasa. Setelah itu membuat telor dadar, dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.
Sementara untuk sayurnya, Bu Ratih sudah membuat Tumis Kangkung tadi pagi. Benar-benar masakan rumahan yang sederhana hanya Tumis Kangkung dan Telor Dadar. Mungkin menu rumahan seperti ini tidak pernah ada di rumah Raka. Namun, inilah makanan sehari-hari dan khas rumahan untuk keluarga Adista.
"Ayo, makan dulu," kata Bu Ratih.
Semua keluarga pun menuju ke meja makan kayu itu, Pak Gusti mengambil kursi kayu tambahan karena hanya ada empat kursi di sana. Rupanya sekarang mertuanya mengangkatnya, Raka yang mengangkat kursi itu. Ya, Raka yang mengambil inisiatif terlebih dahulu.
"Biar saya saja, Pak," kata Raka.
"Malahan merepotkan Nak Raka," balas Pak Gusti.
"Tidak repot sama sekali. Bapak duduk dulu saja, Pak," balas Raka.
Adista mengamati kala suaminya mengambil dan mengangkat kursi itu. Di dalam hatinya justru terasa hangat. Terlihat Raka yang mau membantu dan tidak membiarkan Bapaknya untuk mengangkat kursi sendirian.
"Kamu dapat pria yang baik, Dista," kata Bu Ratih berbisik di telinga Adista.
Itu adalah penilaian dari Bu Ratih. Menantunya memang kaya raya, tapi mau membantu. Selain itu, Raka memiliki kepribadian yang sopan juga kepada orang tua. Seakan itu menjadi penilaian positif untuk Raka dari mertuanya.
Di meja makan juga Adista mengambilkan nasi dan sayur untuk suaminya. Adista juga tidak yakin apakah suaminya mau masakan rumahan yang sangat sederhana seperti ini. Adista berharap Raka mau memakannya.
"Maaf, hanya seadanya Nak Raka," kata Bu Ratih.
"Tidak apa-apa, Bu. Raka sudah senang. Ini sudah luar biasa, Bu," balas Raka.
Ketika makan pun, Raka terlihat begitu lahap. Tumis Kangkung dan Telor Dadar itu cocok dengan selera Raka. Orang Sunda juga terbiasa menikmati makanan seperti ini.
"Kak Raka doyan Kangkung yah?" tanya Desta.
"Doyan dong, kan Mamanya Kak Raka dari Sunda. Suka makan sayuran," balas Raka.
"Oh, Bu Erina orang Sunda juga Nak Raka?" tanya Pak Gusti.
"Iya, Pak. Kalau Papa dari Jawa. Cuma yah, Papa sudah lahir di Jakarta. Jadi merasanya ya orang Jakarta," cerita Raka.
Sekarang keluarga Adista tahu sedikit tentang keluarga besannya. Setelah menyelesaikan makan bersama, kemudian Adista membantu ibunya untuk membereskan meja makan. Sedangkan, Raka menemani Desta belajar Bahasa Inggris.
"Lihat, Ta. Suamimu itu baik," kata Bu Ratih.
Penilaian itu bukan datang secara tiba-tiba, melainkan sejak dulu di mata Bu Ratih dan Pak Gusti bahwa menantunya itu juga adalah orang yang baik. Waktu Desta menjalankan operasi saja, Raka juga menemani. Itu menjadi bukti kalau Raka adalah orang yang baik.
"Kalau memiliki suami yang baik, istri wajib membalasnya, Ta. Nurut dan taat kepada suami. Kamu sudah bisa menerima suamimu belum? Dosa loh, Ta ... kalau masih belum bisa menerima suami sendiri," kata Bu Ratih.
"Tuh, sama Desta saja Raka juga baik. Orang yang benar-benar baik dan tulus itu terasa, Ta. Natural aja, tidak perlu dibuat-buat," balas Bu Ratih.
Usai membereskan meja makan, Adista mengamati Raka yang bisa akrab dengan adiknya. Dia merasa memang Raka terlihat baik. Bahkan dalam seminggu usai akad juga Raka berusaha tidak melewati batas, walau ada saja yang Raka lakukan.
"Kak Raka dulu Kak Raka kuliah di Amerika yah? Enak enggak Kak?" tanya Desta.
"Iya, dulu Kakak kuliah di Amerika. Kalau Desta mau kuliah di Amerika, sekolah yang rajin. Dapatkan nilai terbaik, nanti Desta bisa mendapatkan beasiswa ke Amerika," balas Raka.
Desta menganggukkan kepalanya. "Ya, Kak. Sekarang kan Desta bisa sekolah setiap hari. Desta harus rajin, Desta ingin jadi orang sukses seperti Kak Raka," balas Desta.
"Kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, Desta. Harus kerja keras. Kalau Desta kerja keras, belajar yang rajin, Kakak percaya Desta nanti bisa sukses kok," balas Raka.
"Iya, Kak. Desta ingin membahagiakan Bapak dan Ibu," jawab Desta.
Keinginan yang mulai dari seorang anak untuk kedua orang tuanya. Ingin memperbaiki nasib melalui pendidikan. Raka mengusapi puncak kepala Desta itu. Raka mendoakan juga supaya Desta bisa berhasil di kemudian hari nanti.
"Desta, kamu main sana. Kak Raka biar istirahat dulu sama Mbak Dista. Kasihan kalau Kakaknya gak bisa istirahat," kata Bu Ratih.
"Iya, nanti main lagi ya, Kak."
Adista pun beristirahat sejenak dengan Raka di dalam kamarnya. Kamar yang ukurannya tak seberapa. Hanya single bed yang berada di dalam kamarnya. Tidak ada barang mewah juga, semuanya hanya barang sederhana.
"Pak Raka istirahat saja," kata Adista.
"Ini kamarmu?" tanya Raka.
"Iya, sangat kecil dan sederhana. Mungkin hanya seukuran kamar ART di rumah Mama dan Papa," balas Adista.
Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu," balas Raka.
"Mungkin hanya sebesar kamar mandinya Pak Raka," balas Adista lagi.
Raka kembali menggelengkan kepalanya. Dia kemudian merangkul Adista. "Rumah itu istana, yang berharga untuk penghuninya. Jangan membandingkan," kata Raka.
"Tidak membandingkan, aku hanya berbicara fakta. Bahkan tidak ada AC di sini," balas Adista.
"Tidak apa-apa. Sini, peluk aku. Syukuri untuk semua yang kamu miliki. Semuanya berharga," kata Raka lagi.
Adista merasa hangat mendengar ucapan dari Raka itu. Benar yang Ibunya sampaikan, suaminya itu sosok yang baik. Penilaian Adista pun perlahan berubah. Dulu, dia mengira bahwa suaminya itu arogan dan menganggap enteng segala sesuatu. Akan tetapi, Raka sejatinya adalah orang yang baik.
Dipeluk Raka, Adista pun sekarang menautkan tangannya, melingkari pinggang suaminya. Sementara Raka tersenyum, biasanya kedua tangan Adista selalu luruh, tapi sekarang ada balasan dari pelukannya.
"Makasih Pak Raka sudah baik dan sayang ke Desta," kata Adista.
"Tidak perlu berterima kasih. Kan Desta adikku juga. Adik iparku, jadi aku menyayanginya dan berharap Desta selalu sehat dan sukses nanti," kata Raka.
"Aamiin ... terima kasih banyak Pak Raka."
Benar, ketulusan Raka itu bisa Adista rasakan. Tidak berharap dari apa yang dia lakukan. Raka melakukan semuanya dengan tulus.