
Ketika keluarga istrinya datang ke rumah, Raka bukan sekadar menunjukkan rumah dan beberapa ruangan yang ada di sana. Kunjungan itu terasa tidak lengkap tanpa makan bersama. Oleh karena itu, Mbok Darmi menyajikan berbagai olahan Seafood untuk keluarga Pak Gusti yang datang berkunjung hari itu. Menu ini juga dipilih Adista karena keluarganya sangat jarang menikmati boga bahari.
"Kita makan dulu yuk Bapak, Ibu, dan Desta," ajak Adista sekarang.
"Walah, gak usah repot-repot, Adis. Tadi sebelum ke sini kami sudah makan kok," balas Bu Ratih.
"Datang ke rumahnya anak harus makan dong, Bu. Sama seperti Dista dan Mas Raka yang selalu makan di rumah Ibu. Tidak boleh pulang dengan perut kosong," balas Adista.
Mendengar apa yang Adista katakan membuat Bu Ratih tersenyum. Walau hanya sekadar membuat telur dadar dan sayur Kangkung, tapi Bu Ratih selalu memberi makan ketika Adista dan Raka datang ke rumah. Tidak akan membiarkan anak dan menantunya pulang dengan perut yang kosong.
"Mari kita makan dulu," ajak Raka kemudian.
Sore itu, di meja yang berada dekat kolam renang. Menikmati makan bersama dengan menghirup udara segar sore itu. Di meja itu sudah tersaji Udang Saus Padang, Gurame Asam Manis, Cumi Crispy, dan Ikan Goreng. Memang tidak ada Seafood yang disajikan dengan dibakar karena Adista sedang hamil dan tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang dibakar. Sehingga memang sengaja tidak menyajikan ikan bakar.
"Masak sendiri, Mbak?" tanya Desta kepada Adista.
"Mbok Darmi yang masak, Ta. Mbak tadi hanya bantu-bantu saja," jawab Adista.
Mereka duduk melingkari meja bundar itu. Kemudian Adista mengambilkan nasi putih untuk keluarganya.
"Ta, ambilkan suamimu dulu," kata Pak Gusti.
"Tidak usah, Pak. Untuk Bapak dan Ibu dulu tidak apa-apa," balas Raka.
"Tidak sopan, Nak Raka."
Raka dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah, Bapak. Bakti seorang anak kepada orang tuanya."
"Itu benar, Nak Raka ..., kalau anak perempuan sudah menikah, baktinya harus kepada suaminya terlebih dahulu," balas Pak Gusti.
"Adista selalu berbakti kok, Bapak."
Raka mengatakan itu, tangannya perlahan menggenggam tangan Adista. Untuk Raka, memang Adista adalah istri yang berbakti. Raka tak segan untuk mengatakan itu kepada mertuanya.
"Syukurlah kalau anaknya Bapak dan Ibu ini sudah berbakti kepada suaminya. Kami senang mendengarnya," balas Pak Gusti.
Usai itu, Raka juga mempersilakan keluarga mertuanya untuk mengambil lauk terlebih dahulu. Raka memilih belakangan saja.
"Desta, jangan banyak-banyak ... Mas Raka belum mengambil loh," kata Bu Ratih memperingatkan Desta yang mengambil udang cukup banyak.
"Tidak apa-apa, Ibu. Habiskan juga boleh kok," balas Raka.
Terlihat jelas Raka yang memprioritaskan mertuanya terlebih dahulu. Adista diam-diam tersentuh kala suaminya mau menyesuaikan diri dengan keluarganya. Bagi mereka yang kaya raya kadang susah untuk menunduk, tapi Raka tidak demikian. Raka justru terlihat tulus dan juga, mau menunduk. Selain itu kepada mertuanya Raka juga sangat sopan.
Mereka akhirnya menikmati sajian itu sembari berbicara. Selain memuji masakan aneka Seafood yang benar-benar lezat. Bahkan menurut Desta, rasakan masakan itu setara dengan makanan di restoran.
"Mbak, bulan depan di sekolahnya Desta ada acara bazar dan kesenian. Kalau bisa datang ya Mbak ... ajak Mas Raka juga," kata Desta.
"Kalau Mas Raka sedang tidak sibuk, nanti kami akan datang, Des," balas Raka.
Desta kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, Mas. Biar Mas Raka dan Mbak Adis tahu sekolahnya Desta aja. Nanti ada Ondel-Ondel juga di sana, Mas."
Usai makan dan istirahat sebentar keluarga mertuanya itu berpamitan pulang. Raka bahkan memberikan amplop cokelat kepada istrinya untuk memberikannya kepada orang tuanya.
"Janjiku Sayang. Kamu yang berikan yah, aku gak mau Bapak dan Ibu sungkan kepadaku," kata Raka.
"Mas ...."
Adista masih teringat dengan ucapan Raka dulu yang mau memberikan untuk mertuanya. Adista ketika ingin resign cukup resign saja. Tidak perlu memikirkan jatah bulanan untuk orang tuanya. Namun, sekarang Adista juga tidak enak kepada suaminya.
"Kan sebagaimana janjiku. Kamu berikan saja," jawab Raka.
Akhirnya Adista memberikan amplop cokelat itu kepada ibunya. Terlihat Bu Ratih yang menolak.
"Tidak usah, Ta. Sungguh, Bapak dan Ibu melihat kamu bahagia dan dibahagiakan suami saja, kami sebagai orang tua sudah bahagia," kata Bu Ratih.
"Hanya sedikit, Ibu. Untuk membeli beras saja," kata Adista.
Bu Ratih malahan sekarang menitikkan air matanya. Terharu dan juga merasa tidak enak hati ketika diberi oleh Adista.
"Kami selalu merepotkanmu yah, Ta?" tanya Bu Ratih.
"Tidak merepotkan sama sekali kok, Ibu. Kami justru senang ketika bisa membantu Ibu dan Bapak," balas Adista.
"Kami tidak pernah bisa membahagiakanmu, Ta. Justru Rakalah yang membahagiakan kamu. Bapak dan Ibu hanya memberimu penderitaan, membuatmu bekerja keras. Maaf yah ...."
Dengan cepat Adista menggelengkan kepalanya. "Hidup itu berputar, Ibu. Dulu Adista pernah merasakan bagaimana hidup saat di bawah. Makan dengan kecap manis dan kerupuk sudah biasa untuk Adista, Ibu. Justru Adista bersyukur karena dulu, Adista pernah menikmati semuanya. Sehingga sekarang ketika diberi Allah nikmat yang seperti ini membuat Adista banyak bersyukur dan tidak melupakan asal-usul Adista."
Adista mengatakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Dia tidak menyesali dengan kesukaran hidup yang dulu dia rasakan. Justru sekarang Adista menjadi lebih banyak bersyukur. Garis hidupnya sepenuhnya karena Allah saja. Yang pasti Adista tidak akan jumawa, tidak akan sombong, melainkan terus mengingat asal-usulnya dulu.
"Semoga kamu dan Raka selalu bahagia yah, Nak. Jujur, Ibu malu setiap kali kamu memberikan untuk Bapak dan Ibu," kata Bu Ratih.
"Tidak usah malu, Bu," balas Adista.
Usai itu mereka berpamitan satu sama lain. Barulah Adista menitikkan air matanya setelah keluarganya pulang.
"Kok jadi nangis?" tanya Raka kepada istrinya itu.
"Gak apa-apa, Mas," balas Adista.
Usai itu tanpa banyak berbicara, Raka kemudian memeluk istrinya itu. Dia benamkan wajah istrinya yang berurai air mata di dadanya, tangannya bergerak perlahan mengusapi kepala istrinya.
"Makasih ya Mas, kamu baik banget kepada keluargaku. Aku sering terharu merasakannya," kata Adista dengan terisak.
"Sudah pasti aku baik. Keluargamu kan juga keluargaku. Tidak membeda-bedakan juga," balas Raka.
"Aku tahu itu karena kamu sangat tulus, aku bisa merasakan ketulusanmu."
Adista mengatakan itu dengan sepenuh hati. Dia selalu saja tersentuh ketika suaminya memperlakukan keluarganya dengan tulus. Walau berbeda strata sosial, tapi Raka sangat tulus. Sikap Raka itulah yang menyentuh Adista.