Staycation With Boss

Staycation With Boss
Kondisi Tak Biasa di Paris



Menempuh perjalanan belasan jam dari Jakarta menuju ke Paris akhirnya ditempuh oleh Papa Zaid, Mama Erina, dan Rayyan. Keluar dari Bandar Udara Charles de Gaulle, Paris atau yang lebih dikenal dengan Bandara Roissy yang merupakan bandar udara terbesar di kota fashion dunia yaitu Paris. Mama Erina, Papa Zaid, dan Rayyan diperlihatkan dengan kondisi kota Paris yang tidak biasanya.


Sampah menggunung di mana-mana, banyak tikus karena banyaknya tumpukan sampah, selain itu aparat kepolisian yang berjaga begitu banyak. Benar-benar situasi kota Paris yang tidak seperti biasanya. Selain itu, beberapa titik juga terjadi demonstrasi dan perilaku anarkis di sana.


"Benar-benar tidak seperti Paris yang pernah kita datangi ya, Pa," kata Mama Erina dengan menitikkan air mata.


Sangat ironis, kota yang indah dan juga simbol kota romantis di dunia sekarang keadaannya benar-benar berbeda. Bagi siapa saja yang pernah melihat keindahan kota Paris pastilah akan tertegun dan pastinya bersedih dengan keadaan kota sekarang ini.


"Benar, Ma. Tidak mengira akan seperti ini," balas Papa Zaid.


Ya, memang pada kenyataannya begitulah Paris hari ini. Semua keindahan di sudut kota seakan sirna. Kondisinya begitu tak terkendali. Aroma sampah yang menumpuk juga menyebabkan udara di berbagai tempat. Dengan melihat keadaan di lapangan, Papa Zaid dan Mama Erina kian yakin dengan keputusannya untuk menjemput Raline pulang.


"Kita langsung ke apartemennya Raline," kata Papa Zaid.


Pria itu berbicara kepada driver taksi dan memintanya mengantar ke alamat yang dituju. Di sudut-sudut kota aksi massa sangat tak terkendali. Bahkan mengarah ke aksi anarki.


Perjalanan hampir satu jam dari Bandara Roissy, sekarang mereka tiba di apartemen yang ditempati oleh Raline. Mendapati keluarga mereka datang, Raline justru menangis.


"Mama ... Papa," katanya dengan berlinang air mata.


Dipelukan Papa Zaid, Raline benar-benar menangis. Dia ketakutan dengan kondisi yang terjadi. Bahkan Raline menceritakan bagaimana brutalnya aksi yang terjadi. Raline yang ketakutan dalam sepekan terakhir sampai tak keluar dari apartemen.


"Mama dan Papa di sini, Raline." Memeluk putri tunggalnya, dada Papa Zaid juga terasa sesak.


Siapa pun yang menjadi seperti Raline juga pastilah takut dan tidak berani keluar. Sebab, banyak toko-toko di rusak dan dijarah. Selain itu, aksi demonstrasi di mana-mana. Pembakaran mobil dan sebagainya.


"Jangan menangis. Kami datang untuk menjemput kamu. Secepatnya kita balik ke Jakarta yah," kata Mama Erina.


"Iya, Ma. Raline kayaknya ingin menyelesaikan kuliah di Jakarta atau mungkin cuti dulu. Menunggu sampai kota ini menjadi kondusif," balas Raline.


Di apartemen Raline, Mama Erina kian sedih melihat sedikit air minum dan hanya mie instan kemasan saja yang ada di sana. Mungkinkah dalam sepekan terakhir, Raline juga tidak mengonsumsi makanan sehat?


"Sepekan kamu hanya memakan mie instan, Line?" tanya Mama Erina.


"Seadanya, Ma ... dan Pizza. Dengan kondisi seperti ini sukar untuk membeli makanan, Ma," balasnya.


Mengisi waktu temu kangen dan mendengar cerita Raline, Mama Erina akhirnya memilih memasak nasi, membuat telor, dan mengolah beberapa bahan makanan dari lemari es di apartemen Raline. Senang rasanya mencium aroma masakan, setelah sepekan hanya bertahan hidup dengan mie instan.


"Setidaknya kamu tetap sehat dengan memasak, Line," kata Mama Erina.


"Maaf, Ma. Di saat seperti ini, Raline tak bisa berpikir jernih. Terlalu takut dengan semuanya. Bahkan dari sini, aksi demonstrasi di bawah sana begitu terdengar teriakan massa. Takut, Ma," kata Raline.


"Ma, bolehkah Raline mengajak teman Raline makan bersama?" tanyanya.


Mama Erina menatap putrinya itu dan tentunya bertanya siapa teman putrinya ketika berada di Paris.


"Temanmu siapa, Line? Cowok atau cewek. Hati-hati dalam berteman, Line. Kamu tahu bukan pertemanan cowok dan cewek di luar negeri sangat bebas," kata Mama Erina.


"Dia cewek kok, Ma. Orang Indonesia juga. Dia menunggu orang tuanya menjemput dari Indonesia juga. Rencananya teman Raline akan transfer kuliah dari Paris ke London, Ma."


Mendengar ternyata teman Raline adalah seorang cewek dan berwarganegara Indonesia membuat Mama Erina tenang. Itu artinya tidak terjadi hal yang macam-macam dengan Raline. Sebab, ketika melepas anak-anaknya kuliah di luar negeri yang Mama Erina takutkan adalah dengan bebasnya pergaulan di luar negeri. Bahkan di sana cowok dan cewek tidur bersama adalah hal yang biasa. Tidak ada komitmen pasti dalam menjalin sebuah hubungan.


"Dia tinggal di mana?" tanya Mama Erina.


"Dua kamar dari sini, Ma. Kami juga kuliah di kampus yang sama. Hanya berbeda fakultas," balas Raline.


Akhirnya Mama Erina menganggukkan kepalanya. "Panggil sana. Eh, jangan sendirian, Line. Biarkan Rayyan menemanimu."


Akhirnya Raline dan Rayyan keluar dari apartemen sebentar. Keduanya menuju ke dua kamar di sebelah unit yang ditempati oleh Raline dan mendatangi kawannya yang adalah orang Indonesia.


Sekarang, tangan Raline mengetuk pintu unit itu.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Di sini unitnya, Kak?" tanya Rayyan.


"Iya, dia sahabat, Kakak. Mau kenalan, Ray?" tanya Raline.


"Ogah, dia lebih tua berarti. Seusia Kakak kan?" tanya Rayyan.


"Yang penting single, Ray. Daripada kamu menginginkan kakak ipar loh. Berdosa."


Raline berkata demikian karena setidaknya Raline tahu kisah antara Rayyan, Raka, dan kakak iparnya yaitu Adista. Menurut Raline lebih baik menjalin hubungan dengan wanita single walau sedikit lebih tua. Ya, selisih dua tahun dari umur Rayyan sekarang. Daripada Rayyan mengejar Adista yang tak lain sekarang adalah kakak iparnya sendiri justru berdosa.


Rayyan terdiam. Mendengar posisi Adista ditegaskan oleh Raline membuat Rayyan tak nyaman. Dalam sudut pandangnya, Rayyanlah yang kali pertama bertemu dengan Adista. Namun, takdir berkata lain. Kekasihnya dulu justru sekarang menjadi kakak iparnya kini.


"Gak dibuka-buka, jangan-jangan dia keluar?" tanya Rayyan.


Raline menggelengkan kepalanya. "Sepekan ini kami sama-sama gak keluar karena ketakutan. Coba ketuk lagi."


Raline akhirnya mengetuk lagi pintu unit itu. Siapa sebenarnya rekan Raline itu? Mungkinkah ada kisah baru yang terjalin usai ini?