
Malam harinya di kota Paris ....
Dari kamar yang ditempati Papa Zaid dan Mama Erina di apartemen yang ditempati oleh Raline, kini keduanya seolah tengah mendiskusikan sesuatu yang cukup penting. Dinginnya Rayyan, dan juga beberapa pemuda itu tampak menatap foto Adista yang masih tersimpan di handphonenya membuat Mama Erina dan Papa Zaid terenyuh dengan kondisi putra bungsunya itu. Selain itu, sebagai orang tua Mama Erina dan Papa Zaid juga tidak mengesampingkan bagaimana perasaan Raka.
"Menurut Papa, bagaimana perkembangan Rayyan, Pa?" tanya Mama Erina kepada Papa Zaid.
"Di hadapan kita berdua, Rayyan berusaha biasa saja sih, Ma. Namun, hati manusia siapa tahu," balas Papa Zaid.
"Satu hari, Mama bisa memergoki Rayyan memandangi foto Adista di handphonenya. Dia tampak tak jemu-jemu menatap foto itu. Benar, dulu Dista memang pacarnya, kekasihnya. Akan tetapi, sekarang keadaan sudah berubah, Pa ... Adista sudah menjadi kakak iparnya," balas Mama Erina.
Sekarang Mama Erina menunjukkan raut wajah yang terlihat sedih. Percintaan kedua putranya terasa begitu membingungkan. Tentu Raka sendiri merasa tertekan, tapi Raka yang lebih dewasa tidak menunjukkannya.
"Yang baru saja Mama sampaikan benar adanya, Ma. Papa juga memikirkan hal itu. Bagaimana pun Dista juga sudah menjatuhkan pilihannya, Dista sudah mencintai Raka sekarang. Lebih dari itu, Dista tengah hamil. Tidak seharusnya Rayyan terus menggenggam perasaannya," balas Papa Zaid.
Papa Zaid mengatakan seperti itu karena jika Rayyan terus menggenggam perasaannya sendiri, justru Rayyan yang akan terus terluka. Rayyan tidak bisa mengikhlas, justru kian sakit ketika Raka dan Adista terus mengecap kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga keduanya.
"Jujur, Mama tertarik dengan Eiffel, Pa ... tidak terlihat sebagai sosok gadis yang pintar dan baik. Apakah tidak bisa kalau kita membicarakan hal baik dengan keluarga Agastya?" tanya Mama Erina sekarang.
"Mama yakin? Walau dulu, di masa lalu ... Papa pernah memiliki perasaan untuk Mamanya Eiffel?" tanya Papa Zaid dengan jujur.
"Kan perasaan itu sudah sirna. Memang masih ada?" tanya Mama Erina.
Papa Zaid berusaha jujur dengan istrinya sendiri bahwa di masa lalu Papa Zaid pernah memiliki perasaan untuk Mama Sara. Mungkinkah menjalin hubungan dengan keluarga yang sebelumnya pernah terhubung di masa lalu?
"Sudah tidak ada sejak dulu. Ketika Papa memilih ikhlas dan melepaskan Sara untuk Belva. Sudah berakhir. Mama juga tahu itu," kata Papa Zaid.
Ini adalah pengakuan jujur seorang Papa Zaid. Jika berbicara mengenai hati yang lapang, Papa Zaid lah orangnya. Dia sudah mengenal sosok Sara Valeria sejak lama. Papa Zaid juga yang membantu Sara kala kali pertama membuka Coffee Bay hingga Coffeeshop itu menjadi gurita bisnis hingga sekarang. Dari awal menikah dengan Mama Erina, Papa Zaid juga termasuk orang yang selalu jujur.
"Benar, Pa ... bagaimana kalau Rayyan dan Eiffel?" tanya Mama Erina perlahan.
"Walau Eiffel dua tahun lebih tua dari Rayyan?" tanya Papa Zaid sekarang.
"Tidak ada salahnya, Pa ... kalau lambat laun keduanya cocok. Kenapa tidak?"
Sekarang Papa Zaid terdiam. Bukannya tidak setuju, tapi Papa Zaid menginginkan tidak ada yang terluka, kecewa, atau tidak setuju dengan saran ini. Bagaimana pun, Papa Zaid tentu menginginkan kebahagiaan putra-putrinya. Papa Zaid tidak ingin memaksakan jodoh untuk anak-anaknya. Dia sudah berjanji dalam hatinya, siapa pun jodoh yang dipilih anak-anaknya, Papa Zaid akan merestuinya.
"Benarkah begitu, Ma? Sebelum melangkah ke sana ... apakah tidak sebaiknya kita mendekatkan saja Rayyan dan Eiffel, Ma? Sehingga tidak serta-merta menjodohkan mereka berdua. Biarkan semua berlaku alamiah," kata Papa Zaid.
"Bagaimana mendekatkannya, kalau Rayyan akan pulang ke Jakarta. Dia baru akan kembali ke London semester depan?" tanya Mama Erina. Jujur, Mama Erina menjadi dilema sekarang.
Mama Erina menginginkan baik Raka dan Rayyan bisa sama-sama bahagia, tanpa melukai satu sama lain. Sama-sama meraih kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tidak harus menekan perasaan. Mengekspresikan arti bahagia itu dengan sepenuh hati.
"Kalau didekatkan dan perlahan perasaan itu tumbuh kan, semua terjadi dengan sangat alamiah. Itu baru cara terbaik mengisi hati yang terluka dengan sosok yang baru, Ma," kata Papa Zaid lagi.
Mama Erina sekarang menganggukkan kepalanya. Agaknya sekarang Mama Erina bisa menerima maksud dari Papa Zaid. Sebaiknya memang lebih baik begitu adanya.
"Baiklah, Pa ... sebaiknya begitu saja. Mama sih tidak masalah. Toh, Papa sudah membereskan hati Papa sejak lama. Selama ini Papa juga menjadi sosok yang setia," balas Mama Erina.
Papa Zaid kemudian tersenyum dan menggenggam tangan istrinya itu. "Yang benar, Ma ... Mama bisa aja," balasnya.
"Posisi Rayyan mungkin dulu seperti Papa waktu masa muda. Terhimpit di antara Jeng Sara dan suaminya. Untung saja Papa memilih melepaskan perasaan itu dan mencari arti bahagia yang sesungguhnya," kata Mama Erina sekarang.
"Cinta tak harus selalu memiliki, Ma," balas Papa Zaid.
Mama Erina setuju dan kembali menganggukkan kepalanya. "Benar sekali, Pa. Ada kalanya harus melepaskan perasaan itu dan juga membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihan hatinya. Di lain waktu, Allah akan kirimkan cinta yang baru melalui sosok yang baru," kata Mama Erina.
"Sama seperti Mama yah. Terima kasih banyak, Ma," balas Papa Zaid.
"Mama yang berterima kasih, Pa. Masa muda dan awal pernikahan kita penuh liku, tapi Mama benar-benar berharap Raka, Rayyan, dan Raline akan bahagia dengan caranya, dengan pasangan mereka sendiri masing-masing kelak."
Itu adalah doa dan harapan Mama Erina. Dulu, kehidupan rumah tangganya bersama Papa Zaid penuh liku. Bahkan pernah terpisah untuk beberapa bulan. Namun, untuk anak-anaknya keduanya menginginkan Raka, Raline, dan Rayyan akan menemukan kebahagiaannya.