
Beberapa hari kemudian seakan-akan waktu berjalan normal. Adista bisa mengendalikan mood dan suasana hatinya. Raka sendiri juga bekerja dengan normal, walau begitu Boss itu sering turun ke bawah dan curi-curi pandang kepada istrinya sendiri. Maklum, keduanya masih menyembunyikan pernikahan mereka. Menutup rapat-rapat, dan hanya kedua keluarga saja yang tahu.
Hingga akhirnya jelang sore itu, ada wanita cantik yang sengaja datang ke La Plazza Hotel untuk menemui Raka. Sudah jelas terlihat bahwa dia adalah Natasha. Penampilannya selalu cantik dengan menenteng tas mewah berkisar ratusan juta.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan Pak Raka?" tanyanya kepada resepsionis.
"Maaf, dengan siapa yah? Sudah memiliki janji ketemu dengan Pak Raka sebelumnya belum?" tanya resepsionis di La Plazza Hotel.
"Belum," jawabnya singkat.
"Boleh saya tahu, dengan siapa?" tanya resepsionis itu lagi.
"Natasha."
Akhirnya, resepsionis itu menelpon yang terkoneksi dengan ruangan Direktur Utama yaitu Raka. Mengatakan bahwa ada wanita bernama Natasha. Raka menghela napas panjang. Tidak tahu kalau wanita itu kembali ke La Plazza dan menemuinya.
"Tolong katakan, saya sedang sibuk," kata Raka.
Dengan jelas dan lugas Raka menolak. Sebab, Raka sudah menyelesaikan cerita lamanya. Tidak akan bermain-main dengan masa lalu. Dia ingat janji dengan istrinya. Tidak akan membuat goyah kehidupan rumah tangganya.
"Maaf, Bu ... Pak Raka sekarang sedang sibuk," kata Resepsionis itu kepada Natasha.
Tampak Natasha merasa kesal. Dia datang ke La Plazza lagi untuk menemui Raka, tapi pria yang ingin dia temui justru tidak memberi celah. Padahal, Natasha sudah penuh dengan percaya diri akan bisa bertemu dengan Raka.
"Katakan ke Pak Raka, saya tunggu di lobby."
Walau Resepsionis sudah mengatakan Raka sibuk, tapi Natasha masih keras kepala untuk menunggu. Mungkin menunggu lima belas menit atau mungkin setengah jam tidak masalah untuk Natasha. Atau bisa saja dia menunggu sampai Raka turun, supaya bisa bertemu dengan Raka.
Akhirnya, lebih dari setengah jam berlalu dan sekarang Raka benar-benar turun, bukan untuk menemui Natasha, tapi dia ingin melihat Adista yang tengah bekerja. Namun, melihat Raka dari jauh, Natasha segera berdiri dan berjalan ke arah pria tampan itu.
"Raka," sapa Natasha.
Sementara Raka diam. Pria itu berparas dingin dan seolah tidak merespons dengan ramah. Sementara Natasha berusaha memasang senyuman terbaiknya walau kesal karena sudah menunggu lama.
Di saat bersamaan, Adista juga keluar. Wanita itu hendak menuju ke toilet. Namun, tak disangka dia justru suaminya dan Natasha yang berdiri berhadap-hadapan dengan jarak yang tak seberapa. Natasha sangat tahu bahwa Adista adalah staff yang tempo hari bersama Raka. Akan tetapi, Natasha sekarang terlihat cuek dan tidak menyapa Adista sama sekali.
"Dista," sapa Raka yang justru memilih menyapa Adista.
"Ya, Pak Raka ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Adista.
"Raka, aku yang di sini terlebih dahulu. Aku yang ingin bertemu denganmu dan kamu berkata sibuk. Apa itu hanya alibi karena kamu tidak ingin bertemu denganku?" tanya Natasha.
Adista seolah membuka telinganya lebar-lebar. Benarkah bahwa suaminya itu tidak menemui Natasha. Jika itu benar, berarti memang Raka benar-benar suami yang bisa dipercaya. Ucapan Raka tempo hari benar-benar bisa dipercaya.
Usai itu, Raka menatap Adista lagi. "Tolong nanti siapkan event bulan depan dan kamu ikut meeting dengan saya," kata Raka.
"Baik Pak Raka," jawab Adista dengan menganggukkan kepalanya.
Adista yang ingin ke toilet pun menjadi tertahan. Dia seolah kini berada di antara dua kubu yang tegang yaitu Raka dan Natasha.
"Raka, aku jauh-jauh datang ke mari untuk bisa bertemu denganmu. Aku bahkan menunggu hampir satu jam lamanya. Ka, dulu kamu SMA sering membantuku, kenapa sekarang kamu begini Ka? Apakah karena aku menolakmu dan membuat seperti ini?"
"Semua sudah berlalu, Nat. Kita memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Tolong jangan mengganggu lagi," balas Raka.
"Aku tidak mengganggu siapa pun. Kenapa, Ka? Aku sengaja pulang dari Paris dan ke Jakarta untuk menemuimu. Mencoba merangkai kembali kepingan cerita di antara kita dulu," balas Natasha.
"Sudah tidak ada yang dirangkai, Nat. Sekarang, silakan pergi ...."
Raka benar-benar serius. Suara bariton pria itu terdengar dan penuh penekanan. Tidak ada lagi kepingan cerita. Sudah berlalu, dan Raka sudah memiliki kisah baru yang dia rangkai dengan istrinya pastinya.
"Mohon izin Pak Raka ... maaf," kata Adista lirih.
"Tidak perlu, Dista. Kamu ikut saya meeting sekarang," balas Raka.
Adista akhirnya berjalan di belakang Raka. Mencoba mengikuti suaminya saja, nanti barulah dia akan ke kamar mandi. Namun, Natasha benar-benar memanfaatkan celah yang ada. Di koridor yang kala itu terbilang sepi, Natasha berjalan cepat dan memeluk Raka dari belakang. Ya, wanita cantik itu kini memeluk Raka dan menyadarkan wajahnya di punggung Raka.
"Ka, jangan seperti ini ... aku tahu masih ada kepingan cerita di antara kita. Kamu ... masih menyukaiku kan? Aku datang untukmu, Ka. Aku sungguh-sungguh," kata Natasha dengan memejamkan matanya.
Adista yang melihat adegan itu hatinya teriris perih. Dia merasa sangat tidak rela ketika ada wanita lain yang memeluk suaminya seperti itu. Namun, lantaran di tempat bekerja, Adista hanya bisa menekan perasaannya sendiri. Sementara Raka tak tinggal diam, dia mengurai dengan cepat pelukan Natasha itu, dan melangkah menjauh.
"Jangan berhalusinasi, Nat. Semua sudah usai. Berakhir sudah. Tidak ada lagi," balas Raka dengan tegas.
"Walau aku datang kepadamu seperti ini, Ka?" tanya Natasha yang kini berlinang air mata.
"Tidak berpengaruh sama sekali."
Raka sudah pada pendiriannya tidak akan memberikan celah untuk orang ketiga. Ini adalah ujian dan cobaan dalam rumah tangganya. Akan tetapi, Raka akan berusaha untuk menyelesaikannya. Tidak akan berlarut-larut dan membiarkan masalah menjadi membesar.
Raka menatap tangan Adista di sana, dan refleks Raka menggandeng tangan Adista. "Ayo, Adista ... ikuti saya."
"Raka ... Raka ..., kamu tidak boleh begini, Raka. Aku datang untukmu. Raka!"
Natasha memanggil Raka dengan berurai air mata. Sementara Raka benar-benar acuh. Pilihannya sudah jelas. Tidak akan memberikan celah, justru Raka akan menutup semua celah. Mempertahankan rumah tangga itu membutuhkan ketegasan, Raka sedang melakukan itu. Ketika cobaan datang, Raka tak akan membiarkan semua itu menggoyahkan rumah tangganya. Terlebih ada bakal kehidupan baru yang bersemi di rahim Adista yang sekarang harus Raka jaga. Oleh karena itu, Raka dengan sungguh-sungguh menjaganya dan berusaha menjaga suasana hati atau mood istrinya itu. Cobaan datang untuk dihadapi, Raka akan mengatasi setiap cobaan yang datang dan terus mengukuhkan kehidupan rumah tangganya.