Staycation With Boss

Staycation With Boss
Sudah Delapan Minggu



Raka berpikir ketika mereka berada di Rumah Sakit, ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan sekaligus kepada istrinya. Sehingga, janin di kandungan istrinya bisa dilihat dan apakah ada gangguan tidak. Selain itu, ada vitamin atau mungkin penguat janin kalau memang kandungan Adista lemah.


"Nanti sebelum pulang, kita cek kehamilan kamu sekalian yah?" ajak Raka kepada istrinya.


"Iya, Mas."


"Kemarin sih Dokter bilang bisa saja kandungan kamu lemah. Jadi harus meminta penguat janin sekalian," kata Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Dia memilih menuruti saran dari suaminya. Selain itu, Adista percaya saran dari suaminya pasti juga adalah saran yang terbaik.


Setelah itu, Adista mengeluhkan sesuatu kepada suaminya."Mas, bisa enggak jarum infusnya dilepas saja? Tanganku sakit. Kelihatannya bengkak deh, Mas."


Raka seketika mengamati tangan istrinya yang dipasangi jarum intravena, memperhatikan benarkah tangan itu menjadi bengkak. "Sakit banget?" tanya Raka.


"Ya, sakit, Mas. Perasaanku sedikit bengkak deh," balas Adista.


"Nanti kalau perawat datang, aku bilangkan."


Akhirnya menunggu perawat datang pagi, Raka mengatakan kondisi istrinya itu.


"Apakah bisa dilepas saja jarum infusnya? Kelihatannya tangan istri saya bengkak," kata Raka.


Lantas perawat itu mengecek kondisi tangan Adista terlebih dahulu. "Benar, Pak. Tangannya pasien bengkak karena infusnya tidak masuk. Baik saya akan lepas. Soalnya kalau mau diinfus lagi, harus dicari pembuluh darahnya dan ditusuk lagi," balas perawat itu.


"Tidak usah, Suster. Saya sudah sehat dan baik-baik saja kok," balas Adista dengan menggelengkan kepalanya. Kemarin dipasang infus ketika dia pingsan, mungkin rasanya tidak begitu sakit. Akan tetapi, sekarang ketika sadar rasanya akan sangat sakit kalau jarum menembus hingga ke pembuluh darahnya.


Setelah infus dilepas. Adista merasa lebih baik. Hanya tinggal menunggu bengkak di tangannya menghilang. Selain itu, ada petugas Rumah Sakit yang lainnya mengantarkan sarapan dan obat yang harus diminum Adista.


"Sarapan dulu, Yang," kata Raka.


"Aku ke kamar mandi dulu, Mas," balas Adista.


"Mau ngapain?" tanya Raka.


"Cuci muka dan lain-lain kok. Aku mandi nanti kalau udah boleh pulang aja," balas Adista lagi.


Raka akhirnya menuntun istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi. Sembari berpesan Adista tidak boleh terlalu lama di dalam kamar mandi. Bagaimana pun Raka khawatir kalau Adista masih lemah dan sakit.


Begitu sudah keluar dari kamar mandi, Raka juga sigap berdiri dan kemudian membantu Adista berjalan menuju brankarnya.


"Sarapan yah? Kamu boleh memilih memakan makanan dari Rumah Sakit atau bekal dari Mama. Yang penting kamu makan," kata Raka.


"Mama bawain bekal?" tanya Adista lagi.


"Iya, sekalian waktu mengantar baju gantiku kok," balas Raka.


"Makanan dari Mama aja ya, Mas. Biasanya makanan dari Rumah Sakit kan kurang berbumbu," balas Adista.


Raka menganggukkan kepala. Dia kemudian membukakan satu kotak bekal untuk Adista. Sembari Raka juga makan. Raka juga sangat lapar karena sejak kemarin dia tidak makan. Makan malam juga terlewatkan, dia terlalu panik dengan kondisi Adista.


"Disuapin enggak?" tanya Raka.


"Bisa makan sendiri kok. Mas Raka juga makan aja, sejak kemarin Mas Raka juga belum makan. Aku bisa kok," balas Adista.


Jelang jam sepuluh pagi, Dokter datang dan melakukan visitasi. Kondisi Adista dicek lagi dan akhirnya boleh pulang. Kabar yang baik tentunya. Adista memilih mandi dulu dan kemudian akan mengikuti suaminya ke Poli Kandungannya. Sebelum ke sana, pihak Rumah Sakit sudah mendaftarkan Adista terlebih dahulu sehingga nama Adista sudah tertera sebagai pasien. Hanya tinggal ke Poli Kandungan saja dan mengantri.


"Ke Poli kandungan dulu yah," ajak Raka.


"Aku kok takut yah, Kak," balas Adista.


"Gak usah takut ada suamimu kok. Stay rileks, Sayang," balas Raka.


Begitu sudah di Poli kandungan, mereka memilih duduk dan mengantri. Ada kurang lebih setengah jam barulah nama Adista dipanggil. Raka pun turut masuk ke dalam. Setelah sebelumnya Adista ditimbang dahulu berat badannya dan diukur tekanan darahnya.


Kemudian mereka bertemu dengan Dokter Rinta yang adalah Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit itu.


"Selamat siang, perkenalkan saya Dokter Rinta," sapa Dokter itu.


"Selamat siang, Dokter. Perkenalkan saya Adista," balas Adista.


Mereka saling menyapa untuk beberapa saat. Pun Raka yang terlibat walau tidak terlalu banyak. Dia lebih banyak mendengarkan saja, kembali ke settingan awal Raka yang pendiam dan irit berbicara.


"Jadi tahunya positif hamil dari pemeriksaan Dokter karena pingsan semalam yah?" tanya Dokter Rinta.


"Benar, Dokter. Dokter mengatakan demikian," balas Adista.


"Silakan naik ke brankar yah, Bu. Kita lakukan pemeriksaan dengan USG Trans vaginal saja untuk melihat rahim hingga ke indung telur."


Menaiki brankar, Adista sendiri harap-harap cemas. USG itu akan seperti apa nantinya. Selain itu, dia tidak berpengalaman sama sekali. Kemudian mulailah, transducer diberikan gell pelumas, dan dimasukkan ke dalam inti sari tubuh Adista.


"Silakan melihat di monitor yah. Nah, ini rahimnya Bu Adista yah. Dokter semalam mengatakan hamil, jadi memang Ibu sekarang sedang hamil. Satu titik, bulatan hitam ini adalah janinnya Ibu. Masih berbentuk embrio. Kita lihat berapa usianya?"


Dokter Rinta kemudian mengukur dengan USG dan memprediksi berapa usia embrio tersebut. "Sudah delapan minggu, Bu Adista. Janinnya baik, tapi Ibunya yang kurang sehat yah. Soalnya tekanan darahnya juga rendah."


Sekarang, Adista dan Raka sama-sama sudah lega karena memang Adista tengah hamil sekarang. Itu artinya Adista dan Raka harus lebih menjaga kehamilannya.


"Frekuensi hubungan suami istri bisa dikurangi dulu yah, Bu. Sampai janinnya lebih kuat dan juga Ibu lebih sehat. Banyak makan yang mengandung zat besi. Kemudian pemeriksaan lagi bulan depan."


Menyelesaikan pemeriksaan, Adista mendapatkan buku yang harus dibawa setiap kali datang pemeriksaan dan juga foto USG janin mereka untuk kali pertama. Adista menerima dengan senyuman, senang kala tahu bahwa dia benar-benar sudah hamil dan usia janinnya sudah delapan minggu. Jika ditarik ke belakang berarti usai Staycation kali kedua ke Lombok, Adista langsung hamil waktu itu.


"Pulang yah?" ajak Raka kemudian.


"Iya, untung saja ini hari Sabtu. Jadi aku tidak merasa bersalah karena hari ini," kata Adista.


"Tidak usah memikirkan pekerjaan. Kamu mulai resign saja. Fokus ke kehamilanmu. Aku juga berpikir untuk menggelar resepsi pernikahan kita," balas Raka.


"Secepat ini?"


"Iya, menunggu apa lagi."


"Tunggu kondisi adikmu stabil, Mas. Tidak mungkin kita berbahagia sementara adikmu sendiri belum stabil," balas Adista.


Raka menghela napas panjang. Masih banyak yang perlu mereka lalui. Raka ingin semua orang tahu statusnya dan Adista. Selain itu, Raka ingin Adista juga fokus saja ke kehamilannya. Urusan pekerjaan bisa ditinggalkan, urusan memberi orang tua, Raka bisa menyanggupinya. Raka ingin Adista tak memberatkan dirinya sendiri, fokus dengan buah hati mereka berdua.