Staycation With Boss

Staycation With Boss
Serasa Staycation



Bukan Raka namanya kalau tidak sepenuh hati dan menggebu-gebu kala bercinta. Selalu saja begitu. Walau begitu, Adista menikmati setiap tindakan Raka. Semua yang dilakukan oleh Raka benar-benar membuat Adista melambung tinggi hingga langit ketujuh.


"Aku terlalu bersemangat enggak, Sayang? Sorry, aku sampai lupa kalau kamu hamil," kata Raka sekarang dengan berguling ke sisi Adista.


Tanpa banyak berbicara, Raka segera membawa Adista ke dalam pelukannya. Raka juga seketika meminta maaf karena lupa jika istrinya itu tengah hamil. Sekarang, Raka sedikit panik kalau hujamannya tadi bisa menyakiti janinnya.


"Aku baik-baik saja kok, Mas," kata Adista dengan memejamkan matanya.


"Baby kita?" tanya Raka lagi.


"Aku rasa dia juga baik-baik saja. Lain kali Papanya jangan terlalu bersemangat yah," kata Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati, Sayang. Sorry."


Usai mengatakan itu, Raka bergerak turun, dia kecup perut istrinya yang sudah menyembul besar itu. "Maafkan Papa yah, Baby. Papa terlalu bersemangat tadi. Baik-baik di perut Mama dulu yah, nanti kalau sudah penuh bulannya, Papa akan sambut kamu dan gendong kamu yah," katanya.


Adista tersenyum. Dia merasa lucu mendengar suaminya melakukan sounding kepada babynya. Walau begitu, ini yang Adista inginkan bahwa Raka sedikit lebih banyak terbuka dan mau berbicara dengan babynya. Sebab, bagaimana pun juga bahwa babynya juga membutuhkan bonding dengan Papanya. Kalau Raka terlalu diam, bayi juga sukar memiliki kedekatan dengan Papanya.


"Nah, sering diajak bicara babynya, Papa. Biar si baby kenal sama Papanya," kata Adista.


"Ya, pasti kenal lah, Sayang. Masak ya enggak kenal sama Papanya sendiri?"


"Kalau Papanya diem-diem aja, baby tidak tahu dong, Pa. Dia mau mendengar suara Papanya juga," balas Adista.


Rupanya usai mengatakan itu terasa gerakan si baby yang cukup kuat di perutnya. Raka bahagia sekali merasa gerakan bayinya.


"Iya yah, diajak bicara Papa, terus nendang-nendang yah?" tanya Raka.


"Itu artinya si baby kangen sama Papanya. Mau terus mendengar suara Papanya," balas Adista.


Raka tertawa. Dia juga baru tahu bahwa sekadar melakukan sounding saja, sekarang bayinya bergerak di sana. Perut Adista seperti terguncang, menandakan gerakan bayinya yang begitu aktif.


"Iya, aku akan banyak berbicara nanti. Pria juga bisa berubah, begitu juga aku," balas Raka.


Jika membandingkan dengan masa lalu, kala Raka masih menjadi Bossnya, Adista mengira bahwa Raka itu arogan dan terlalu jumawa dengan kekuasaannya dan keuangannya. Namun, setelah makin mengenal Raka, Adista serasa kagum dengan Raka. Sebab, suaminya itu selalu menjadi sosok yang hangat untuk keluarganya. Raka seolah memiliki berbagai jurus untuk membuat Adista perlahan membuka hati dan akhirnya mencintai suaminya sendiri. Adista juga sangat yakin bahwa nantinya Raka juga pasti akan menjadi Papa yang baik dan hangat untuk babynya.


"Kamu aktif banget sih, Baby. Kasih tahu Papa dong, kamu cewek atau cowok sih? Apa pun itu, Papa dan Mama kamu selalu sehat-sehat dan sempurna yah," kata Raka.


"Iya, Papa," balas Adista.


Lagi-lagi babynya kembali bergerak. Gerakannya terasa sekali di tangan Raka yang masih mengusap-usap perut Adista. Raka senang sekali, babynya terasa seperti menendang. Kalau begini, Raka semakin penasaran dengan jenis kelamin babynya yang belum kelihatan.


"Kamu mau bersalin normal atau Caesar, Sayang?" tanya Raka.


"Sakit semua yah, Mas? Dari kedua itu yang enggak terlalu sakit yang mana yah?" tanya Adista.


"Ya, nanti waktu konsultasi dengan Dokter, kita tanyakan aja, Sayang. Ambil yang kamu sudah benar-benar yakin saja. Yang pasti, aku akan mendukung selalu," kata Raka.


"Ditemani yah, Mas ...."


Sekarang Adista mengatakan kepada suami untuk menemaninya bersalin nanti. Raka kemudian tersenyum lagi.


"Iya, pasti ditemenin. Nanti kalau sudah menjelang HPL, aku work from home, Sayang. Tenang saja."


Usai mendengarkan apa yang Raka katakan, Adista merasa sangat senang ketika Raka akan work from home nanti. Setidaknya Adista tidak akan kepikiran, ketika merasakan gejala bersalin nanti juga sudah ada suaminya di rumah.


"Beneran, Mas?"


"Iya, nanti aku mulai kerja dari rumah. Mau menemani Bumilku dulu," kata Raka.


"Makasih Papa Raka," balas Adista.


Wanita itu kembali memeluk suaminya. Senang sekali rasanya dengan keputusan yang diambil Satria. Selain itu, pastilah Adista akan lebih tenang ketika di minggu-minggu jelang persalinan sudah ada suaminya yang siap sedia di rumah.