Staycation With Boss

Staycation With Boss
Bertemu Si Dia



Selang beberapa hari kemudian, Adista kembali terlibat dalam event yang digelar di La Plazza Hotel. Kali ini ada pameran perhiasan dari sebuah Jewelry terkenal. Oleh karena itu, di La Plazza Hotel lebih banyak polisi yang berjaga untuk menjaga keamanan.


"Jewelry ini produk dalam atau luar negeri sih, Bu Linda?" tanya Adista kepada Bu Linda.


Nama brand ini tak begitu Adista ketahui. Walau begitu, Adista yakin bahwa semua yang dipamerkan adalah perhiasan yang sangat mahal. Bukan hanya kilau tiap berliannya, tapi juga desain yang sangat berkelas.


"Dari dalam negeri sih, Dista. Tidak pernah mendengar ada produk ini sebelumnya yah?" tanya Bu Linda.


Adista kemudian mengangguk perlahan. "Iya, Bu. Toko perhiasan lokal. saja Adista tidak tahu. Hehehe ...."


Memang begitulah Adista, dia tidak malu dengan masa lalunya. Dari keluarga tidak kaya raya, Adista juga tidak tahu berbagai tokoh perhiasan lokal. Hidupnya juga sangat monoton, dihabiskan hanya untuk bekerja saja. Berbicara tentang pekerjaan, Adista juga akan segera meninggalkan pekerjaannya ini. Usia kandungannya sudah delapan minggu, mungkin hanya sebulan lagi saja Adista akan bertahan bekerja. Sedih? Pasti saja. Akan tetapi, Adista sudah memutuskan untuk taat kepada suaminya. Memilih resign dan fokus dengan kehamilannya terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa, Dista. Tidak tahu nama toko perhiasan tidak masalah kok. Kamu adalah anak orang tuamu yang baik, taat, dan berbakti. Saya doakan hidupmu selalu bahagia. Sekarang kita bersiap-siap yah," kata Bu Linda.


Adista hanya tersenyum mendengar jawaban Bu Linda. Kalau berkata bahagia, sejak bersama Raka hidupnya bahagia. Seolah Raka mengangkat derajat hidupnya. Banyak kebahagiaan yang bisa Adista nikmati sekarang.


Pameran perhiasan pun dimulai, sebenarnya pihak perhotelan tidak banyak terlibat. Cukup menjadi support bagi pemilik perusahaan jika membutuhkan bantuan. Akan tetapi, Adista ditugaskan untuk resepsionis di depan aula menuju galeri. Di sana Adista akan menyambut setiap tamu yang hadir.


"Ada kendala?" tanya Raka yang siang itu menyempatkan turun. Sebenarnya itu hanya alibi Raka untuk bisa melihat wajah istrinya.


"Tidak ada, Mr. Raka. Semuanya berjalan lancar kok," balas Bu Linda.


Raka menganggukkan kepala dan melirik Adista diam-diam. Jujur Raka kasihan melihat istrinya yang harus berdiri dan menerima setiap pengunjung di sana.


"Hanya ada satu resepsionis?" tanya Raka lagi.


"Benar, Mr. Raka ... apakah perlu saya tambah satu lagi?" tanya Bu Linda.


Raka tidak langsung mengiyakan, tapi Raka berpikir Ibu hamil muda dan harus berdiri lama takutnya akan berdampak ke kehamilannya. Setelah itu, barulah Raka mengiyakan.


"Ya, boleh. Tolong tambah satu lagi."


Bu Linda pun segera mencari pegawai yang tidak begitu sibuk dan bisa membantu Adista. Sebab, jumlah pengunjung terbilang juga cukup banyak.


"Capek?" tanya Raka lirih. Sekarang Raka sudah berdiri di depan Adista.


"Tidak, Pak Raka," balas Adista dengan sapaan formal.


Raka tersenyum tipis melihat istrinya itu, kemudian Raka mengangguk perlahan. "Jangan terlalu capek, kamu tidak tertarik dengan perhiasan di sana? Ayo, temani aku dulu melihat-lihat," kata Raka.


"Yang menunggu di sini siapa nanti?" tanya Adista.


Rupanya datang Bu Linda dan staff yang lain, sementara Raka masih santai berdiri di hadapan Adista. Hingga Bu Linda kembali menyapa Raka.


"Tina yang akan membantu di sini, Mr. Raka," kata Bu Linda.


"Bagus, saya pinjam Adista sebentar ada kerjaan untuknya," kata Raka.


"Oh, tentu saja Mr. Raka."


Akhirnya, Adista berjalan di belakang suaminya itu. Mengikuti kemana Raka berjalan. Sesekali Adista juga melirik aneka perhiasan di sana. Bentuk yang indah dan kilaunya.


"Iya, Pak Raka. Indah," jawab Adista.


Berpura-pura formal dan seakan tidak terjadi apa-apa di antara keduanya membuat Raka tersenyum tipis. Hingga akhirnya, ada seseorang yang baru saja tiba. Wanita cantik dengan dress panjang berwarna merah. Dia terlihat begitu memikat.


Sampai akhirnya, wanita cantik berkulit putih itu menyapa Raka. Atensi Adista pun teralihkan di sana.


"Hei, Raka ...."


Wanita itu menyapa dengan suaranya yang begitu lembut. Paras yang cantik dan juga suara yang lembut. Lebih-lebih, wanita itu menyapa Raka. Menjadi bukti bahwa wanita itu mengenal Raka.


Sementara Raka di sana mencoba mengingat lagi siapa dia. Walau Raka juga menoleh ke belakang, melihat Adista yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Siapa?" tanya Raka yang merasa benar-benar lupa.


"Kita satu SMA dulu. Na ... ta ... sha," katanya.


Mendengar nama itu dan melihat sosoknya berhadapan secara langsung di hadapannya membuat Adista ciut nyali. Sebab, Natasha begitu cantik dan penampilannya berkelas. Sedangkan dia sendiri, sekarang hanya mengenakan seragam dari La Plazza Hotel saja. Perbandingan yang sangat kontras.


"Aku Natasha ... kita berteman saat SMA dulu. Ingatkan?" tanya Natasha lagi seraya tersenyum.


"Oh, iya aku ingat. Silakan melihat-lihat," balas Raka.


Usai itu Raka menoleh ke Adista. "Ayo, temani aku," katanya.


Adista mengangguk pelan. Sejauh ini, bicara keduanya juga biasa saja. Apakah itu memang Raka tengah membuktikan bahwa Natasha hanya masa lalu, sementara masa kini dan masa sekarangnya adalah Adista. Entahlah, yang pasti Adista merasa gamang. Juga, ada rasa insecure yang hadir begitu saja.


Baru saja Raka dan Adista mengambil beberapa langkah, Natasha kembali menghentikan Raka. Wanita itu berjalan dan memegang pergelangan tangan Raka.


"Hei, Raka ... kita dulu berteman bukan? Kenapa kamu sedingin ini?" tanya Natasha.


"Hanya teman, tidak dekat apa pun," balas Raka. Tak sampai di sana, Raka meminta Natasha melepaskan tangannya. Raka ingat dengan janjinya kepada Adista, tidak akan membiarkan dirinya disentuh orang sembarangan.


"Ck, kamu selalu dingin, Raka. Bahkan sejak SMA," sahut Natasha.


"Pak Raka, kemungkinan Pak Raka butuh waktu dengan temannya, saya melanjutkan pekerjaan dulu," kata Adista.


"Kamu tetap bersamaku, ada pekerjaan yang jauh lebih penting," balas Raka.


Adista akhirnya hanya mengangguk saja. Walau rasanya tidak nyaman, dan Natasha seolah menahan Raka di sana. Namun, di satu sisi Adista hanya mengikuti perintah Bossnya saja.


"Raka, dulu kita teman SMA. Aku sampai lupa berterima kasih untuk apa yang pernah kamu lakukan dulu. Sekarang, ketika aku sudah bertemu denganmu, aku ingin mengucapkan terima kasih itu. Bertahun-tahun berlalu, akhirnya kita bertemu lagi. Makasih Raka. Lihatlah, sekarang bahkan kamu sangat keren, Mr. Raka Syahputra. Andai dulu yang aku sukai adalah kamu, sayangnya aku ditunangkan dengan Ronald."


Raka tak merespons apa pun, kemudian Natasha tersenyum tipis. Wanita itu tampak menghela napasnya sesaat dan kemudian kembali berbicara.


"Sangat senang kalau lain waktu bisa bertemu denganmu lagi, Raka. Tidak hanya saat SMA, sekarang pun kamu keren."


Raka tak bergeming, merasa Natasha sudah tidak berbicara, Raka justru berbicara kepada Adista. "Ayo, kita lanjutkan pekerjaan kita."


Semua yang terjadi membuat Adista tidak nyaman. Terlebih kala dia mendengar pujian Natasha untuk suaminya. Semua orang juga akan setuju bahwa Raka itu keren. Namun, ketika pujian itu datang dari wanita lain, rasanya membuat Adista tidak suka.