Staycation With Boss

Staycation With Boss
Direndahkan tapi Tidak Gentar



Usai sarapan, Adista dan Raka memilih istirahat bersama. Sebelum nanti siang keduanya akan cek out dan kembali ke apartemen. Mungkin efek kehamilan juga, Adista menjadi lebih senang rebahan sekarang.


"Masih makan rebahan, Yang?" tanya Raka dengan bingung.


"Pinggangnya kenceng aja, Mas. Sebentar. Duh, enak banget kalau kena kasur yang empuk begini," kata Adista.


Raka sampai geleng kepala dengan istrinya. Setidaknya duduk-duduk dulu, tidak langsung rebahan. Akan tetapi, Adista sekarang justru rebahan. Bahkan beberapa kali istrinya itu tampak menguap.


"Perut kenyang kok mata ngantuk yah, Mas," kata Adista yang mulai menguap.


"Kalau mau bobok dulu juga boleh kok. Santai aja, kan di sini kita hanya berdua," balas Raka kemudian.


Adista terkekeh perlahan. Padahal sejak resign semingguan ini, jam tidur Adista juga bertambah. Di siang hari, walau sebentar pastilah Adista bisa tidur siang. Padahal sebelumnya Adista selalu bekerja. Terkesan tidak produktif memang, tapi di apartemen juga tidak banyak kerjaan rumah tangga yang dia kerjakan.


"Enggak deh, mau nemenin Mas aja. Takut suamiku kesepian nanti," balas Adista lagi.


Raka mengulas sedikit senyuman di wajahnya, kemudian dia ikut menaiki ranjang dengan istrinya. "Bawaan hamil atau apa, Yang?" tanya Raka.


"Gak tahu juga sih, Mas. Minggu depan jadwalnya pemeriksaan lagi. Bisa anterin enggak, Mas?"


"Ya pasti bisa. Untukmu apa pun juga bisa," balas Raka.


Mendengar apa yang dikatakan suaminya, Adista tersenyum sendiri. Suaminya kalau sudah percaya diri akan selalu seperti. Kalau dipikir-pikir bahwa Adista dan Raka memiliki karakter yang sangat berbeda. Akan tetapi, ada saja yang membuat keduanya seolah saling melengkapi satu sama lain.


"Karakter kita sebenarnya berbeda banget, Mas. Lalu, nanti anak kita akan mirip siapa coba?" tanya Indi perlahan.


Raka lagi-lagi tersenyum. "Ya, aku 70%, sisanya kamu," jawabnya.


"Berarti dominan kamu dong," balas Adista dengan cepat.


"Ya, kan anakku. Darah dagingku. Gak apa-apa dong kalau dominan mirip aku," jawab Raka lagi.


"Kamu mirip siapa, Mas? Papa Zaid atau Mama Erina?" tanya Adista sekarang.


"Menurutmu?"


Adista yang gemas sekarang jadinya. Dia sampai mencubit perlahan pipi suaminya itu. Setiap kali ditanya justru Raka akan bertanya balik.


"Hm, kalau menurutku sih enggak mirip keduanya. Papa Zaid itu ramah, Mama Erin juga ramah. Kamu dingin, kamu sukar banget tersenyum. Kepribadian kamu lebih introvert," kata Adista.


"Aku introvert di luar, sebenarnya kalau sudah kenal yah ...."


"Bucin?" sahut Adista dengan cepat.


Tidak mengiyakan, tapi Raka tertawa saja. Pria itu mendekap erat Adista. Terserah orang menganggapnya bucin atau sebagainya yang penting Raka sendiri merasa nyaman dengan istrinya. Janjinya akan selalu membahagiakan Adista dan melindungi istrinya itu.


"Kamu enggak, kita pindah ke rumah baru kita?" tanya Raka perlahan.


"Mau, mau saja kok. Kan aku cuma meminta waktu sebulan aja. Sudah sebulan juga kan," balas Adista.


"Aku hanya kepikiran dengan bayi kita nanti. Tumbuh di rumah dengan lingkungan yang asri dan udara segar bagus untuknya. Walau mungkin, kamu akan kehilangan spot terbaik di apartemen kala senja dan melihat lampu ibukota," kata Raka.


Raka senyam-senyum sendiri jadinya. Dia tidak mengira Adista bisa berbicara manis seperti itu.


"Ya sudah, minggu depan kita pindahan yah. Lebih dekat dengan La Plazza Hotel juga. Jadinya aku bisa kerja dari rumah aja. Aku pengennya gak jauh-jauh dari kamu," balas Raka.


"Tuh, Bucin kan," balas Dista lagi.


"Bucin sama istri sendiri kan tidak ada salahnya."


Raka menjawab demikian. Baginya benar-benar tidak salah kalau bucin pada istrinya sendiri. Lagipula memang begitulah Raka, dia lebih banyak bersikap, menunjukkan kepeduliannya, daripada bermulut manis.


Hingga akhirnya, sekarang Adista berkemas. Sudah waktunya untuk cek out. Walau suaminya Direktur Utama, tetap saja Adista memilih segera cek out. Kembali ke apartemen lebih nyaman untuknya.


"Udah, cek out sekarang?" tanya Raka.


"Iya, lebih nyaman di apartemen sih. Bebas. Di sini sungkan sama para staff."


"Padahal yah biasa aja. Namun, kembali ke apartemen jadi ide bagus sih. Yuk," ajak Raka kemudian.


Sang Boss sekarang yang sudah berani go publik juga tak segan untuk menggandeng tangan istrinya itu. Lagi, Adista tampak malu, tapi Raka terlihat santai dan biasa saja. Bahkan ketika bersitatap dengan staff, disapa pun Raka juga terlihat santai. Layaknya pengunjung hotel yang lainnya, Raka menuju ke resepsionis terlebih dahulu.


"Tunggu sini, Sayang. Aku cek out dulu," kata Raka.


Akhirnya, Raka menyerahkan akses kamar ke resepsionis terlebih dahulu. Untuk pembayaran rupanya sudah dibayar Papa Zaid kemarin. Walau pemilik, bisnis tetaplah bisnis, supaya operasional hotel tetap berjalan.


Usai cek out, Raka kembali menggandeng tangan Adista, keduanya berjalan bersama ke parkiran yang ada di basement. Akan tetapi di sana keduanya bertemu dengan Natasha lagi. Wanita cantik itu tampak memandang rendah Adista.


"Ka," sapa Natasha seolah menghentikan langkah kaki Raka.


"Ada apa lagi, Nat?" tanya Raka.


Wanita itu tertawa dengan sorot mata yang mengejek. "Ka, aku baru tahu. Selera kamu begitu rendah. Kamu menikahi Upik Abu," kata Natasha dengan melirik Adista.


Upik Abu adalah nama Cinderella. Nama julukan yang diberikan ibu tiri dan saudari tirinya. Sekarang, Natasha menyebut Adista juga dengan nama Upik Abu.


Raka tentu saja merasa telinganya panas mendengarnya. Dia sangat kesal, telinganya memerah karenanya. Ingin membalas, tapi Adista menahan lengan suaminya.


"Mbak Natasha, kalau bicara suka benar yah. Sayangnya, aku gak terpengaruh. Ingat Mbak, dalam dongeng Cinderella, siapa yang akhirnya hidup bahagia bersama pangeran? Upik Abu itu sendiri, Cinderella. Bukan dengan kecantikan yang semu, atau karakter yang buruk. Pangeran bisa melihat ketulusan dan cinta di mata si Upik Abu itu. Memang aku dan Mas Raka berbeda, tapi Cinta bisa menjembatani perbedaan itu," balas Adista.


Natasha kesal jadinya. Dia berusaha merendahkan Adista. Mengira si Upik Abu itu akan merasa rendah diri, tapi rupanya tidak. Adista justru bisa membalas dengan panjang lebar.


"Benar, Nat. Pangeran pun bisa jatuh cinta kepada gadis sederhana. Sebaiknya jangan mengusikku atau istriku, Nat," kata Raka sekarang.


Usai itu, Raka menatap Adista perlahan. "Sayang, kita pulang. Biarkan saja. Orang yang hatinya dipenuhi kedengkian hanya mencari-cari kekurangan orang lain."


"Baik, Mas ... kita pulang."


Adista terlihat tak gentar sama sekali. Memang dirinya dari keluarga tak berada, berbeda strata sosial dengan Raka. Akan tetapi, sebagaimana dongeng Cinderella, Pangeran nyatanya jatuh hati kepada gadis sederhana dan hidup bahagia selamanya.