Staycation With Boss

Staycation With Boss
Memilih Percaya



"Cium aku," pinta Raka sekarang.


Adista menatap wajah suaminya yang sekarang benar-benar berada tepat di hadapannya itu. Yang Adista takutkan adalah dia akan kebablasan dan tidak bisa menahan diri jika memberikan ciuman untuk Raka. Takut, jika bukan sekadar berciuman, tapi bisa berakhir di ranjang.


Wajah Raka kian mendekat, seakan memangkas jarak yang sebenarnya hanya beberapa inci itu. Tatapan mata Raka juga hanya fokus dengan Adista, pria itu benar-benar memaku Adista dengan sorotan mata yang dalam. Sedikit saja tindakan Raka, sudah pasti bisa melahap habis bibir Adista.


"Mas Raka bisa membuktikan tidak akan goyah?" tanya Adista.


"Ya, bisa."


"Mas Raka bisa menolak kalau dia berusaha mendekati Mas Raka?"


"Bisa."


"Kalau dia ganjen, Mas Raka tidak akan terpikat?"


Raka sekarang menganggukkan kepalanya. "Ya, bisa."


Semua pertanyaan yang terlintas di kepalanya sudah Adista tanyakan dan sudah mendapatkan jawaban dari Raka. Adista meyakinkan hatinya sendiri semoga saja suaminya benar-benar membuktikan ucapannya. Lagipula, pernikahan adalah pembuktian seumur hidup. Memilih percaya dan juga berharap bahwa Raka tidak akan goyah nantinya.


Tangan Adista kini membelai perlahan dada suaminya. Gerakannya begitu samar, tapi gerakan yang samar itu sukses membuat Raka menunggu dalam harap, apa yang hendak dilakukan oleh istrinya. Merayap dari dada, hingga tangan itu meraih bagian kemeja Raka di tulang belikat, Adista memajukan wajahnya sesaat. Hingga akhirnya, dia mendaratkan bibirnya di bibir suaminya. Hanya sekadar menempel satu sama lain.


Raka tersenyum tipis di sana, mata yang semula masih terbuka, perlahan-lahan terpejam. Kala tidak ada lagi cahaya yang dia lihat, sangat mendebarkan rupanya Adista membuka sedikit bibirnya, menjulurkan lidahnya, dan mengusap perlahan permukaan bibir yang kenyal dan hangat itu. Tidak sampai di sana, Adista memberanikan dirinya sendiri untuk memagut bibir suaminya. Jika itu adalah bukti menuntut, Adista ingin menuntut. Jika itu adalah bukti cemburu, ya Adista cemburu, dia tidak ingin ada Natasha bahkan orang lain yang hadir dalam kehidupan rumah tangganya.


Sementara Raka senang bukan kepalang. Sebelumnya mana pernah, Adista menciumnya terlebih dahulu. Raka berusaha menahan diri, walau demikian satu tangannya menjamah perlahan sisi pinggang Adista naik ke atas, mengusap perlahan, dan kembali turun ke bawah. Beberapa kali, Raka juga merasakan derau napas Adista yang begitu berat, tapi terlihat dengan sangat wanita itu tidak ingin berhenti.


Satu menit berlalu, tapi dua bibir masih sama-sama menyapa. Mengulum lembut, mengusap basah, menggoda dalam kesan basah. Raka berusaha mengimbangi istrinya, hingga akhirnya Raka merasa sekarang gilirannya untuk mengambil alih kendali. Tangannya mulai merayap dan membelai area paha milik istrinya, ciuman yang Raka berikan juga lebih menuntut, lebih menggebu, dan juga sekarang pria itu sangat bergairah. Sudah beberapa pekan berlalu, dan tidak terjadi hubungan yang hangat dengan istrinya sendiri. Sekarang, Raka berubah laksana kayu bakar yang dimakan api, tersulut dan benar-benar membara.


Belaian tangan Raka kian menjadi-jadi. Desau napas Adista pun kian terdengar berat. Wanita itu terombang-ambing dengan rasa penuh gelenyar yang menyulut dirinya. Hingga di luar batas kendalinya, tangan Adista membuka perlahan kancing demi kancing di kemeja yang dikenakan suaminya. Entah berapa kancing terlepas, tangan Adista kini menyusuri dada bidang suaminya, mengusapnya perlahan dalam gerakan samar dengan ujung jari-jarinya saja.


"Sa ... yang."


Suara Raka memberat, kini pria sedikit menunduk dan menyapa garis leher istrinya. Mendaratkan kecupan demi kecupan, usapan dengan lidah, bahkan Raka sekarang benar-benar membuka mulutnya, menggigit, dan menghisap dalam-dalam permukaan kulit di sana. Rasanya perih, hingga membuat Adista mendesis.


"Sshhs, Mas Raka."


"Ya, Sayang."


Dalam terengah-engah pun Raka masih menjawab. Lantas Raka membuka kancing demi kancing di seragam yang Adista kenakan, sehingga membuat Raka bisa mengeksplorasi hingga tulang selangka dan tulang belikatnya. Seluruh kancing terlepas, Raka tapi tidak melepaskan kemeja itu, dia hanya membuka di satu bahu, bahkan menurunkan tali berwarna putih yang menggantung di bahu itu. Lagi, Raka menggigit di sana, dan menyesapkan dalam-dalam. Warna merah kembali dia buat di sana. Adista memejamkan mata dengan mengusap perlahan helai rambut suaminya. Selalu saja suaminya itu memiliki cara-cara yang membuatnya kehilangan akal. Selalu saja Raka memiliki step by step yang membuat Adista benar-benar kehilangan dirinya sendiri.


Hingga Adista melepaskan begitu saja kemeja yang dikenakan suaminya, membuat Raka shirtless di hadapannya. Jika semula hanya sekadar membelai dengan gerakan samar dari ujung jarinya, sekarang Adista mengecup dada suaminya. Kecupan yang dijatuhkan Adista membuat Raka mengeraskan rahangnya dan mengusap rambut Adista perlahan.


"Oh, Sayang ... hh!"


Hingga akhirnya, sekarang mengangkat pinggul Adista, menggendong istrinya itu layaknya koala dan tempat yang Raka tuju tentu adalah ranjangnya. Dia menempatkan Adista di ranjang, dan Raka mengungkung istrinya itu, besi-besi pengait di balik punggung dia lepaskan, hingga terlihat dua bulatan indah di sana.


Tak segan, Raka meraup satu bulatan indah itu dan memasukkannya dalam rongga mulutnya. Hisapan berganti hisapan, mencumbu, dan bahkan Raka menggigit puncaknya. Adista terengah-engah, ada kalanya dia meracau tak berdaya. Refleks, Adista membawa tangan Raka ke area bulatan indah miliknya yang lain. Raka tahu apa yang diinginkan Adista, mulailah tangan itu mengusap, memberikan remasan, bahkan memilin puncaknya. Hanya sebentar saja, puncak-puncak di sana menegang.


Bermain-main dengan bulatan indah itu tidak akan cukup untuk Raka, karena itu dia kembali menginvansi lebih turun. Membuang asal sisa-sisa busana keduanya, dia usap perlahan lembah di sana dengan jarinya.


"Sudah basah, Sayang. Aku tahu itu."


Suara parau Raka kembali terdengar, Adista malu sebenarnya. Akan tetapi, memang inilah respons alamiah tubuhnya setiap kali suaminya itu menyentuhnya. Raka kembali menunduk turun. Dia sapa lembah di sana dengan bibir dan lidahnya, mengusap dalam gerakan dan meninggalkan kesan basah. Racauan Adista dan tubuh yang meliuk justru membuat istrinya itu kian menggoda saja di matanya.


Entah beberapa saat waktu berlalu, tubuh Adista mengejang. Mata terpejam rapat, dan Adista merasakan pelepasan yang sangat indah dengan menyebut nama suaminya.


"Mas ... Ra ... ka!"


Raka tersenyum puas, dia kemudian mendekat ke istrinya. "Basahi saja sedikit, Sayang."


Sudah jelas apa yang diinginkan Raka sekarang, Adista pun menyapa dan membasahi sang pusaka itu hanya sesaat. Lantas Raka kembali mengambil posisi, merapatkan diri, membiarkan sang pusaka menghunus dalam. Akan tetapi, Raka tak menghentak. Pria itu masih ingat dan sadar betul bahwa ada buah hati di rahim istrinya.


Gerakan seduktif yang Raka lakukan benar-benar lembut. Tidak hanya hujaman di sana. Akan tetapi, Raka merasakan kehangatan melingkupi pusakanya. Disambut layaknya pijatan yang erat dan hangat. Begitu saja Raka sudah menggeram. Peluh bercucuran. Sungguh, ini adalah momen yang indah untuk Raka.


Pria itu seolah berkonsentrasi penuh melakukan gerakan maju dan mundur. Gerakannya begitu padu dan terukur. Hingga Adista kembali meledak dan merengek.


"I Love U, Sayang. Istriku."


Raka mengatakan itu, dia lebih menunduk dan mencium bibir istrinya tanpa mengurangi gerakan pinggulnya yang benar-benar terukur. Melesak masuk, meluncur tanpa mendesak. Sungguh indah rasanya.


"I Love U too, Mas Raka. Aku cinta kamu!"


Adista membalas, dia tidak menutupi perasaannya. Inilah pengakuan bahwa dia percaya penuh kepada suaminya. Raka menganggukkan kepalanya, dia kecup kening Adista untuk beberapa saat lamanya.


"Selalu percayai aku yah?" pinta Raka.


"Aku akan berusaha," balas Adista.


Adista sekarang di tengah-tengah badai salju yang menerpanya justru buliran bening air mata kembali membasahi pipinya. Dia sangat mencintai suaminya, hingga tidak suka dan merasa cemburu ketika melihat Natasha.


"Aku akan menjaga hatiku untuk kamu. Promise!"


Raka membalas dan dia sekarang menghujam begitu dalam. Maju dan mundur, keluar dan masuk dalam tenaga yang benar-benar terukur. Hingga Raka merasa kian terjerembab ke dalam jurang. Dia merasa ambang batasnya tiba. Tidak ada yang Raka tahan, seluruh bagian cair dari dirinya memenuhi Adista. Itu adalah sapaan hangat dan begitu erat.


Bukan sekadar melampiaskan hasrat, tapi Raka setelahnya akan berusaha untuk memberikan bukti. Tidak akan goyah hatinya karena wanita mana pun. Sebab, hanya Adista yang memenuhi hati, pikiran, dan hidupnya.