
Meninggalkan depan kamar kakaknya dengan langkah gontai. Sekarang, Rayyan akhirnya memilih turun ke bawah. Pemuda yang tengah galau dan patah hati ini memilih untuk duduk di taman seorang diri. Rayyan hanya yakin bahwa Kakaknya dan Dista tengah bercerita sekarang.
Sementara, Raka kembali menutup dan mengunci pintunya. Sekarang, Raka menyadari bahwa rumah ini menjadi tempat tak nyaman karena Rayyan bisa mendekati Adista. Selain itu, ketika keduanya sama-sama berada di rumah, ketiganya akan kembali menempati posisi yang sulit.
"Siapa Pak?" tanya Adista kepada suaminya.
"Rayyan," jawabnya.
Jujur, melihat Adista dengan tanda merah di lehernya membuat Raka ingin lagi meneruskan. Akan tetapi, tidak elok rasanya memaksakan semua. Terlebih ketika istrinya sendiri saja belum siap.
"Kamu ingin aku melanjutkan?" tanya Raka hanya sekadar basa-basi.
Adista dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak," jawabnya singkat dan cepat.
"Oh, ku kira ... kamu mengharapkannya. Lagipula aku tidak menolak. Walau bukan malam pertama, malam kedua dan selanjutnya akan sama menggeloranya," balas Raka.
Mendengar apa yang Raka sampaikan membuat Adista dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia masih belum siap, masih takut, dan juga kalau boleh jujur belum bisa menerima Raka. Biarkanlah seperti ini saja.
"Apa satu malam di Lombok dulu menggelora?" tanya Adista.
"Yah, tentu saja. Kamu tidak percaya?"
"Aku tidak tahu. Mungkin waktu itu aku terpengaruh wine. Sehingga, aku tidak mengingatnya. Andai saja, aku tidak minum malam itu," balas Adista.
Rasanya meminum Wine masih menjadi sesuatu yang Adista sesalkan. Dia tahu mungkin bukan 100% kesalahan Bossnya. Adista tahu efek dari wine yang membuatnya menjadi tak sadarkan diri hingga cinta satu malam itu terjadi, tanpa bisa dihindari.
"Sudah terjadi, Dista. Tidak bisa diputar kembali," balas Raka.
"Iya, hanya menyisakan hubungan yang rumit ini," balas Adista.
Raka terdiam. Pria itu kemudian mengajak Adista untuk menaiki ranjang. Masih sama dengan semalam di Lembang, kali ini Raka menaruh kembali guling di antara keduanya.
"Tidak usah banyak pikiran. Tidurlah," kata Raka.
"Pak Raka tidak merasa bersalah membuat semua jejak merah ini?" tanya Adista.
"Kenapa bersalah, aku bisa melakukan lebih, Dista. Aku hanya sedang menahan diri. Aku tidak berdosa. Justru seorang istri yang berdosa ketika abai kepada suaminya," balas Raka.
Seketika Adista menjadi tertunduk. Dia sadar diri bahwa dia sudah menjadi istri yang berdosa. Dia tidak menjalankan kewajibannya kepada suaminya. Adista menyadari hal itu.
"Maaf, Pak ...."
Adista hanya bisa meminta maaf. Entah sampai kapan dia akan memeluk dosa ini. Akan tetapi, memaksakan diri juga tidak bisa Adista lakukan.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Sekarang, tidurlah. Aku besok akan bekerja. Malam," kata Raka.
Adista masih bersandar di head board. Rasanya Adista tidak bisa tidur. Terlebih usai mendengar ucapan suaminya, membuat Adista tidak enak hati dan benar-benar merasa berdosa jadinya. Sekilas, dia melirik Raka yang sudah memunggunginya. Bukan maunya juga terjerat dalam hubungan ini. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjur.
...🍀🍀🍀...
Pagi Harinya ....
Walau menghabiskan malam dalam satu ranjang yang sama, tapi Adista dan Raka masih beradu punggung satu sama lain. Keduanya benar-benar tidak melewati batas yang sudah dibuat Raka. Ketika surya menyapa di pagi hari, Adista dan Raka sama-sama terbangun.
"Pagi, Pak," balas Dista.
"Tidak usah turun ke dapur dan menyiapkan makan. Ada Bibi Tini yang menyiapkan sarapan. Kamu mandi saja, keramas kalau bisa," kata Raka.
"Sepagi ini keramas Pak?" tanya Adista dengan bingung.
"Yah."
Kali ini Adista memilih menuruti permintaan suaminya. Dia bergegas menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan keramas. Walau Dista juga belum tahu kenapa harus keramas sepagi ini.
Usai mandi, Adista memilih menunggu di dalam kamar. Dia sungkan sebenarnya. Seharusnya dia menjadi menantu yang mau turun ke dapur dan membantu menyiapkan sarapan. Akan tetapi, suaminya tidak memperbolehkannya.
Selesai Raka sudah siap untuk bekerja, barulah keduanya turun ke meja makan bersama-sama. Indi belum menyanggul rambutnya karena rambutnya masih setengah basah. Indi sangat sungkan karena keluarga mertuanya sudah berada di meja makan terlebih dahulu. Termasuk Rayyan pastinya.
"Pagi," sapa Raka dan Adista bersamaan.
"Pagi. Wah, pengantin baru, pagi-pagi rambutnya sudah basah aja," celetuk Mama Erina.
Adista menundukkan wajahnya lantaran malu. Itu juga karena dia belum mengerti apa yang dimaksud Mama mertuanya itu. Terlebih ada sorot mata yang menatap Dista dengan tajam. Ya, Rayyan yang menatap Dista sekarang. Bahkan sekarang Rayyan bisa melihat tanda merah di leher Dista yang masih dianggap Rayyan sebagai Tatanya.
"Emang ada serangga di kamarnya Kak Raka yah, Mbak Dista?" tanya Raline dengan begitu polosnya.
"Hmm, serangga apa, Raline?" tanya Adista bingung.
Mama Erina dan Papa Zaid tersenyum. Tidak hanya Raline, Adista pun ternyata juga begitu polos. Sementara, Mama Erina dan Papa Zaid dalam tawanya mengelus dada, tidak menyangka putranya akan begitu buas.
"Leher kamu, Sayang," kata Mama Erina setengah berbisik.
Adista sekarang baru tahu apa yang dimaksud oleh Raline. Dia buru-buru menutupinya dengan helai demi helai rambutnya walau tetap terlihat merah di sana.
"Nanti Mama bantu menutupinya. Pasti ulahnya Raka," kata Mama Erina.
"Pengantin baru, Ma," sahut Raline sekarang.
Sementara Rayyan hanya menunduk. Dia kecewa saja dengan Kak Raka dan Dista. Akan tetapi, Rayyan tidak bisa mengatakan apa pun. Pemuda itu memilih cuek walau di dalam hati sangat kecewa.
Seharusnya dia yang memiliki Adista lagi, tapi bagaimana lagi sudah ada kakaknya yang mempersunting Adista. Membuat Rayyan serba sulit dan rumit. Bukan salah hatinya, tapi kalau dia menunjukkan cemburu berlebihan sudah pasti itu juga akan menjadi kesalahan.
"Raka, lain kali hati-hati. Kasihan Adista," kata Mama Erina.
"Iya, Ma," balas Raka singkat.
Setelah itu, Mama Erina menatap Rayyan yang sudah menghabiskan sarapannya. "Ray, kenapa kamu cepat sekali sarapannya? Mau tambah lagi?" tawar Mama Erina.
"Oh, tidak, Ma. Rayyan buru-buru soalnya. Hari ini mau bertemu temen SMA," balasnya.
"Oh, oke ... hati-hati, Ray. Mumpung masih berada di Jakarta," balas Mama Erina.
Rayyan menggangguk samar. "Iya, Ma. Sebelum kembali lagi ke London nanti."
Rayyan memilih menyembunyikan perasaannya. Biarkan saja keluarganya tidak mengetahui sakitnya dia sekarang. Andai Rayyan bisa, dia akan melepaskan Adista untuk Kakaknya. Namun, semuanya itu sulit. Rayyan masih belum bisa melepaskan Adista. Perasaan itu masih dia genggam. Rayyan hanya bisa berusaha menghindar dan menekan kekecewaan di dalam hatinya sendiri.