
"Selamat Pak Raka dan Bu Adista sudah dikaruniai baby yang cantik," kata Dokter Rinta.
Ya, Dokter Rinta sedikit mengangkat dan menunjukkan wajah bayi itu untuk kali pertama kepada Adista dan Raka. Hal yang membuat Adista menangis terisak-isak. Selama hamil, Adista hanya bisa melihat wajah bayinya dari USG 4D yang pernah dia lakukan. Sekarang melihatnya secara langsung dan mendengar tangisannya membuat Adista benar-benar terharu.
Begitu juga dengan Raka. Pria yang setiap hari diam dan irit bicara itu, kini menitikkan air matanya dan wajahnya memerah. Pertemuan pertama dengan bayinya seolah menggetarkan hati Raka.
"Our baby," kata Raka.
"Selamat yah ... Baby Girl, dan alhamdulillah sehat," kata Dokter Rinta.
"Alhamdulillah," balas Adista.
Bayi kecil itu kemudian dibersihkan dari sisa air ketuban yang membuat badannya basah, kemudian mulai ditengkurapkan di dada Adista. Inilah yang dimaksud dengan Inisiasi Menyusui Dini. Raka benar-benar bahagia sekarang. Bayi kecil ini adalah buah cintanya dengan Adista.
"Kita mulai melakukan IMD untuk satu jam ke depan yah, Bu Adista. Biarnya Adek bayi bergerak dan mendapatkan sumber ASI sendiri yah," kata Dokter Rinta.
Di dada Adista, skin to skin terjadi untuk kali pertama. Adista bisa merasakan halusnya kulit bayinya, tangisannya yang kencang, atau beberapa air liur si bayi yang jatuh di dadanya. Sementara Raka mengamati wajah cantik putrinya dengan rambutnya yang legam.
"Baik, Dokter," balas Adista dengan sesenggukan karena menangis.
"Baby kita," kata Raka lirih.
Adista menganggukkan kepalanya. "Benar, Mas. Baby kita berdua."
"Sudah ada namanya Pak Raka dan Bu Adista?" tanya Dokter Rinta.
Adista kemudian melirik ke suaminya. Kira-kira nama apa yang disematkan suaminya kepada putri kecilnya itu.
"Kamu sudah sediakan namanya, Mas?"
"Aku yang memberikan nama?" tanya Raka.
"Iya, nama yang indah dan menyematkan doa tentunya," balas Adista.
Raka tersenyum walau masih ada air mata yang membasahi wajahnya. "Qiana Dira Syahputri," kata Raka.
Adista tersenyum mendengarkan nama yang Raka pilih untuk putri kecilnya itu. Walau demikian ada hal yang bisa Adista tebak.
"Dira? Dista dan Raka?" tanya Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, akronim nama kita berdua. Dira, Dista dan Raka. Sebab, dia adalah buah cinta kita berdua, Sayang. Setuju enggak dengan namanya?"
"Qiana artinya apa Mas?" tanya Adista.
"Qiana artinya cantik dan menawan. Selebihnya karena dia adalah putri kita berdua, itu saja," balas Raka.
"Oke, boleh. Namanya Qiana. Indah kok. Seindah wajahnya. Aku jatuh cinta kepadanya," kata Adista.
Raka kemudian menyentuhkan jari telunjuknya ke dalam genggaman tangan kecil Baby Qiana. Rupanya ada refleks yang Baby Qiana tunjukkan dan membuat Raka bahagia, yaitu ketika Qiana menyambut dan menggenggam jari telunjuknya.
"Hei, Qiana ... ini Papa, Sayang."
Raka kemudian menyeka jejak-jejak air mata di wajah Adista, lantas Raka menunduk dan mengecup kening istrinya itu. "Terima kasih sudah berjuang. Sejak mengandung Qiana hingga saat ini, perjuangan berat dan lebih dari apa pun untuk melahirkan putri kecil kita. I Love U!"
Kala Raka mengatakan itu. Dokter Rinta dan perawat yang turut mendengarkan tersenyum. Sebab, itu adalah kata-kata yang indah dari seorang suami kepada istrinya. Menghargai sebuah proses ketika istrinya mengandung sembilan bulan lamanya hingga akhirnya istrinya bersalin.
"Sweet yah Pak Raka. Diam-diam, sweet ternyata," kata Dokter Rinta.
Adista tersenyum mendengarnya. Suaminya memang begitu, diam-diam sebenarnya Raka adalah sosok yang sweet. Walau settingan pabrik pria itu diam dan irit berbicara.
"Iya, Dokter." Adista membalas.
Raka kemudian mengamati proses belajar kali pertama putri kecilnya yang kini sudah berhasil mendapatkan sumber ASI sebagai makanan pertamanya ketika dia dilahirkan di dunia. Raka kemudian tersenyum lagi, dia mengamati bahwa bayi yang baru saja dilahirkan pun belajar. Ya, Baby Qiana belajar untuk mendapatkan makanan pertamanya yaitu ASI.
"Baby girl-nya Papa Raka pinter yah. Sehat selalu, Qiana," kata Raka.
Adista tersenyum. Sembari merasa geli ketika mulut kecil babynya berusaha menghisap untuk memperoleh ASI. "Pinter yah, Pa ... minum ASI-nya."
"Mau menghisap ASI-nya enggak, Bu Adista?" tanya Dokter Rinta.
"Ya, mau kok, Dokter. Geli rasanya," balas Adista.
"Tidak apa-apa, Bu Adista. Nanti lama-lama juga akan terbiasa."
Kalau IMD dilangsungkan, bagian bawah Adista sedang dibersihkan dan kembali dijahit. Namun, Adista sekarang sudah merasa tidak sakit lagi sejak melihat wajah cantik Qiana, semua rasa sakit seolah hilang. Yang ada adalah rasa syukur dan bahagia karena melihat putrinya telah lahir.
"Sudah saya jahit yah, Bu Adista. Benangnya juga menggunakan gelatin sehingga nanti akan membuat jaringan kulit yang baru. Pasti akan segera sembuh, Bu Adista."
"Aamiin Dokter," balas Adista.
Setelah itu, Baby Qiana diambil perawat dan kemudian akan dimasukkan ke dalam ruangan inkubator terlebih dahulu. Si Baby akan diobservasi kurang lebih enam jam setelah dia dilahirkan. Selain itu, Baby Qiana juga mendapatkan suntikan Vitamin K dan imunisasi pertamanya.
Sedangkan Adista didorong kembali ke kamar perawatannya. Walau begitu Dokter Rinta berpesan supaya Adista tidak tidur dulu. Setidaknya untuk satu jam ke depan.
"Babynya diobservasi dulu, Bu Adista juga boleh makan dan minum karena melahirkan secara normal tidak ada pantangan untuk makan dan minum. Semuanya boleh dimakan dan minum," kata Dokter Rinta lagi.
Di dalam kamar perawatan, Raka menemani istrinya itu. Berusaha membuat Adista tidak mengantuk dan tertidur.
"Happy saat bertemu Qiana?" tanya Raka.
"Happy ... banget. Qiana lebih mirip Papanya," balas Adista.
Raka tertawa kecil, dia merasa senang ketika Adista menilai bahwa Qiana lebih mirip dengannya. Walau Raka merasa ada beberapa fitur di wajah putrinya yang juga mirip Adista.
"Masak sih? Ada yang mirip kamu juga kok, Yang. Oh, rupanya ngidam sprei bunga-bunga berarti karena babynya cewek. Malu-malu enggak mau menunjukkan jenis kelaminnya kepada Papa dan Mamanya," balas Raka.
"Oh, iya yah ... aku baru sadar. Berarti memang ngidam sprei bunga-bunga karena Qiana yah. Request-nya baby girl," balas Adista.
"Iya, Baby Girl-nya Papa Raka."
Raka tampak begitu bahagia. Memiliki bayi perempuan seperti yang dia harapkan sejak istrinya hamil. Raka ingin bayinya bisa dekat, hangat, dan manja dengannya.