Staycation With Boss

Staycation With Boss
Semua Karena Rayyan



Selang dua pekan kemudian sebenarnya, Raka merencanakan untuk mengajak Adista pindah ke rumah barunya. Sebab, bagian furnitur rumah juga sudah semuanya diselesaikan dan ditempatkan sesuai dengan konsep desain yang diinginkan Raka. Akan tetapi, Raka harus membatalkannya karena ada urusan yang lebih mendesak.


Lantaran urusan itu sangat mendesak, Raka juga harus meninggalkan Jakarta terlebih dahulu. Untuk berapa lama, Raka tidak tahu karena dalam pertimbangan Raka, urusan ini jauh lebih penting.


"Sayang, aku sebenarnya ingin mengajakmu pindah ke rumah baru kita. Akan tetapi, aku lusa harus ke luar negeri," kata Raka sekarang.


Adista yang duduk di samping suaminya seketika merasa sedih. Jika hendak ke luar negeri, kenapa Raka baru berkata sekarang? Sebelumnya Raka tidak berbicara apa pun terkait ke luar negeri.


"Kok mendadak banget, Mas? Urusan bisnis?" tanya Adista. Sebagai seorang pekerja juga, Adista berpikir bahwa suaminya itu mungkin ke luar negeri untuk urusan bisnis.


"Bukan untuk bisnis. Ada kepentingan yang lain kok," balas Raka.


Raka belum bisa mengatakan yang sebenarnya kenapa dia harus ke luar negeri. Hatinya bimbang lagi. Sebab, jika memberitahukan kebenarannya mungkin saja Adista akan kepikiran nantinya.


"Kepentingan apa? Kok Mas Raka kelihatan gelisah seperti ini?" tanya Adista lagi.


Raka menunduk. Beberapa kali dia juga menghela napas. Tidak berbicara jujur rasanya juga sukar, tapi kalau jujur dia takut bahwa nantinya Adista akan berubah. Padahal, bisa dikatakan sekarang barulah puncak perasaan Adista untuknya. Namun, bagaimana lagi jika semesta berkata yang lain.


"Ada sesuatu yang terjadi, Sayang ... aku juga bingung harus berbicara denganmu bagaimana," jawab Raka.


Di tengah kebimbangan suaminya, ada usapan yang lembut di lengan Raka. Ya, Adista mengusapi lengan suaminya itu. Selain itu, Adista berharap bahwa Raka bisa bercerita dengannya. Walau begitu, Adista juga tidak ingin memaksa. Bagaimana pun mungkin Raka memiliki pertimbangan tersendiri.


"Kalau Mas mau, cerita ke aku ... daripada aku menerka-nerka sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, masak juga Mas membiarkanku menunggu di Jakarta tanpa tahu alasan apa yang membuat Mas Raka harus ke luar negeri," kata Adista.


Adista hanya berusaha untuk mengatakan apa yang hatinya mau. Kalau menunggu Raka dan dia tahu kepentingan apa yang membuat suaminya harus ke luar negeri, Adista bisa menunggu walau sebenarnya Adista juga tidak ingin berpisah dengan suaminya.


"Semua karena Rayyan, Sayang."


Ketika nama Rayyan disebut, Adista terdiam. Ada apakah gerangan dengan Rayyan, sampai Raka harus ke luar negeri? Itu berarti negara yang dituju Raka adalah Inggris?


"Rayyan kecelakaan. Raline yang mengurusnya sekarang. Namun, kondisinya semakin buruk. Jadi, aku, Papa, dan Mama akan ke London. Sementara, kamu tinggallah di Jakarta dulu yah. Kita akan saling memberi kabar. Selama aku pergi, jaga hatimu, jaga dirimu untukku," kata Raka.


Tidak bisa lagi berkata-kata, Raka memilih untuk memeluk istrinya itu. Pilihan yang sulit untuk Raka. Meninggalkan Adista sendiri tidak mudah. Akan tetapi, dia juga khawatir dengan keadaan Adiknya. Oleh karena itu, Raka memilih ke London menemani Mama dan Papanya.


"Mas akan pergi berapa lama?" tanya Adista.


"Entahlah, Sayang. Mungkin bisa seminggu atau dua minggu," balas Raka.


Namun, merasakan air mata Adista, Raka berpendapat hal lain. Sehingga Raka menanyai istrinya.


"Kamu menangis karena Rayyan?" tanya Raka.


Raka mengira air mata Adista itu adalah untuk adiknya. Mungkin saja masih tersisa perasaan di hati Adista untuk adiknya Rayyan. Untuk itulah, Raka menanyakan hal itu.


Adista menggelengkan kepalanya. Dia tidak menangis untuk Rayyan. Dia menangis karena suaminya.


"Bukan karena Ray, Mas. Aku sedih pisah sama kamu. Kamu tidak percaya kalau semua perasaan untuk Ray sudah tidak ada di hatiku?" tanya Adista.


Raka menghela napas panjang. Sekarang barulah dia tahu air mata istrinya adalah untuk dia. Semula, Raka mengira bahwa air mata itu adalah untuk adiknya. Mengetahui bahwa Adista menangis untuknya, Raka kian mengeratkan pelukannya. Raka merasa tidak enak hati mana kala masih menganggap bahwa Adista masih memiliki perasaan untuk Rayyan.


"Maaf ... kupikir kamu menangis karena Rayyan. Kamu tidak memiliki perasaan lagi tentangnya kan?"


"Tidak. Mas Raka yang memintaku membereskan perasaanku. Jadi, aku tidak lagi memiliki perasaan untuk Ray. Aku benar-benar mencintai Mas Raka. Bagaimana kalau Mas Raka pergi begitu lama? Apakah aku bisa menahan rindu. sendirian di sini?"


Sekarang Adista benar-benar menangis. Suaranya bercampur dengan isakan. Adista tidak menutupi lagi perasaannya. Belum juga suaminya pergi, tapi Dista sudah menangis dan merasa tidak bisakah menahan rindu kepada suaminya itu.


"Maaf ... tetap tunggu aku pulang yah. Entah itu seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan. Yang pasti aku akan kembali ke kepadamu. Begitu Rayyan membaik, aku akan pulang ke Jakarta," balas Raka.


"Aku akan menunggu Mas Raka pulang ke Jakarta," balas Adista.


"Terima kasih untuk pengertiannya, Sayang. Walau jauh, kita masih bisa berkomunikasi dengan handphone kita. Bukan maksudku meninggalkanmu, tapi kamu bekerja juga. Aku memikirkan kembali bahwa mengajakmu bersama ke London akan membuat banyak karyawan bertanya-tanya. Selain itu, kamu masih ingin bekerja kan? Jadi, bekerjalah. Terlibatlah di semua event yang digelar di La Plazza. Nanti aku akan kembali lagi kepadamu."


Memang ada pertimbangan sendiri untuk Raka. Adista juga memahami keputusan suaminya. Berpisah sungguh tidak enak. Namun, sebaiknya memang begini.


Malam itu, Adista praktis tidak bisa tidur. Walau Raka sudah memeluknya, tapi dia tidak bisa terlelap. Berusaha memejamkan mata dan berharap kantuk akan segera datang, juga sia-sia. Yang ada justru Adista masih terjaga.


Mengangkat sedikit wajahnya, Adista menatap wajah sang suami yang sudah terlelap. Menatap wajah Raka, Adista justru kembali berlinang air mata.


Aku sedih akan berpisah denganmu, Mas Raka. Kenapa rasanya sangat berat. Jarak Jakarta dan London yang begitu jauh, belum juga perbedaan waktu selama tujuh jam. Kenapa semua ini terjadi? Ketika cintaku sedang mekar-mekarnya, tapi kamu justru pergi ke London untuk kurun waktu yang belum jelas berapa lama. Aku akan rindu kamu, Mas Raka. Aku bahagia di sisimu seperti ini.


Walau diam dan keheningan malam, Adista hanya mampu berbicara di dalam hatinya. Sesedih apa pun perasaannya, tapi Raka pasti akan ke London. Sebagai seorang Kakak juga pastilah Raka khawatir dengan kondisi adiknya yang baru saja mengalami kecelakaan. Semoga saja semuanya berjalan baik, dan Raka tidak berlama-lama berada di London.