Staycation With Boss

Staycation With Boss
Persiapan Menyambut Baby



Selang satu bulan berlalu, usia kandungan Adista sudah delapan bulan. Lantaran perut yang kian besar dan juga pergerakan babynya yang luar biasa aktif. Bahkan Adista sekarang lebih sering membuang urine setiap kali gerakan bayinya yang kencang.


Selain itu, saat memeriksakan kandungannya lagi, Raka dan Adista sepakat tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Lebih memilih untuk menunggu satu bulan lagi, ketika hari perkiraan lahir tiba. Keduanya sudah ikhlas dan bersabar sampai persalinan nanti.


"Deal yah, Sayang ... kita menunggu sampai kamu bersalin aja yah," kata Raka.


"Iya, Mas. Tinggal sebulan lagi kok. Sabar aja," balas Adista.


Dulu, ketika usia kandungan masih terbilang muda, keduanya sangat berharap bahwa bisa mengetahui jenis kelamin bayinya. Akan tetapi, ada fase di mana memang keduanya memilih bersabar. Sebulan kalau memang dilewati tidak akan lama. Oleh karena itu, keduanya sudah sepakat akan menunggu sampai persalinan nanti.


"Ada kalanya Tuhan meminta kita bersabar. Iya kan? Nanti waktu menyambut buah hati biar lebih istimewa karena kita benar-benar gak tahu jenis kelaminnya sebelumnya," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Tentu persalinan nanti akan terasa istimewa. Bukan hanya jenis kelamin bayinya yang belum diketahui, tapi juga karena ini adalah pengalaman pertamanya untuk melahirkan.


"Cuma sekarang, periksanya per dua minggu, Mas. Cepet banget yah, harus bolak-balik ke Rumah Sakit deh," kata Adista.


"Tidak apa-apa. Dinikmati saja," balas Raka.


Raka memang terlihat lebih santai walau sebenarnya Raka sendiri juga deg-degan. Bagaimana bersalin nanti. Akan tetapi, Raka mulai melihat video bagaimana bersalin itu, bagaimana seorang suami mendampingi istri yang bersalin. Kadang hatinya berdesir melihat para wanita menangis hingga menjerit kala melahirkan. Raka seakan juga bersiap mendampingi istrinya nanti.


"Dijalani dengan tenang aja, Sayang. Yang pasti aku akan selalu mendampingi kamu kok. Kamu minta ditemenin kan waktu bersalin nanti? Aku akan menemani kamu," balas Raka.


Adista lagi-lagi tersenyum. Tindakan suaminya yang seperti ini sesungguhnya yang menenangkannya. Di balik dinginnya Raka, ada sikap hangat yang Raka tunjukkan.


...🍀🍀🍀...


Satu Hari Kemudian ....


Raka menunjukkan kamar yang sudah dia persiapkan sedemikian rupa untuk bayinya. Kamar yang terkoneksi langsung ke kamarnya itu dicat dengan warna cokelat pastel yang lembut. Keduanya juga sudah sepakat akan memilih warna-warna netral. Warna yang sekiranya bisa dipakai bayi laki-laki atau perempuan nanti.


Dengan sukacita, Raka pun menuntun Adista ke kamar itu dan menunjukkan hasil akhir dari kamar bayinya nanti.


"Nah, ini kamar bayi kita, Sayang. Didominasi warna cokelat dan putih sih. Walau hiasan di dinding terbilang netral, hanya boneka, pelangi, musik, dan lainnya."


"Bagus banget, Mas. Aku menjadi terharu. Kala aku bayi atau masih kecil mana pernah aku mendapatkan kesempatan seperti ini. Yang ada justru aku hidup dan tumbuh dalam kesederhanaan. Akan tetapi, anakku nanti mendapatkan fasilitas yang tak pernah aku dapatkan sejak kecil."


"Itu jalan hidup kamu dulu. Tidak apa-apa. Justru kamu akan menjadi Mama yang tangguh, sudah menikmati semua proses sejak dulu," kata Raka.


"Makasih, Mas. Semua berkat kamu," balas Adista.


Raka tersenyum, tangannya melingkari pinggang istrinya. "Sama-sama. Anggap saja dulu kamu sudah menikmati semua kesukaran hidup. Sekarang masanya menikmati. Memiliki harta berlimpah bukan berarti menjadikan seseorang menjadi sombong dan terbuai dengan fasilitas yang ada. Justru bersyukur karena diberi kemudahan. Tetap rendah hati," balas Raka.


Itu adalah ajaran yang selalu diajarin Mama Erina dan Papa Zaid. Walau hidup kaya raya dan fasilitas mencukupi, tapi memang anak-anak keluarga Syahputra tumbuh dengan rendah hati. Tidak menjadi anak-anak yang sombong dan juga seenaknya sendiri.


"Setuju banget, Mas," balas Adista.


"Kamu juga jangan rendah diri. Santai saja, Sayang. Nanti baby kita diberi nama siapa coba? Sediakan nama untuk cowok dan cewek yah, Yang," kata Satria.


Lantaran belum mengetahui jenis kelamin bayinya, memang Raka meminta kepada istrinya untuk menyiapkan dua nama yang pas untuk bayi laki-laki dan untuk bayi perempuan. Nanti ketika si baby sudah launching, tinggal memilih saja namanya. Sudah siap sedia.


"Iya, Mas ... siap, Mas Raka juga siapin nama aja. Terserah aja, yang penting dalam nama itu terselip doa dan harapan kita berdua," kata Adista.


"Oke, nanti aku pikirkan juga. Papanya harus andil memberikan nama yah?"


"Iyalah, masak hanya andil memberikan benih aja sih, Mas." Adista membalas dengan memanyunkan bibirnya. Kadang suaminya itu juga mengada-ada saja.


Tidak marah, Raka justru tertawa. "Itu benih terbaik, Sayang. Kualitas unggul. Lihat saja nanti betapa cakep atau cantiknya anak kita, semua yang terbaik ada di benihku itu bercampur menjadi satu dengan indung telurmu," balas Raka dengan penuh percaya diri.


Adista memilih terkekeh saja. Kemudian Adista mengambil baju bayi yang berwarna putih. Mengangkatnya, Adista terlihat gemas. Rasanya sudah membayangkan bagaimana bayinya nanti mengenakan baju-baju bayi yang begitu lucu itu.


"Lucu yah, Mas. Gak sabar nanti melihat baju-baju ini dipakai bayi kita," kata Adista.


"Sabar Mama Dista. Hanya sebulan lagi kok. Sebulan itu tidak lama," balas Raka.


"Iya, Papa Raka. Akan selalu bersabar. Duh, lucu yah gendong-gendong baby kecil kita nanti. Kalau cowok, secakep Papa Raka yah, Nak," kata Adista.


Raka menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Kalau cewek secantik Mama Adista yah."


Keduanya lantas tertawa bersama. Sudah membayangkan bagaimana lucunya bayi mereka nanti. Selain itu, Adista juga memiliki harapan tersendiri agar kala bersalin nanti semuanya lancar. Dia dan bayinya sehat dan selamat tentunya. Tinggal menghitung pekan dan tangisan suara bayi akan memenuhi rumah mereka. Sungguh, hati rasanya tidak sabar. Raka dan Adista siap menyambut bayi kecilnya.