
Semalam berlalu dan benar-benar tidak ada guling yang ada di antara mereka berdua. Kendati demikian Adista masih berbaring dengan memunggungi suaminya. Sementara memang Raka tidak melakukan apa pun yang membuat Adista menjadi tidak nyaman. Raka sudah tiba di keputusannya untuk mau menunggu, sehingga memang Raka akan menunggu istrinya itu.
Hingga pagi menyapa, Dista kemudian terbangun dengan hati-hati. Adista memilih segera mandi terlebih dahulu. Setelah itu, Adista turun ke bawah. Di Villa itu tidak ada siapa pun, sehingga Adista harus segera menyiapkan sarapan.
Sehingga pagi itu, Adista hanya mencari bahan makanan yang tersedia di lemari es saja. Dia memikirkan menu sarapan simple untuk dia dan Raka. Akhirnya, Dista memilih membuat nasi goreng.
Hanya setengah jam saja sarapan Nasi Goreng sudah tersedia. Benar dia belum menjadi istri secara penuh, tapi setidaknya Adista tidak akan mengabai kebutuhan perut suaminya. Dia akan memprioritaskan untuk mengisi perut suaminya terlebih dahulu.
Hingga Raka turun dari kamar, pria itu mengulum senyuman tipis dan menuju ke meja makan.
"Pagi," sapa Raka.
"Pagi, Pak Raka," balas Adista.
"Kamu yang membuat sarapan yah? Makasih," balas Raka.
Adista hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia dan Raka makan bersama. Tidak ada obrolan, karena keduanya juga bingung akan membicarakan apa. Selain itu, takutnya kalau mengobrol justru akan memicu pertengkaran dan perselisihan di pagi hari. Sehingga, keduanya memilih untuk diam.
"Besok kita kembali ke Jakarta yah?"
Sekarang barulah Raka mengatakan kepada Adista untuk mengajaknya ke Jakarta lagi. Sebab, lusa Raka sudah harus bekerja ke La Plaza Hotel. Memang hanya menikah secara akad. Tidak ada resepsi, tidak ada bulan madu karena kondisi hati yang belum lega.
"Baik, Pak Raka," balas Adista.
"Kita tinggal di rumah Mama dan Papa dulu seminggu, soalnya rumah kita masih finishing untuk desain interiornya."
"Rumah kita? Maksudnya kita akan tinggal berdua saja?" tanya Adista.
"Yah, sebaiknya pasangan suami istri memang tinggal berdua saja. Hidup secara mandiri. Kamu keberatan?" tanya Raka.
Adista kemudian menggelengkan kepalanya. Toh, memang yang dikatakan Raka benar. Usai pernikahan memang sebaiknya hidup mandiri berdua saja. Oleh karena itu, Dista menyingkirkan rasa keberatan itu dalam dirinya.
Baru separuh nasi goreng yang dinikmati Raka, tapi sudah ada mobil yang berhenti di depan villa. Tak berselang lama disusul dengan bel villa yang menyala. Tandanya ada seseorang yang datang.
"Kamu makan saja, aku yang akan melihat," kata Raka.
"Ray ...."
Benar-benar diluar dugaan yang datang pagi itu ternyata adalah Rayyan. Raka juga bingung untuk apa adiknya itu datang lagi ke Lembang. Namun, seketika Raka teringat bahwa pastilah Rayyan datang karena istrinya. Yah, karena Adista.
"Kak Raka," sapa Rayyan dengan menatap kakaknya itu.
"Kenapa Ray? Baru semalam kamu pulang, sepagi ini sudah di sini?" tanya Raka.
"Hm, sorry Kak. Bukan maksudku untuk mengganggu, tapi aku mau menemui Dista. Bolehkah Kak?" tanya Rayyan.
Raka sudah tahu sebenarnya. Tidak mudah berdiri di posisi Raka sekarang. Ibarat kata di kanan ada istrinya, tapi di sisi kiri ada Rayyan yang adalah adik kandungnya sendiri.
"Biar aku panggilkan, Dista," kata Raka.
Sebelum Raka beranjak masuk ke dalam, Rayyan memegang bahu kakaknya itu. "Kak, maaf yah," kata Rayyan dengan merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Ray."
Akhirnya Raka berjalan menuju ke meja makan. Dia berbicara kepada Adista dan mengatakan bahwa Rayyan mencarinya. Ketika nama Rayyan disebut, ada rasa bahagia di dalam hati Adista, walau hanya tersirat. Akan tetapi, Adista seketika merasa tidak enak juga karena yang berdiri sekarang di sisinya adalah suaminya.
"Temuilah Rayyan," kata Raka.
"Bolehkah?" tanya Adista.
"Boleh saja. Bukankah kemarin malam aku sudah mengatakannya. Kamu boleh bertemu dan berbicara dengan Rayyan. Namun, jangan lama-lama. Bereskan segera hatimu. Aku menunggu."
Adista memejamkan matanya sesaat. Tidak mudah untuk membereskan hatinya. Sudah satu bulan ketika memilih putus dari Rayyan, buktinya ketika sekarang bertatap muka dengan Rayyan, hatinya terasa kembali pedih.
"Dia di depan," kata Raka lagi.
Adista menganggukkan samar. Setelah itu, dia berjalan meninggalkan ruang makan. Sementara Raka hanya menatap nasi goreng yang masih separuh itu. Tadi pagi ketika dia bangun, perutnya terasa lapar. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Selera makannya hilang dengan tiba-tiba. Selain itu, ada rasa takut jika Adista pada akhirnya lebih memilih Rayyan daripada dirinya.
Pelik, sangat pelik. Sayangnya Raka tidak bisa menghindar lagi dari hubungan yang rumit ini. Ada cinta tiga sisi yang sukar untuk diurai.