Staycation With Boss

Staycation With Boss
Istana Baru



Keesokan Harinya ....


Lantaran masih hari libur, sekarang Raka ingin mengajak istrinya itu menuju ke suatu tempat. Tempat yang sudah Raka persiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Raka ingin Adista melihatnya terlebih dahulu, karena tempat ini Raka persiapkan khusus untuk Adista.


"Kita mau ke mana sih sebenarnya, Mas?" tanya Adista kepada suaminya itu.


"Ikut saja, Sayang," balas Raka.


Adista melirik suaminya itu. Kadang kala Raka memang begitu, saat ditanya mau ke mana, justru Raka tidak mengatakan apa pun. Hanya meminta Adista untuk mengikutinya saja. Akhirnya di sepanjang jalan, Adista memilih tenang. Dia mengamati setiap jalanan yang mereka tempati. Namun, jalanan yang mereka lalui sekarang tampak tidak asing, mengarah ke La Plazza Hotel. Akan tetapi, ini masih hari Minggu sehingga tidak mungkin Raka mengajaknya bekerja.


"Bukannya ini menuju hotel?" tanya Adista.


Raka menganggukkan kepalanya. "Iya, benar. Ini memang menuju ke hotel," balas Raka.


Hingga akhirnya, tak jauh dari La Plazza, mobil Raka memasuki jalanan dan terdapat area perumahan elit di sana. Adista semakin heran kenapa menuju ke area perumahan. Namun, Adista tidak ingin bertanya-tanya lagi. Toh, nanti suaminya akan menjawab untuk mengikutinya saja.


"Ayo, kita turun," ajak Raka kemudian.


Rasanya Adista semakin heran melihat rumah yang benar-benar mewah di sana. Bahkan Raka turun sudah ada orang yang memberikan kunci rumah itu. Lalu, Raka berbicara sebentar. Setelahnya, barulah Raka mengajak Adista untuk masuk.


"Ayo, Sayang. Ini rumah kita," kata Raka.



Rumah dengan dua lantai dan mengusung gaya modern itu seakan menjadi rumah yang tepat untuk pasangan muda seperti Raka dan Adista. Warna yang dipilih pun natural, ada beberapa tanaman hijau juga di sana yang membuka rumah mewah itu menjadi kian asri. Jika Raka menganggap ini rumah, sementara untuk Adista ini adalah istana. Membayangkan rumah seperti ini saja rasanya tidak pernah.


Raka menggandeng tangan Adista dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sekadar memasuki pintu utama saja, sudah terlihat mewahnya rumah itu dengan pilihan furniture yang juga sesuai dengan konsep rumah yang diusung.


"Nantinya rumah ini akan menjadi tempat tinggal kita berdua. Aku sengaja memilih yang area tanahnya tidak terlalu luas. Namun, kita bisa manfaatkan bersama. Semoga nanti di rumah baru, kamu segera hamil. Penuhi rumah ini dengan tawa dan tangisan bayi-bayi kita," kata Raka.


Jujur, Adista masih bingung. Rumah ini saja terasa sangat mewah untuknya. Tangannya saja sekarang menjadi dingin karena grogi dan masih belum percaya.


"Gimana, kamu suka enggak?" tanya Raka.


"Bukannya ini terlalu berlebihan yah, Mas?" tanya Adista.


Raka dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak berlebihan sama sekali kok. Justru aku ingin bisa memberikan yang terbaik. Kan rumah ini nantinya akan kita tempati bersama, seumur hidup kita."


"Ini adalah istana, indah banget," sahut Adista.


Raka tersenyum, dia mengusap gemas puncak kepala istrinya itu. Kemudian Raka menggandeng tangan Adista menuju ke dapur. Di sana Raka menunjukkan tempat memasak dan peralatan masak yang sudah tersedia.


"Nanti kamu bisa memasak di sini, menyeduhkan kopi untukku. Area kekuasaanmu. Akan tetapi, aku tidak menyuruhmu harus masak. Senyamannya kamu saja. Yang pasti kamu harus menikmati hidup bersamaku," kata Raka.


"Iya, aku akan buatkan kopi. Palingan memasaknya waktu libur, Mas, soalnya setiap hari kan bekerja. Lima hari dalam seminggu," kata Adista.


"No problem. Tidak masalah sama sekali kok. Sesempatnya kamu saja. Jangan berpikir hidup bersamaku akan penuh dengan tekanan," balas Raka.


"Memang enggak tertekan sih, tapi selalu diberi PR ini dan itu," sahut Adista.


Raka tersenyum memang dia sering memberikan PR secara berkala untuk Adista. Toh, Raka memiliki tujuan baik supaya Adista bisa membuka hatinya perlahan, hingga akhirnya bisa mencintainya. Sekarang terbukti, Adista mulai merasakan sendiri bunga-bunga cinta di hatinya semakin bermekaran.


Adista melirik suaminya itu. Heran sendiri dengan ucapan suaminya yang kadang tanpa basa-basi. Walau demikian Adista mengikuti saja langkah kaki suaminya. Sekarang, mereka menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.


"Kamar utama yang nantinya akan menjadi kamar kita berdua, Sayang," kata Raka.



Sungguh kamar itu sangat indah. Ada warna biru yang jarang diusung untuk kamar, tapi berhasil dipadu padankan dengan sangat indah. Lagi-lagi Adista tercengang dengan kamar yang indah itu.


"Indah banget. Ini bahkan jauh lebih indah dari kamar terbaik di La Plazza Hotel," kata Adista.


"Harus dong. Untuk peraduan kita. Gak sabar bergumul denganmu di sana," bisik Raka.


Astaga, nakalnya suaminya itu. Adista sampai membolakan matanya dan menggeleng perlahan. Dalam hati, Adista berpikir apakah makhluk bernama pria itu akan seperti ini.


"Nakal banget sih, Mas," balas Adista.


"Bukan nakal, itu ucapan jujur pria dewasa. Kalau weekend, aku akan mengurungmu di sini. Makanya aku mendesain kamar ini sangat nyaman. Sehingga, akhir pekan kalau memang tidak ingin kemana-mana yah kita di kamar aja."


"Ya kalau aku sedang berhalangan gimana?" tanya Adista.


"Kalau halangan ya gak apa-apa, fasenya memang begitu. Walau aku benar-benar mendamba sepanjang malam," aku Raka.


Adista kemudian tersenyum merasa geli mendengar pengakuan suaminya. Hingga akhirnya, Raka menunjukkan tempat-tempat lainnya. Seolah-olah Raka mengajak istrinya room tour di rumah baru mereka nanti.


"Kamu ingin pindah ke sini kapan?" tanya Raka.


"Aku sih ngikutin Mas Raka aja. Yah, walau sebenarnya ini terlalu mewah untukku," balas Adista.


"Dinikmati saja, Sayang. Aku ingin memberikan yang terbaik. Memberikan kenyamanan untuk istriku sendiri. Sengaja aku memilih perumahan ini karena dekat dengan La Plazza Hotel," balas Raka.


"Kalau dekat, aku boleh enggak bekerjanya sendiri? Gak harus sama Mas Raka," tanyanya.


"Mau jalan kaki?" tanya Raka dengan bingung.


Adista menggelengkan kepalanya. "Kan aku punya sepeda motor di rumah. Bisa aku pakai. Cuma lima menit juga naik sepeda motor."


"Astaga, Yang. Aku Direktur Utama La Plazza yang pulang pergi naik mobil, istriku malahan mau naik sepeda motor. Kalau begitu, aku kayak suami yang kejam, tahu."


"Kan dekat, Mas. Gak apa-apa juga. Sebelumnya aku terbiasa mandiri."


"Itu kan dulu sebelum kamu menikah denganku. Kalau sekarang semuanya sudah berbeda, bergantunglah kepadaku. Jangan bergantung pada orang lain," kata Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya iya, kalau begini rasanya Boss sekaligus suamiku ini posesif deh," balas Adista.


"Memang posesif. Habis kamu seperti ingin bisa sendiri. Padahal, aku selalu ingin melindungi kamu, selalu ingin melakukan apa yang aku bisa untukmu."


Itulah Raka, dia selalu ingin melakukan sesuatu untuk wanita yang dicintainya. Dia ingin Adista bergantung kepadanya. Raka akan dengan senang hati melakukan apa pun untuk istrinya itu.