
Begitu sudah tiba di Jakarta, Mama Erina dan Papa Zaid bergerak cepat untuk menyiapkan acara tasyukuran empat bulanan kehamilan Adista. Untuk katering dan sebagainya sebenarnya Papa Zaid tidak begitu kepikiran, dia sendiri memiliki usaha kafe yang bisa dipergunakan bagian kateringnya. Ingin menggelar Tasyukuran di hotel atau rumah, juga tinggal memilih.
Namun, karena ini adalah gelaran tasyukuran untuk kali pertama tetap saja Mama Erina dan Papa Zaid merasa sangat excited. Selain itu, ada yang membuat Mama Erina dan Papa Zaid sangat bahagia ketika kembali ke Jakarta yaitu Raka dan Adista yang sudah menempati rumah baru mereka. Keduanya sangat setuju bahwa menjelang persalinan, lebih baik Raka dan Adista memang tinggal di rumah saja. Selain lebih luas, nantinya ruang itu juga akan menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi anaknya.
"Jadi, bagaimana Pa ... nanti kita menggelar Tasyukuran Adista di La Plazza atau di rumah?" tanya Mama Adista sekarang.
"Di rumah saja bagaimana, Ma? Dulu kan resepsinya Raka dan Adista sudah di La Plazza Hotel. Sekarang di rumah aja, hanya tetangga, mitra bisnis, dan kenalan saja, Ma. Bagaimana?" tanya Papa Zaid.
Mama Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Pa. Tolong undang anak-anak yatim dan piatu, Pa. Kesempatan yang baik untuk bisa menyantuni mereka," pinta Mama Erina.
Usulan yang begitu baik dari Mama Erina. Papa Zaid sangat setuju apa yang diminta Mama Erina. Mengingat Raka juga bekerja begitu giat, kali ini Papa Zaid dan Mama Erina yang mempersiapkan untuk acara tasyukuran empat bulanan kehamilan Adista. Yang penting, ketika hari H, Raka dan Adista cukup datang ke rumah saja.
...🍀🍀🍀...
Dua Pekan Kemudian ....
Sekarang di kediaman Papa Zaid dan Mama Erina sudah dipasang tenda untuk acara kajian dan sekaligus tasyukuran untuk kehamilan Adista. Dekorasi sudah dipersiapkan dari kenalan Papa Zaid yang sudah begitu dipercaya. Katering pun dipercayakan kepada La Plazza Catering. Sedangkan untuk seragam, semua dibuat oleh Mama Erina sendiri.
Keluarga Bapak Gusti pun sudah datang di kediaman keluarga Syahputra. Mama Erina juga memperlakukan besannya dengan sangat baik.
"Ibu Ratih, nanti juga dirias dulu yah. Saya sudah membuatkan kebaya dengan warna Lilac, semoga Ibu suka yah," kata Mama Erina.
"Duh, Bu Erina, kami malahan merepotkan. Bahkan sampai adiknya Adista dibuatkan seragam oleh Bu Erina," balas Bu Ratih.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita kan sudah satu keluarga. Kita nanti akan dirias bersama-sama, dan setelah itu kita ke kamarnya Raka. Di sana Adista sedang dirias."
Bu Ratih sebenarnya sangat sungkan, besannya yang kaya raya itu memperlakukannya dengan sangat baik. Sementara dirinya hanyalah seorang dari keluarga miskin. Ada kalanya ada rasa tidak enak hati dan merepotkan saja. Akan tetapi, keluarga Syahputra begitu baik dan benar-benar tidak memperlakukan seseorang berdasarkan strata sosialnya.
Setelah itu, barulah Mama Erina dan Bu Ratih menuju ke kamarnya Raka. Sebab, di sana Adista sedang dimake-up. Adista juga mengenakan kebaya dengan warna Lilac. Rambut panjangnya disanggul, sungguh Adista terlihat begitu cantik. Bu Ratih saja sampai menitikkan air matanya ketika melihat putrinya.
"Putrinya Ibu cantik sekali," kata Bu Ratih.
"Ibu ...."
Adista sendiri juga pangling dengan ibunya yang sekarang sudah berhias dan mengenakan kebaya. Hebatnya Mama Erina, kebaya buatan tangan Mama Erina itu begitu pas dikenakan oleh Bu Ratih. Padahal tidak ada fitting baju sebelumnya.
"Benar, kamu cantik sekali, Dista. Sudah siap kan? Kita turun bersama," ajak Mama Erina.
"Ada di bawah. Baru berpisah sebentar sudah kangen sama Raka?" tanya Mama Erina.
"Babynya yang kangen kok, Ma." Adista menjawab dengan menunduk malu.
Akhirnya sekarang Mama Erina dan Bu Ratih mendampingi Adista untuk turun. Adista akan didampingi untuk turun dan mengikuti seluruh acara syukuran dan kajian. Begitu sudah sampai di bawah, Adista didudukkan dengan suaminya yang kala itu mengenakan Beskap, baju Jawa khusus pria dengan warna Lilac, senada dengan warna Lilac yang Adista kenakan.
Mulailah seorang pemuka agama memimpin doa bersama dan menyampaikan kajian. Banyak petuah yang disampaikan, Adista dan Raka beberapa kali menganggukkan kepalanya. Benar-benar berharga sekali pengalaman mengikuti tasyukuran kehamilan untuk kali pertama. Selain itu, Adista menitikkan air mata ketika mendengarkan pembacaan ayat suci Al'Quran dari beberapa anak yatim dan piatu. Hatinya tersentuh, selain itu Adista yakin bahwa doa yang dipanjatkan oleh anak-anak yatim dan piatu akan dijabah Allah. Anak-anak itu dengan tulus mendoakan dirinya dan bayinya yang masih berada di dalam kandungan.
"Jangan bersedih, Yang," kata Raka berbisik di telinga Adista.
"Enggak sedih, aku cuma terharu. Doa dari anak-anak itu terasa begitu tulus sampai menggetarkan hatiku," balas Adista dengan menyeka air matanya.
Raka tersenyum. Inilah sisi lain istrinya yang bisa dengan begitu mudahnya terharu. Adista sendiri orang yang cukup ekspresif, berbeda dengan Raka yang terbilang minim ekspresif. Namun, Allah menyatukan keduanya, dari karakter yang sepenuhnya berbeda.
"Kita berdoa dulu yuk," ajak Raka.
Baik Raka, Adista, hingga para hadirin khusyuk berdoa. Secara khusus yang didoakan adalah Adista dan bayinya. Sementara Adista juga memanjatkan doa khusus dalam hatinya untuk suaminya.
Begitu, acara selesai mulailah keluarga Syahputra dan keluarga Gusti bersalam-salaman dengan seluruh tamu undangan. Sekaligus memberikan santunan untuk anak-anak yatim dan piatu yang datang. Adista kembali menangis melihat anak-anak yang bahagia ketika mendapatkan santunan.
"Aku memang bukan yatim atau piatu. Akan tetapi, mendapatkan santunan seperti ini layaknya memberikan kebahagiaan untuk mereka. Terima kasih sudah mengundang anak-anak hebat ini, sudah menyantuni mereka. Doaku suatu hari nanti anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang berguna untuk agama, bangsa dan negara," kata Adista.
"Ini dari Papa, Sayang. Aku hanya memberi sedikit," jawab Raka dengan jujur.
"Tidak apa-apa, Mas. Ketika harimu sudah tergerak saja itu sudah sangat baik," balas Adista.
Raka kemudian tersenyum. Istrinya itu paling bisa memahami dirinya. Bagi Raka, sisi lain dan unik dari Adista seperti inilah yang melengkapi dirinya.
"Makasih, Sayang. Sudah empat bulan kehamilan, doaku kamu sehat dan baby kita. Lima bulan lagi, anggota keluarga baru kita akan hadir. Aku menantikan hari itu," balas Raka.
"Sama, Mas. Aku juga menantikannya. Walau adik bayi belum kelihatan juga dia cewek atau cowok. Kemarin periksa masih belum jelas. Harus menunggu bulan depan lagi untuk mengetahui jenis kelamin adik bayi," balas Adista.
"Tidak apa-apa. Yang jauh lebih penting adalah babynya sehat, Mama Adista juga sehat."
Adista tersenyum. Biasanya di kehamilan pertama akan ada pasangan yang sudah begitu menunggu-nunggu gender reveal dari bayinya. Akan tetapi, Raka dan Adista harus lebih bersabar karena bayinya seolah masih menutupi bagian dari dirinya yang menunjukkan dia cewek atau cowok.