Staycation With Boss

Staycation With Boss
Kembali ke London



Akhir Pekan Kemudian ....


Merasa di Jakarta hanya kian memupuk luka di hatinya, akhirnya Rayyan memutuskan untuk kembali ke London. Dia akan menyembuhkan hatinya di London. Liburan kuliah belum berakhir, tapi Rayyan memilih kembali ke London lebih cepat. Ada alasan khusus yang tidak bisa Rayyan sampaikan kepada orang tuanya sendiri. Bagaimana perasaan dan hubungan ini tabu. Walau Rayyan yang kali pertama mengenal Adista, tapi menginginkan kakak iparnya sendiri sangat tidak etis sekarang.


"Tumben kamu di Jakarta hanya sebentar, Ray? Bukankah biasanya senang berlama-lama di Jakarta?"


Papa Zaid bertanya kepada putra bungsunya itu. Sebab, biasanya kurang tiga hari masuk kuliah, Rayyan baru pulang. Akan tetapi, sekarang Rayyan memilih segera kembali ke London.


"Iya, Pa. Kan Rayyan pulang untuk menghadiri pernikahan Kak Raka saja," balasnya.


Ya, rencana semula memang Rayyan memilih pulang untuk memberikan kejutan untuk Kak Raka yang menikah. Akan tetapi, justru Rayyan yang terkejut. Sebab, wanita yang dinikahi kakaknya tak lain adalah pacarnya sendiri.


"Tidak ada masalah apa-apa kan?" tanya Papa Zaid lagi.


"Tidak ada sama sekali kok, Pa."


"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kamu bisa berbagi ke Papa atau Kakakmu," kata Papa Zaid.


Rayyan tersenyum kecut. Sekarang tidak mungkin dia bisa berbicara banyak hal dengan Kak Raka. Sejak Adista dinikahi kakaknya, hubungan pun rasanya berubah.


"Iya, Pa. Minta tolong antar Rayyan ke bandara yah Pa?" pinta Rayyan sekarang.


"Pasti."


Sesibuk apa pun Papa Zaid, ketika anak-anaknya hendak kembali lagi ke luar negeri, pasti dia sendiri yang akan mengantarkannya. Papa Zaid juga sosok Papa yang baik. Dia juga lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di rumah dibandingkan di kantor. Lebih dekat dengan keluarga membuat Papa Zaid merasa lebih bahagia.


Sekarang sebuah mobil Alphard melaju menuju ke bandar udara. Papa Zaid dan Mama Erina mengantarkan Rayyan dan Raline yang kembali ke London. Itu artinya rumah mereka akan kembali sepi, karena anak-anak kembali kuliah. Sedangkan Raka dan Adista memilih untuk tinggal di apartemen.


"Sudah berpamitan dengan Kak Raka?" tanya Mama Erina sekarang.


"Sudah, Ma. Nanti Kak Raka akan menemui kami di Bandara," jawab Raline.


"Baiklah."


Begitu tiba di Bandara, di depan pintu keberangkatan sudah ada Raka dan Adista di sana. Tampak Raline sedikit berlari dan memeluk kakaknya itu.


"Kak Raka, aku sebenarnya masih kangen dengan Kakak. Sayangnya aku harus kembali ke London. Sampai aku lulus nanti, Kakakku ini pasti sudah menjadi Papa yah. Kak, aku kangen Kakak," kata Raline.


Raka tersenyum dan memeluk adiknya yang memang manja kala tengah bersamanya. Adista yang berdiri di samping Raka sampai heran melihat interaksi adik dan kakak yang sangat hangat. Mama Erina kemudian berbicara dengan Adista.


"Mereka kalau memang bertemu seperti itu, Dista. Jangan kaget. Dulu, sebelum Raka menikah, setiap Sabtu, kakaknya itu diajak ke Mall, muter-muter menuruti apa yang dia mau," kata Mama Adista.


"Aku kan cewek sendiri, Ma," balas Adista.


"Kak Raka dituakan. Adiknya pas satu cewek dan satu cowok. Sama-sama manja kepada Kakaknya," balas Mama Erina.


Orang tua sudah senang ketika ketiga anaknya berkumpul dan saling menyayangi. Sama seperti Raka, Raline, dan Rayyan. Ketika sudah bersama, selalu saja ada yang dilakukan ketiganya.


Setelah itu, Rayyan berpamitan dengan kakaknya."Kak Raka, Rayyan kembali ke London dulu yah," pamitnya.


Raka mengambil satu langkah, dan dia peluk adik bungsunya itu. "Hati-hati yah, Ray. Hubungan kita selalu sama. Kamu selalu menjadi adik kesayanganku, sama seperti Raline," kata Raka lirih.


Rayyan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan berusaha."


"Kalian berpelukan tanpa mengajakku," kata Raline.


"Kalian sudah bertambah besar dan dewasa. Bukan anak kecil lagi," balas Raka.


"Aku akan selalu jadi adik kecilnya Kak Raka," balas Raline.


Hingga akhirnya sudah tiba waktunya bagi Raline dan Rayyan untuk boarding. Mereka berpamitan dengan keluarganya yang mengantarnya. Banyak pesan dan nasihat juga yang diberikan Mama Erina dan Papa Zaid kepada anak-anaknya itu.


Hingga akhirnya Raline berpamitan dengan Adista dan memeluk kakak iparnya itu.


"Aku titip Kakakku yang spesial edition itu yah, Kak. Segera memiliki baby yang lucu. Aku menantikannya," kata Raline.


"Iya, Line. Hati-hati dan selalu jaga kesehatan yah," balas Adista.


Setelah itu, Rayyan berdiri di hadapan Adista. Jujur, Rayyan ingin memeluk Adista untuk terakhir kali. Akan tetapi, Rayyan memilih mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan kekasih yang kini sudah menjadi kakak iparnya itu.


"Aku pamit," kata Rayyan.


"Hm, iya Ray ... hati-hati dan jaga kesehatan."


Sebatas membalas itu saja, suara Adista terdengar bergetar. Dia hendak menangis, tapi berusaha menahan karena masih ada Mama dan Papanya.


"Bye My Family," pamit Raline dengan melambaikan tangannya kepada keluarga yang mengantarkannya.


Akhirnya, Raline dan Rayyan memasuki pintu keberangkatan untuk cek in dan menunggu di ruang tunggu. Rayyan kembali ke London dengan membawa hati yang hancur. Dia bertekad untuk menyembuhkan hatinya di sana. Sementara, Adista merasa sedih walau begitu ini adalah jalan terbaik untuk mereka bertiga.


"Kalian tidak mampir ke rumah?" tanya Papa Zaid kepada Raka dan Adista.


"Lain kali, Pa ... lagipula ini sudah malam," kata Raka.


"Dari La Plazza langsung ke mari yah?" tanya Mama Erina kepada keduanya.


"Iya, Ma," balas Adista.


"Ya sudah, yuk kita pulang. Besok adik-adikmu baru tiba di London," balas Mama Erina.


Akhirnya Raka dan Adista memilih pulang dari Bandara. Mama Erina dan Papa Zaid juga memilih pulang. Di mobil, Adista barulah menitikkan air mata. Cinta pertama itu selalu berkesan, entah pahit atau manis kisahnya. Raka tahu, air mata yang berlinang itu.


"Butuh pelukan?" tanya Raka.


Tidak memberikan jawaban, Raka sudah memeluk Adista di dalam mobil itu. "Ikhlaskan. Perlahan-lahan waktu yang akan menyembuhkan. Yahh ...."


"Iya, aku sudah mulai melepas cinta pertamaku," balas Adista.


"Bagus, ini yang terbaik untuk kita bertiga. Rayyan juga pasti akan menemukan sosok yang lain nanti," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Wanita itu sekarang tersenyum tipis. "Iya, Pak Raka. Labirin ini sangat menyiksa. Aku ingin keluar dari dalamnya."


"Kita keluar bersama. Jalan keluar itu hanya bersamaku," balas Raka.


Mengurai pelukannya sesat, Raka menyeka bulir air mata di wajah Adista. Raka sudah berkeyakinan bahwa jalan keluar dari labirin yang seolah tak berujung itu adalah dirinya. Menuju kehidupan rumah tangga yang lebih indah pastinya. Untuk itu, Raka akan menyembuhkan Adista dan membuat istrinya itu menerima dan mencintainya. Bukannya egois dengan perasaan Rayyan, tapi Raka berharap suatu hari kelak adiknya akan menemukan sosok lain yang juga akan menyembuhkan lukanya.