Staycation With Boss

Staycation With Boss
Pindah ke Rumah Baru



Keesokan harinya, usai sarapan Adista dan Raka sudah berkemas bersama. Adista memasukkan baju-baju mereka ke dalam koper. Sebagaimana ucapan suaminya semalam yang mengajak Adista untuk pindah ke rumah baru mereka. Sehingga sekarang, keduanya melakukan packing bersama.


"Baju-baju kita aja kan, Mas?" tanya Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, apa ada sesuatu di unit ini yang ingin kamu bawa? Nanti aku bisa memakai jasa pengiriman saja," tanya Raka.


Adista mengamati sekelilingnya. Tak dipungkiri apartemen ini memiliki kisah yang sangat berharga untuk Adista. Tempat di mana dia terikat dengan Raka, melakukan pendekatan, hingga akhirnya bunga-bunga cinta itu bisa tumbuh mekar. Kalau boleh berkata jujur, semua yang ada di unit ini sangat berharga untuk Adista.


"Kok jadi kelihatan sedih?" tanya Raka.


"Unit ini berharga sih untuk aku. Ketika kita usai menikah. Berawal dari ketukan pintu di kamar kamu, akhirnya kita pindah ke sini. Sekarang, ketika kita sudah di sini, kita pindah lagi karena kedatangan pelakor. Semoga ketika nanti sudah di rumah, kita tidak pindah-pindah lagi ya, Mas," kata Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka menikah belum ada satu tahun, tapi sudah harus pindah beberapa kali. Raka juga tahu, hidup berpindah-pindah itu melelahkan. Sama seperti Adista, semoga ketika di rumah baru nanti sudah tidak ada drama pindah rumah lagi. Tidak ada lagi pelakor atau pun pebinor.


"Semoga saja, Sayang. Kita tidak tinggal nomaden yah, tapi bisa tinggal menetap," balas Raka.


Terlihat Adista yang lebih emosional. Sebab, Adista merasa ikatan pernikahannya dengan Raka banyak berkembang ketika mereka tinggal di apartemen ini. Beberapa kali Adista tampak menghela napas dan mengamati sekelilingnya.


Untuk membuat istrinya tak begitu emosional kemudian Raka berkata sesuatu. "Mau bawa ranjang kita gimana Yang?" tanya Raka.


Memang Raka mengatakan itu dengan ekspresinya yang datar. Namun, pertanyaan Raka justru terdengar lucu. Sampai Adista tertawa sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu itu terlalu mengada-ada sih, Mas," balas Adista.


"Ya, siapa tahu. Kan ranjang ini berharga untuk kita. Ranjang yang kita tempati berdua. Satu ranjang untuk kali pertama," jawab Raka.


"Salah, Staycation pertama kali di Lombok, ranjang di cottage itu yang kita tempati bersama dong," balas Adista.


Raka barulah tertawa. Benar yang diucapkan oleh Adista bahwa ranjang yang berada di Lombok dulu adalah ranjang yang mereka tempati untuk kali pertama.


"Bener kan?" tanya Adista.


"Iya, benar banget. Awal mula Staycation With Boss," jawab Raka.


Hingga akhirnya sudah menjelang siang, barulah keduanya selesai packing. Raka kemudian mengajak Adista untuk segera menuju ke rumah baru mereka. Sebelum pergi, Adista mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Ruangan ini akan kurindukan. Tempat di mana aku perlahan jatuh cinta kepada suamiku sendiri, mengerjakan setiap PR yang diberikan suamiku. Hingga akhirnya, aku menjadi ketakutan kalau sampai kehilangannya."


Raka lantas segera mendekap istrinya itu dari belakang. Sesungguhnya, ucapan Adista itu menggetarkan hati Raka. Hanya saja, Raka kadang tak bisa merangkai kata-kata. Sehingga, pria itu memilih memberikan pelukan dan dekapan hangat untuk istrinya. Sebab, untuk mengucapkan kata manis dan menggetarkan hati, pastilah Raka tidak bisa.


"Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi kalau kamu kangen," kata Raka.


"Tidak juga tidak apa-apa. Di mana suamiku berada, di situ aku pun akan berada," balas Adista.


Usai itu, keduanya meninggalkan unitnya. Melangkah bersama dengan membawa tiga buah koper. Baru beberapa langkah mereka ambil, keduanya berpapasan lagi dengan Natasha.


"Ka, mau ke mana?" tanya Natasha.


"Bukan urusanmu."


"Aku baru saja datang dan ingin mengajakmu makan siang bersama. Apa tidak bisa kita makan bersama?"


Natasha merasa sebal. Dia datang dan menawarkan untuk makan siang bersama, tapi Raka menolaknya mentah-mentah. Natasha lantas melirik Adista yang berdiri di samping Raka pastilah Adista alasan utama kenapa Raka selalu menolaknya. Setelah itu, Natasha mengamati koper-koper yang dibawa keduanya, kemudian dia bertanya lagi.


"Kamu membawa banyak koper memangnya mau ke mana, Ka?" tanyanya.


"Aku ingin pergi ke mana, bukan urusanmu," balas Raka.


Usai itu, Raka menatap Adista yang berdiri di sampingnya dan berkata. "Ayo, Sayang. Kita tidak boleh terlambat," katanya.


"Iya, Mas ... jika suamiku tak melangkahkan kakinya bagaimana aku mau mendahului? Aku kan nungguin kamu," balas Adista.


Raka tersenyum dan mengangguk perlahan. "Ayo, kita selesaikan perjalanan kita. Semalam masih kurang, nanti lagi yah."


"Kamu ini memang begitu nakal deh."


Usai itu, Raka memutuskan untuk menghindari Natasha. Membiarkan wanita itu mematung di sana. Raka sudah berada pada keputusannya untuk memilih pergi.


"Terlihat jelas betapa dia ingin mengejarmu. Bahkan menawarkan makan siang," kata Adista begitu mereka sudah berada di dalam mobil.


"Biarkan saja, Sayang. Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan menolak. Percayai aku yah," balas Raka.


"Ku harap sih, Mas Raka selalu bisa menjaga hati dan menjaga diri."


Raka sangat tahu apa yang menjadi harapan istrinya. Lagipula, Raka juga tidak main-main dengan keputusannya. Dia akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga keduanya.


Raka akhirnya segera melajukan mobilnya. Tempat yang akan mereka tuju adalah perumahan di mana rumah baru Raka berdiri dengan megah. Sebuah rumah yang keduanya harapkan bisa menjadi destinasi terakhir untuk keduanya dan menua bersama.


Lebih dari setengah jam Raka mengemudikan mobilnya, sekarang mereka tiba di rumah baru mereka. Rumah yang sebelumnya sudah pernah mereka survei bersama, sekarang keduanya akan benar-benar menempatinya.


"Welcome to our home," kata Raka dengan membukakan pintu untuk Adista.


Sekarang rumah itu sudah benar-benar bagus. Pilihan furniture dan dekorasi ruangan yang diusung benar-benar indah. Adista benar-benar takjub dengan rumah milik suaminya itu.


"Menjadi bagus banget. Jauh berbeda dengan dulu waktu kita ke sini," kata Adista.


"Rumah ini akan menjadi istana kita berdua. Tempat ternyaman untuk anak-anak kita," balas Raka.


"Makasih, Mas. Sebelumnya aku tidak berani bermimpi. Sekarang aku menikmati tinggal bersama denganmu," kata Adista.


Apa yang Adista sampaikan juga sangat jujur. Dulu, Adista tinggal di rumah yang sangat sederhana. Hal itu membuat Adista tidak berani bermimpi. Lebih baik hidup dengan menyesuaikan diri dengan keadaan. Akan tetapi, ketika Raka datang dalam hidupnya semua berubah perlahan. Adista bisa menikmati kehidupan yang jauh, jauh, dan jauh lebih layak.


"Sama-sama, Sayangku. Ini hadiah pernikahan dariku untuk kamu. Wanita yang akan dan selalu menjadi ratu di hatiku," kata Raka.


"Tumben bicaranya manis," balas Adista.


Raka tersenyum tipis, dia kemudian merangkul Adista. "Sedikit manis gak apa-apa. Yang penting gulanya tidak banyak-banyak biar kamu enggak diabetes."


Adista tersenyum, dia pukul kecil dada suaminya. Usai itu kedua tangan Adista melingkari pinggang suaminya itu. Lucu kalau Raka berbicara manis, tapi Adista menghargai ketika suaminya berusaha merangkai kata manis untuknya.