Staycation With Boss

Staycation With Boss
Kembali ke Jakarta



Sayangnya Staycation dan sekaligus Honeymoon antara Raka dan Adista harus berakhir. Sebenarnya, Raka bisa memperpanjang dua hari lagi. Akan tetapi, ketika Seninnya langsung bekerja pastilah terasa capek. Untuk itu, Raka memutuskan untuk menyudahi Staycationnya, nanti kalau ada liburan dan waktu memungkinkan lagi, dia akan mengajak Adista untuk liburan bersama lagi.


Sekarang keduanya kembali menaiki privat jett dan akan segera tiba di Jakarta. Mungkin karena kelelahan karena kemarin keduanya menikmati peraduan beberapa kali sehari sehingga usai lepas landas tadi Adista tertidur. Ya, Adista tertidur dengan mengapit lengan suaminya.


Raka juga tak keberatan. Justru Raka beberapa kali tersenyum sendiri melihat Adista yang tidur sangat pulas.


"Pasti hari ini kamu capek banget, Sayang. Mengingat dahsyatnya kemarin di mana sepanjang hari kita bergumul bersama, kamu pasti kelelahan. Namun, itu sangat baik untuk kemajuan hubungan kita berdua," kata Raka dalam hati.


Kalau memikirkan capek setelahnya pasti Raka tahu istrinya sekarang sangat capek. Sementara Raka justru sangat bugar. Tidak merasakan capek sama sekali. Wajah Raka pun lebih cerah karena mendapat asupan vitamin yang menyebarkan hormon dophamine ke seluruh tubuhnya.


Hingga akhirnya penerbangan siang itu sekarang membawanya kembali ke Ibukota. Dari udara terlihat kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Di bandara Halim Perdana Kusuma nanti privat jett itu akan landing. Lantaran mau landing, Raka membangunkan Adista.


"Sayang, bangun dulu yuk. Sudah mau landing. Kita sudah di atas kota Jakarta," kata Raka dengan menepuk perlahan lengan istrinya.


Merasa dibangunkan, Adista pun membuka kelopak matanya. Wanita itu menguap sesaat dan kemudian menatap Raka. Mungkin terlalu lelap sampai tangan Raka terkena kepala dan helai-helai rambut Adista, tercetak jelas di lengannya.


"Aku tidur lama ya, Mas?" tanya Adista perlahan.


"Iya, sejak take off, kamu ngebiarin aku gabut sendiri loh," balas Raka.


"Selama aku tidur, Mas Raka ngapain aja?" tanya Adista.


"Puas mandangin kamu yang tidur. Kamu kelelahan yah?"


"Iya, sekarang baru kerasa capeknya. Untung masih ada akhir pekan, aku bisa istirahat dulu sebelum Senin kembali bekerja," kata Adista.


"Baiklah boleh. Yang penting, harus deket-deket aku," balas Raka.


Adista tersenyum saja. Dia juga memilih dekat dengan Raka. Cinta memang ketika sudah menyapa bisa mengubah seseorang yang semula benci menjadi nyaman. Cinta ketika sudah menyapa bisa memberikan kenyamanan tersendiri.


"Deket-deket kamu berbahaya, Mas. Nanti yang ada aku gak istirahat malahan aneh-aneh lagi," balas Adista.


"Kan sudah halal untuk satu sama lain. Lagian di La Plazza Hotel, kita tetap harus menjaga jarak," balas Raka.


"Iya, tidak nyaman kalau sampai staff yang lain tahu, Mas."


Hingga akhirnya pesawat itu mengurangi ketinggiannya di udara, menukik, dan berputar. Sama seperti biasa, Adista berpegangan erat di tangan suaminya. Namun, sekarang sudah tidak marah atau juga perlu menjaga jarak. Adista juga tidak menuduh bahwa suaminya itu tengah modus. Yang ada Adista justru senang dekat-dekat dengan suaminya.


"Masih merasa takut?" tanya Raka.


"Iya, masih takut. Walau gak setakut dulu," balas Adista.


Raka kemudian tersenyum dan mengacak gemas puncak kepala istrinya itu. "Padahal tidak perlu takut. Selama ada aku, jangan takut," balas Raka.


"Makasih, Mas ...."


Kini ketinggian pesawa di udara semakin berkurang hingga akhirnya, roda-roda pesawat mulai berjejak di tanah, dan kecepatan begitu tinggi. Hingga Adista memejamkan matanya. Pegangannya di lengan suaminya juga semakin kencang. Setelah itu, begitu privat jett sudah mendarat sempurna barulah pegangan Adista lebih longgar. Mata yang semula terpejam pun, kini sudah membuka. Sementara Raka masih senyam-senyum sendiri. Kalau keberatan, tentu saja tidak. Raka justru merasa senang bisa bersentuhan seperti ini dengan istrinya sendiri.


Setelah itu, Raka mengajak Adista keluar. Dia sendiri yang mengemudikan mobilnya dan mengajak Adista untuk kembali ke apartemennya.


"Aku mau mandi dan istirahat yah, Mas," kata Adista begitu mereka sudah tiba di apartemen.


"Duh, kalau mandi bareng bisa-bisa justru lebih dari mandi dong," balas Adista.


"Yuk, berendam aja berdua."


Raka mengisi bath up dengan air hangat dan bath bomb dengan aroma Sea Butter. Dia mengajak Adista untuk berendam dan merilekskan dirinya. Air hangat bisa menyegarkan dan menghilangkan capek. Usai ini, tinggal istirahat pasti lebih enak.


"Yuk," ajak Raka.


"Malu, Mas. Janji yah, berendam saja," balas Adista.


"Iya, kita berendam saja kok. Janji, gak aneh-aneh. Aku tahu kamu juga kelelahan kok," balas Raka.


Sekarang, keduanya benar-benar berendam di bath up, dengan posisi Adista ada di depan Raka. Terlihat Raka yang berinisiatif menggosok punggung istrinya itu, sesekali membelainya. Hal yang sama Adista lakukan juga dengan menggosok punggung suaminya.


"Kamu mulai nyaman denganku?" tanya Raka.


"Iya, dulu rasanya aku sangat tidak suka, sekarang aku nyaman," balas Adista.


"Aku senang jika kamu semakin nyaman denganku. Senang rasanya menghabiskan banyak waktu berdua seperti ini," balas Raka.


Usai itu, Adista sedikit menoleh ke belakang untuk menatap wajah suaminya. "Orang kantor curiga enggak yah Mas, soalnya kita cuti barengan?"


"Curiga kenapa? Aku justru ingin segera mempublikasikannya," balas Raka.


"Ya kan membuat tidak nyaman," balas Adista.


Raka kemudian berpikir. Yang Adista katakan ada benarnya juga. Kalau mereka mengambil cuti di tanggal yang sama selama beberapa kali justru staff dan karyawan di La Plazza bisa curiga. Kalau sudah curiga, pernikahan mereka juga akan diketahui para staff yang lain.


"Kalau akhirnya tersebar ya sudah, Sayang. Bagaimana lagi, kan sudah halal. Pernikahan kita juga resmi secara hukum dan agama," balas Raka.


"Merusak nama dan reputasi Mas Raka tidak? Aku hanya takut kalau berdampak ke bisnisnya Mas Raka."


Yang dipikirkan oleh Adista juga adalah nama besar dan posisi suaminya. Terlebih suaminya adalah Direktur Utama, pastilah nanti banyak gunjingan dari para pegawai mengenai hubungan keduanya.


"Aku sih siap menghadapinya. Sebab, aku sendiri tidak akan mungkin melangkah sejauh ini kalau tidak memikirkan risikonya," kata Raka sekarang.


"Berarti kalau Mas Raka digunjingkan karena menikahi pegawai rendahan sepertiku tidak apa-apa?" tanya Adista.


"Iya, tidak apa-apa. Tenang saja, aku akan menghadapimu."


Adista sedikit menengadahkan wajahnya, dia berusaha menatap wajah suaminya. Ya, bisa Adista lihat wajah penuh kesungguhan dari suaminya. Tidak banyak orang yang akan mencintai orang lain tanpa kesungguhan sebesar ini.


"Jangan takut akan apa pun juga. Aku akan menghadapinya," balas Raka.


"Makasih Mas Raka," balas Adista.


"Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Aku tidak akan mencintaimu tanpa kesungguhan sebesar ini. Aku serius."


Raka menutupnya dengan memeluk tubuh istrinya. Sekarang, Raka sangat serius. Tidak mungkin semua risiko dia ambil, jika cinta dan perasaannya kepada Adista tidak sungguh-sungguh.