Staycation With Boss

Staycation With Boss
Bertemu Rayyan Lagi



Semalam Raka menjadi lega bisa jujur dengan Adista. Selain itu, Raka juga menyampaikan ada kalanya dia ingin egois. Dia ingin Adista hanya miliknya saja. Akan tetapi, dengan kondisi Rayyan yang tidak stabil pastilah itu berdampak juga kepada hubungan keduanya.


"Mas Raka boleh egois kok ... itu tandanya Mas Raka tak ingin membagiku dengan siapa pun. Aku juga akan bertindak hati-hati. Setidaknya aku tahu bagaimana kondisi Rayyan. Nanti kalau berhadapan dengannya, aku akan menjaga jarak," kata Adista.


"Kalau bertemu Rayyan lagi, mungkinkah bahwa cinta di hatimu bisa kembali lagi tumbuh?" tanya Raka.


Selain itu, Raka memiliki kekhawatiran jika nanti bertemu Rayyan lagi, bisa saja Adista kembalu suka dengan Rayyan. Sungguh, Raka tidak ingin itu terjadi. Raka ingin perasaan Adista yang baru tumbuh untuknya, akan selamanya menjadi miliknya.


"Aku akan menjaga hati dan cintaku hanya untuk Mas Raka," balas Adista.


Raka menghela napas panjang. Dia akan berusaha untuk mempercayai Adista. Sembari terus berharap di dalam hatinya bahwa perasaan baru yang notabene baru Adista miliki untuknya tak akan terkikis oleh apa pun. Sebab, Raka sendiri sangat mencintai Adista dan menginginkan Adista juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Ada kesedihan tersendiri ketika kamu baru mengakui perasaanmu, lalu ingatan Rayyan hilang seperti ini. Aku takut kalau kamu akan kembali mencintai Rayyan," aku Raka.


Adista mengurai dekapannya dan menatap wajah suaminya. "Aku akan selalu mencintai Mas Raka," katanya.


"Janji? Bisa?"


"Ya, janji."


Raka mendekap Adista lagi. Sekarang giliran Raka yang membawa kepala Adista bersandar di dadanya. Raka mengusapi puncak kepala hingga punggung istrinya. Kali ini keduanya memang harus bertindak hati-hati, tapi walau begitu akan tetap mengukuhkan hati.


...🍀🍀🍀...


Beberapa Hari Kemudian ....


Di La Plazza Hotel, sekarang Raka tengah mengecek saja bagian ruangan di hotel. Setelah itu, dia memilih duduk sebentar di Lobby. Niat hatinya siapa tahu nanti bisa melihat Adista keluar dari ruangannya. Siang itu, rasanya Raka sangat rindu dengan istrinya. Walau sudah beberapa ini bersama dan kembali tidur seranjang. Akan tetapi, Raka masih berharap bisa curi-curi pandang kepada istrinya itu.


Namun, bukan Adista yang dia lihat, melainkan Rayyan yang datang dan memasuki lobby. Melihat Kakaknya duduk di sana, Rayyan pun segera menyusul kakaknya itu.


"Kak," sapa Rayyan.


"Ray, kamu sama siapa?" tanya Raka.


"Sama Papa. Cuma Papa ada urusan sebentar. Aku memilih menunggu di sini. Kakak gak ada kerjaan? Tumben hanya duduk-duduk di sini," tanya Rayyan.


"Ada kerjaan. Banyak malahan, Kakak hanya duduk sebentar sebelum kembali ke ruangan Kakak lagi. Mau ikut ke ruangan Kakak?" ajak Raka.


Rayyan tampak tersenyum, tapi arah pandangannya mengarah ke bagian office. Sisa-sisa ingatan Rayyan menyimpan kenangan bahwa Tatanya bekerja di La Plazza Hotel. Tujuan utama Rayyan datang ke La Plazza Hotel adalah ingin bertemu dengan Tata.


"Cari siapa, Ray?" tanya Raka walau sebenarnya Raka tahu bahwa Rayyan mencari Adista.


"Oh, tidak Kak. Aku hanya seperti melihat seseorang yang aku kenal," kilah Rayyan.


Akhirnya Rayyan memilih mengikuti Kakaknya untuk ke ruangannya. Walau sebenarnya Rayyan bisa juga mengunjungi pusat Gym dan juga kafe yang ada di bagian hotel itu. Akan tetapi, Rayyan memilih untuk mengikuti Raka.


Begitu juga dengan Raka yang merasa lebih lega ketika Rayyan mengikutinya. Setidaknya dengan cara itu, Rayyan mungkin saja tidak akan bertemu dengan Adista. Namun, bagaimana kala dari sisi berseberangan kedua kakak adik itu melihat Adista yang tengah berjalan ke arahnya.


"Tata," kata Rayyan dengan wajah penuh senyuman. Akhirnya yang dia cari sekarang berada di depan mata.


Sementara Raka berusaha menahan. Walau begitu, hatinya tetap saja merasa tidak nyaman. Raka berharap Adista bisa menempatkan dirinya dengan baik, membuktikan bahwa Adista akan menjaga cintanya.


"Siang, Pak Raka," sapa Adista dengan mengangguk. Sebagai mana karyawan biasanya yang menyapa atasannya. Itu memang selalu dilakukan Adista setiap kali bertemu suaminya di hotel.


"Tata, kamu Tata kan?" tanya Rayyan. Bahkan excitednya, Rayyan mengambil beberapa langkah untuk lebih dekat dengan Adista.


Sementara Adista bersikap was-was. Dia bahkan memilih satu langkah mundur ke belakang. Rasanya di hati sudah tidak ada lagi getaran saat bertemu Rayyan. Itu artinya memang rasa itu sudah tidak ada. Sorot mata Adista justru beberapa kali menatap suaminya.


"Aku Adista, bukan Tata," jawabnya.


"Iya, aku tahu. Adista Maharani dan aku memanggilmu Tata," balas Rayyan.


Raka berusaha mengalihkan atensi adiknya itu. Setidaknya Raka melihat ketidaknyamanan di wajah Adista. Lebih baik, Raka melakukan tindakan yang lain.


"Ayo, Ray. Kamu jadi ke ruanganku tidak? Biarkan Adista bekerja karena sekarang masih waktunya bekerja," ajak Raka.


"Kak, kamu kan Direktur Utama hotel ini, boleh enggak aku mengajak Tata minum kopi? Lima belas menit saja, Kak. Boleh yah?"


Rayyan meminta layaknya seorang anak. Dia berusaha kakaknya akan mengabulkan apa yang dia mau. Sebab, Rayyan rindu dengan Tata nya. Dia ingin lebih lagi bertemu dengan sosok yang masih menghuni hatinya.


"Ray, ini masih jam bekerja. Aku tidak akan mengistimewakan seorang staff hanya karena kamu mengenalnya," balas Raka.


"Ayolah, Kak. Kali ini saja. Toh, Kakak juga tahu alasanku sembuh adalah Tata," balas Rayyan.


Raka menghela napas. Dia kembali berada di tahap yang sulit. Sebab, Rayyan berusaha terus dan mengatakan bahwa dia ingin sembuh hanya karena Tata.


"Sepuluh menit saja, aku akan memberi waktu sepuluh menit. Ingat, Ray. Usai ini tidak akan ada lagi kelonggaran," balas Raka.


Akhirnya Rayyan tersenyum. Dia sangat berterima kasih kepada kakaknya. Lalu, tangan Rayyan hendak meraih tangan Adista untuk menggandengnya, tapi Adista menolak.


"Tidak, Ray," balas Adista.


"Ayo, temenin aku minum kopi," ajak Adista.


Adista hanya berjalan mengikuti Rayyan ke kafe. Walau begitu sorot matanya menatap Raka. Ada anggukan samar yang dilihatkan Raka, hingga akhirnya Adista merasa harus menjaga kepercayaan suaminya.


"Tata, akhirnya setelah begitu lama, aku bisa melihatmu. Aku kangen, Ta," kata Rayyan.


"Ray, apakah kamu lupa? Kita sudah putus. Sudah tidak ada hubungan apa pun di antara kita," balas Adista.


"Tidak, aku tidak menganggapnya. Bagiku, kamu selalu sama, Ta. Perasaanku juga selalu sama," balas Rayyan.


Adista menghela napas panjang. Sifat seperti apa ini, keras kepala atau kekerasan hati? Adista merasa menghadapi seorang yang berkepala batu. Membuat Adista jengah seketika.


"Aku masih yakin, kamu hanya beralibi bahwa sudah putus denganku," balas Rayyan.


"Bukan alibi, Ray. Melainkan itu adalah fakta," balas Adista.


Rayyan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia percaya itu hanya alasan Adista saja.


"Ta, mau jalan-jalan denganku akhir pekan nanti?"


"Tidak bisa, Ray."


Adista terus berusaha menolak. Dia tidak suka dengan sikap seperti ini. Berhadapan dengan Rayyan justru membuat Adista benar-benar tidak nyaman. Sikap Rayyan terlihat begitu berbeda, membuat Adista tidak nyaman. Berbeda dengan Raka yang selalu bisa menenangkannya.