
Akhir pekan setelahnya, Adista dan Raka mengundang keluarga dari Adista untuk bermain ke rumah baru mereka. Sebelumnya, Adista sudah bertanya terlebih dahulu kepada suaminya apakah boleh kalau Bapak dan Ibu datang ke rumahnya? Rupanya Raka memperbolehkan sehingga akhir pekan ini, Pak Gusti dan Bu Ratih serta Desta datang ke rumah baru mereka.
Sebagai keluarga yang amat sederhana dan melihat rumah baru Raka dan Adista tentu saja keluarga Adista menjadi begitu takjub. Walau begitu, Raka sangat sabar kepada keluarga mertuanya itu.
"Ini rumah apa gedung sih?" tanya Pak Gusti dengan mengamati rumah mewah tiga lantai itu.
"Rumah, Bapak ...."
"Ini besar banget, Raka ... mirip hotel," balas Pak Gusti lagi.
Menurut Pak Gusti, rumah baru itu malahan mirip dengan hotel. Sebab, kalau disebut rumah juga kelihatan sangat indah dan mewah. Dengan tiga lantai yang menjulang tinggi, rumah itu justru terlihat seperti hotel. Begitu juga dengan furniture yang ada di dalam rumah baru itu terlihat sangat indah.
"Iya Mas ... ini sih kayak hotel. Hotel yang dulu kita menginap dulu Mas Raka," kata Desta.
Raka kemudian tersenyum. Dia mengusap perlahan puncak kepala adik iparnya itu. "Ini rumah, Desta. Kalau liburan sekolah, Desta boleh menginap di sini. Ada kamar juga yang bisa Desta tempati," kata Raka.
"Wah, mau Mas ... Desta mau menginap kapan-kapan," balasnya.
Adista tersenyum karena suaminya itu tampak sabar dan sangat tulus. Kepada Desta, Raka juga terlihat menyayangi adiknya itu. Reaksi yang ditunjukkan keluarganya memang berlebihan, tapi sebenarnya itu alamiah untuk keluarga yang tidak pernah melihat kemewahan seperti ini.
"Silakan diminum," kata Mbok Darmi yang menjadi ART di rumah itu.
Raka memang memutuskan menggunakan asisten rumah tangga saja yang akan memasak, menyuci pakaian, dan membersihkan rumah. Semua itu, Raka pilih karena istrinya sedang hamil. Selain itu, rumah itu terlalu besar. Kalau semua dikerjakan sendiri pastilah akan membuat Adista kecapekan.
"Makasih," balas Bu Ratih dan lainnya.
"Ada pembantunya juga yah, Mas ... wah, enak banget dong," kata Desta lagi sekarang.
"Ada, Desta. Biar Mbak Adis enggak kecapekan. Kan Mbak kamu juga sedang hamil, tidak boleh terlalu capek-capek," balas Raka.
Bu Ratih menganggukkan kepalanya. Menurut Bu Ratih, Raka begitu meratukan putrinya. Padahal kalau hamil dipakai untuk bergerak dan bersih-bersih rumah, asal tidak terlalu berat, juga tidak masalah.
"Kamu begitu meratukan Adista, Nak Raka," kata Bu Ratih.
"Sudah sepantasnya Adista mendapatkan yang terbaik, Ibu," jawab Raka.
"Terima kasih, Nak Raka ... Bapak dan Ibu sudah senang melihat kalian hidup mandiri dan kecukupan," kata Pak Gusti sekarang.
Bagi Raka meratukan istrinya sendiri adalah kewajiban yang harus dia penuhi. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya selagi dia bisa. Sebab, Raka merasa bahagia ketika bisa membahagiakan istrinya itu.
Setelah itu, Raka mengajak room tour keluarga istrinya. Menunjukkan beberapa ruangan yang ada di rumah itu mulai dari ruang tamu, dapur, kamar tamu, taman, dan kolam renang. Sementara untuk kamar pribadi mereka tidak perlu Raka tunjukkan karena kamar mereka adalah hal yang privasi. Tidak perlu diketahui oleh orang lain.
"Iya, Mas ... ini sih gedung. Hotel. Bagus banget," kata Desta dengan menunjukkan rasa kagum.
"Jauh-jauh-jauh lebih indah dari rumah Desta loh," kata Desta sekarang.
Mendengar apa yang dikatakan Desta membuat Raka kepikiran juga dengan rumah mertuanya. Sebab, rumah mertuanya sangat sederhana. Luas tanah yang kecil dan juga bangunannya sangat sederhana. Raka memikirkan suatu saat kelak ingin melakukan sesuatu untuk mertuanya.
"Jangan begitu, Desta. Bagaimana pun kita bersyukur masih memiliki rumah untuk berteduh dari panas dan hujan. Banyak orang-orang yang tidak memiliki rumah, atau hanya tinggal di rumah kardus bahkan kolong jembatan. Kita jauh lebih bersyukur," balas Pak Gusti kepada Desta.
Inti pelajaran yang ingin Pak Gusti sampaikan adalah walau rumahnya kecil dan sama sekali tidak mewah, tapi mereka bersyukur karena memiliki rumah atas nama mereka sendiri. Rumah yang bisa membuatnya berteduh dari panas dan hujan. Itu sudah jauh lebih cukup. Mensyukuri apa yang sekarang mereka miliki. Dengan bersyukur hidup lebih indah dan menjalaninya juga lebih ringan.
"Iya, Bapak ... Desta hanya berbicara saja kok," balasnya.
Usai itu, Raka mengajak Desta ke kolam renang. Rupanya Desta sedang tidak ingin berenang karena sedang pilek. Sehingga mereka hanya berdiri di dekat kolam renang saja.
"Wah, bahkan ada kolam renangnya juga. Indah banget, Mas."
"Desta bilang dulu ingin belajar berenang. Mbak Adista sudah punya kolam renang, jadi kalau libur boleh banget main ke sini yah. Berenang di sini," kata Raka.
"Makasih banyak yah, Mas Raka."
"Penting sekolah dulu, Desta. Pesannya Mas Raka dulu kamu harus sekolah yang rajin dan pinter supaya menjadi orang yang berhasil di masa depan," kata Bu Ratih seakan mengingatkan Desta.
"Iya-iya, Bu. Kan udah sekolah rajin. Aku juga tidak pernah membolos kok, Mas," kata Desta.
Raka kemudian mengangguk perlahan. "Bagus, yang rajin yah sekolahnya. Nanti kalau peralatan sekolah kamu ada yang rusak atau habis bilang ke Mas yah, nanti Mas Raka dan Mbak Dista belikan lagi untuk kamu."
"Tidak usah, Nak Raka. Desta mendapatkan bantuan dari pemerintah kok. Keluarga sejahtera itu ada bantuan untuk membeli peralatan sekolah," kata Pak Gusti sekarang.
Raka juga baru tahu bahwa ada bantuan dari pemerintah untuk keluarga yang kurang mampu. Jika benar mendapatkan bantuan, itu baik karena bisa meringankan keluarga mertuanya.
"Ada bantuan seperti itu yah, Pak?" tanya Raka.
"Ada, Nak Raka. Kemarin itu didata RT dan RW. Desta ini masuk di keluarga yang ... tidak mampu. Jadi, mendapatkan bantuan malahan dari pemerintah," balas Pak Gusti.
"Iya, ada bantuan itu kok, Mas. Dulu aku dapat juga waktu sekolah. Kan kalau sekolah di negeri sekarang gratis. Itu sudah sangat meringankan. Sekarang ada bantuan juga untuk keluarga miskin," kata Adista menambahkan.
Walau mengangguk, tapi Raka kasihan juga dengan keluarga mertuanya. Raka berasal dari keluarga kaya raya. Bahkan dulu sekadar sekolah atau kuliah tidak banyak yang dia pikirkan, cukup belajar saja. Namun, memang ada orang-orang yang diperhadapkan dengan realita hidup yang jauh lebih sulit.
"Nak Raka tidak perlu membantu kami lagi. Bahagiakan Adista saja. Itu sudah membuat Bapak dan Ibu bahagia," kata Bu Ratih.
"Benar Nak Raka. Orang tua melihat putrinya dibahagiakan oleh suaminya sudah bahagia. Jangan sakiti hati Adista," kata Pak Gusti.
"Pasti, Bapak. Raka tidak akan menyakiti hati Adista. Selama Raka hidup, justru Raka akan berusaha untuk selalu membahagiakan Adista," balas Raka dengan sungguh-sungguh.